Alhamdulillah. Biidznillah.
Pagi itu, pukul 07.53, saat saya sedang mengajar Matematika di kelas 8A, sebuah pesan WhatsApp (WA) masuk dari Pak Sahan As’ari, rekan guru di madrasah tempat kami mengabdi.
Beliau mengirimkan foto halaman Mimbar Pembangunan Agama (MPA) edisi Februari 2026, terbitan Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur.
Di bawah foto itu tertulis singkat:
“Selamat Pak Slamet… MPA bulan ini… (ikon jempol)”
Saya terdiam beberapa detik. Benar-benar tak menyangka.
Sejak mengirimkan cerpen tersebut di akhir Januari 2026, tak ada kabar apa pun dari redaksi. Biasanya, jika tulisan dimuat, ada paket suvenir yang diantar kurir ke rumah. Kali ini, tidak ada apa-apa.
Saya sudah pesimis. Saya kira cerpen itu ditolak.
Apalagi sebelumnya, cerpen yang sama pernah saya kirim ke Lembar Budaya Radar Bojonegoro, dan tidak dimuat. Dalam pikiran saya, mungkin ceritanya terlalu mistis, terlalu ganjil, atau tidak sesuai dengan selera redaksi.
Ternyata saya keliru.
Cerpen itu justru dimuat di rubrik cerpen MPA. Diam-diam, tanpa pemberitahuan, tanpa tanda-tanda.
Seketika rasa syukur membuncah.
Saya pun meminta Pak Sahan untuk memfotokan seluruh halaman yang memuat cerpen tersebut. Alhamdulillah, beliau berkenan.
Hari itu, di sela-sela papan tulis dan angka-angka aljabar, Allah mengirimkan kejutan kecil yang begitu berarti.
Sedikit Catatan
Bagi siapa pun yang sedang belajar menulis:
Jangan berhenti hanya karena satu penolakan. Jangan padam hanya karena satu pintu tertutup.
Jika ada ide, segera tulis. Rapikan. Kirimkan.
Soal dimuat atau tidak, itu wilayah Allah Swt., Dzat Yang Maha Mengatur segala sesuatu.
Tugas kita hanya bergerak. Dan terus menjaga niat.
Cerpen versi Website bisa dibaca di sini:
Bahu Laweyan
Kepohbaru, Ruang kenangan, 24 Februari 2026




_11zon.png)






.png)


Komentar
mufa
Alhamdulillaaah...
Baarokallaaah...
Tatkala pena menari sembari menggoreskan kalimat demi kalimat dengan rasa, maka hati mana yang tak dapat menerka akan makna yang dikandungnya? Tentu sedemikian mudahnya menjawab tanda tanya.
Ah, betapa indahnya makna yang terkandung dalam cerpen yang sengaja kubaca itu. Dapat kutangkap sebuah pesan penuh makna: sebuah keyakinan dan ketauhidan dalam bingkai kebaikan akan dapat mengalahkan kutukan yang dibalut keburukan.
Wallaahu a'lam.
Laraswangi
Terima kasih banyak, wahai saudaraku. Telah berkenan mampir dan berhenti sejenak untuk membaca coretan sederhanaku.
Cerpen itu adalah wujud kegelisahanku selama Ini.
Aku ingin menepis semua itu. Kebaikan akan mengalahkan keburukan.
Mari bersama menebar kebaikan dengan kata.
Tuliskan Komentar Anda!