Catatan Hari Kelima Puasa
Di zaman ketika bangunan masjid semakin megah dan suara pengeras semakin nyaring, kita perlu bertanya pelan-pelan: masihkah Allah benar-benar hadir di dalam hati kita?
Malam, usai tarawih, saya menyempatkan diri menggulir TikTok. Awalnya hanya ingin melihat-lihat sebentar. Namun jempol ini berhenti pada sebuah video ngaji online yang diunggah oleh akun @umaralfaruq1988.
Dalam video itu dibacakan kitab Tanbihul Ghofilin, halaman 112–113.
Disebutkan bahwa Sayyidina Ali bin Abi Thalib karramallahu wajhah pernah berkata:
“Akan datang kepada manusia suatu masa, yang tidak tersisa dari agama Islam kecuali hanya namanya saja. Tidak tersisa dari Al-Qur’an kecuali hanya tulisannya saja. Mereka memakmurkan, meramaikan, membangun, dan memperindah masjid-masjid mereka, padahal masjid itu sepi dari mengingat Allah Swt. Seburuk-buruk manusia pada zaman itu adalah para ulama mereka. Dari para ulama itulah muncul berbagai fitnah, dan kepada mereka pula fitnah-fitnah itu kembali.”
Saya terdiam.
Kalimat itu seperti tidak sedang berbicara tentang masa depan. Ia terasa begitu dekat. Terlalu dekat.
Hari ini masjid-masjid berdiri megah. Kubahnya menjulang. Lampunya gemerlap. Karpetnya tebal dan wangi. Pengeras suaranya jernih dan menggelegar. AC-nya sejuk.
Namun pertanyaannya bukan pada bangunannya. Pertanyaannya pada isinya.
Apakah benar masjid kita ramai karena Allah?
Ataukah ramai karena agenda?
Karena nama?
Karena dokumentasi?
Al-Quran kita cetak dengan tinta emas. Kita pajang di rak yang indah. Kita lombakan tilawahnya. Kita rekam murottalnya. Tetapi apakah ayat-ayat itu masih turun ke dada, atau hanya berhenti di bibir?
Saya tidak sedang menunjuk siapa-siapa. Termasuk diri saya sendiri.
Perkataan Sayyidina Ali r.a. itu seperti cermin. Dan cermin tidak pernah salah. Ia hanya memantulkan apa yang berdiri di hadapannya.
Yang lebih menggetarkan adalah bagian terakhirnya:
“Seburuk-buruk manusia pada zaman itu adalah para ulama mereka…”
Kalimat ini bukan untuk mencurigai para alim. Bukan pula untuk merendahkan orang-orang berilmu. Justru ini peringatan paling keras bagi siapa saja yang berbicara atas nama agama. Termasuk yang menulis seperti saya ini.
Ilmu tanpa keikhlasan melahirkan ambisi.
Ceramah tanpa hati melahirkan sensasi.
Agama tanpa adab melahirkan perpecahan.
Fitnah bisa lahir dari lisan yang seharusnya menuntun.
Malam semakin larut. Di luar, suara jangkrik bersahut pelan. Di kejauhan, lampu masjid masih menyala. Mungkin ada satu dua orang yang masih duduk bersandar pada tiang, menunggu kantuk datang.
Saya membayangkan masjid-masjid di kampung kecil—tidak megah, tidak bersuara keras, tetapi di dalamnya ada hati yang benar-benar tunduk. Ada orang tua yang tasbihnya tak pernah lepas. Ada anak kecil yang mengaji terbata-bata namun tulus. Ada imam yang suaranya biasa saja, tetapi air matanya jatuh tanpa diminta.
Barangkali yang Allah cari bukan ramainya. Bukan indahnya. Bukan viralnya. Tetapi hidupnya.
Dan di sebuah desa seperti Laraswangi—yang pagi harinya masih berkabut dan sore harinya beraroma tanah basah—agama tidak memerlukan panggung yang tinggi. Ia cukup tumbuh pelan di dada orang-orang sederhana yang takut pada dosa, malu kepada Allah, dan rindu pulang dalam keadaan bersih.
Mungkin zaman yang disebut Sayyidina Ali itu akan datang. Mungkin juga ia telah berjalan perlahan di sekitar kita.
Tugas kita bukan menghakimi zaman. Tetapi menjaga hati agar tidak ikut kosong ketika masjid terlihat penuh.
Simorejo, 23 Februari 2026

_11zon.png)









.png)


Komentar
Tuliskan Komentar Anda!