Catatan Hari Pertama Puasa Ramadhan
Ramadhan tahun 1447 H ini, Azimatun Faiqotuz Zahro berusia 8 tahun 9 bulan 22 hari. Azim, panggilan akrabnya, saat ini duduk di kelas II MI Islamiyah Kepoh. Ia tampak riang gembira menyambut datangnya Ramadhan. Dengan penuh semangat, ia bertekad untuk ikut berpuasa sehari penuh.
Hari pertama sahur berjalan lancar. Ia mudah dibangunkan. Meski masih menahan kantuk, ia tetap makan dengan tekun. Bahkan sebelum selesai makan, ia sudah bertanya tentang waktu imsak. Ia pun berpesan agar tidak ada yang makan di depannya nanti, supaya ia tidak tergoda.
Ya, bagi Azim, puasa masih tahap belajar. Belajar menahan diri untuk tidak makan dan tidak minum. Namun, itu saja sudah menjadi prestasi luar biasa baginya.
Sebagaimana Azim, sejatinya puasa adalah sarana mendidik hawa nafsu agar terkendali. Ia ibarat mendidik anak kecil yang membutuhkan disiplin agar tidak manja dan liar. Dengan menahan lapar, haus, dan emosi sejak fajar hingga magrib, manusia melatih hati (nurani) untuk mengambil alih kendali hidup—bukan diperbudak oleh keinginan perut dan syahwat.
Berikut beberapa poin penting mengenai puasa dan pengendalian nafsu:
Pertama, Nafsu seperti anak kecil.
Nafsu cenderung menginginkan kesenangan. Jika terus-menerus dituruti, ia akan semakin manja. Namun jika dididik dengan puasa—dengan latihan menahan diri—ia akan belajar patuh.
Kedua, Sarana pendidikan jiwa.
Puasa bukan untuk mematikan nafsu, melainkan menjinakkannya. Mengarahkannya menuju nafsu muthma’innah—jiwa yang tenang dan tunduk kepada Allah.
Ketiga, Latihan pengendalian diri.
Puasa membiasakan manusia untuk tidak diperalat oleh keinginan duniawi. Ia melatih disiplin, kejujuran, kesabaran, dan keikhlasan.
Keempat, Meredam sumber kemaksiatan.
Puasa efektif menahan dua sumber nafsu utama: perut dan kemaluan, yang kerap menjadi pintu tergelincirnya manusia.
Pada akhirnya, puasa menggeser fokus hidup dari sekadar memenuhi kebutuhan fisik menuju peningkatan ketakwaan dan penyucian jiwa.
Dan hari ini, di hari pertama Ramadhan 1447 H, Azim sedang belajar itu semua—dengan caranya yang sederhana. Belajar menahan diri. Belajar sabar. Belajar kuat.
Barangkali, kita yang sudah dewasa justru perlu belajar kembali darinya.
Simorejo, 19 Februari 2026











.png)


Komentar
Tuliskan Komentar Anda!