Bulan suci Ramadhan tinggal menghitung hari. Hingga artikel ini ditulis, kurang empat hari lagi (jika awal Ramadhan jatuh pada 8 Februari 2026), atau kurang lima hari lagi (jika dimulai pada 9 Februari 2026).
Ramadhan adalah bulan yang sangat istimewa. Banyak hati merindukan kehadirannya. Ia bukan sekadar bulan puasa, melainkan bulan cahaya, bulan ampunan, dan bulan turunnya rahmat Allah Swt.
Dalam kitab Durrotun Nasihin halaman 9 karya Syaikh Utsman bin Hasan al-Khaubawi, dijelaskan beberapa keistimewaan Bulan Suci Ramadhan. Salah satunya adalah kisah tentang dua cahaya dan dua kegelapan.
Dikisahkan, Allah Swt. berfirman kepada Nabi Musa a.s.:
“Sungguh Aku telah memberikan kepada umat Nabi Muhammad saw. dua cahaya, agar dua kegelapan tidak membahayakan mereka.”
Nabi Musa a.s. pun bertanya,
“Wahai Tuhanku, apakah yang dimaksud dua cahaya itu?”
Allah Swt. menjawab:
“Cahaya Bulan Ramadhan dan cahaya Al-Quran.”
Nabi Musa a.s. kembali bertanya,
“Apakah yang dimaksud dua kegelapan itu?”
Allah Swt. menjawab:
“Kegelapan di dalam kubur dan kegelapan pada hari kiamat.”
Betapa agungnya karunia ini. Umat Nabi Muhammad saw., umatnya Muhammad, diberi dua sumber cahaya: Ramadhan dan Al-Quran.
Ramadhan melatih jiwa untuk tunduk, membersihkan hati dari kotoran dosa, dan melembutkan nurani.
Al-Quran menerangi akal, membimbing langkah, serta menjadi petunjuk dalam setiap urusan.
Jika dua cahaya ini benar-benar kita sambut dan kita hidupkan, maka insya Allah dua kegelapan pun akan sirna. Kubur menjadi taman, bukan lubang kesepian. Hari kiamat menjadi hari harapan, bukan hari ketakutan.
Ramadhan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga. Ia adalah kesempatan mengisi hati dengan cahaya, sebelum kita benar-benar memasuki gelapnya liang lahat.
Masihkah kita menunda untuk menyalakan cahaya itu?
---
Di Desa Laraswangi, ketika senja turun pelan dan suara azan magrib menggema dari surau kecil di ujung jalan, langit sering berwarna jingga keemasan. Cahaya itu lembut. Tidak menyilaukan. Tapi cukup untuk membuat orang sadar: hari hampir selesai.
Begitulah Ramadhan.
Ia datang tidak dengan gemuruh, tetapi dengan cahaya yang halus. Ia mengetuk hati yang barangkali sudah lama berdebu oleh kesibukan, oleh kecewa, oleh dosa-dosa yang kita anggap sepele.
Dua cahaya telah Allah siapkan: Ramadhan dan Al-Quran.
Pertanyaannya bukan lagi “apa keistimewaannya?”, tetapi: sudahkah kita membuka diri untuk diterangi?
Jangan-jangan kegelapan kubur bukan karena sempitnya liang lahat,
tetapi karena kita enggan membawa cahaya sejak di dunia.
Jangan-jangan hari kiamat terasa menakutkan,
karena kita terlalu sering memadamkan Al-Quran dalam hidup kita sendiri.
Ramadhan tinggal menghitung hari.
Mungkin ini Ramadhan yang biasa.
Mungkin juga ini Ramadhan terakhir.
Di Laraswangi, angin malam sering berbisik pelan di antara pepohonan.
Seakan mengingatkan: cahaya tidak akan datang kepada hati yang menutup pintunya sendiri.
Maka sebelum benar-benar gelap, sebelum kita benar-benar sendiri di dalam tanah, mari kita sambut Ramadhan dengan jiwa yang siap diterangi.
Karena siapa tahu, inilah kesempatan terakhir untuk pulang membawa cahaya.
Simorejo, 14 Februari 2026
Hujan lebat hingga kini masih belum reda.
Masih tersisa gerimis kecil dan dingin menyelimuti diri yang ringkih ini.
_11zon.png)

_11zon_(1).png)








.png)


Komentar
Tuliskan Komentar Anda!