Laraswangi - Setiap zaman punya bahasanya sendiri. Jika dulu perempuan menulis diari lalu menyimpannya di laci, hari ini sebagian dari mereka menatap kamera—mengabadikan wajah, suara, dan potongan hidup—lalu mengunggahnya ke ruang bernama media sosial.
Selfie dan TikTok, bagi banyak orang, sering disederhanakan sebagai gejala narsisme. Seolah perempuan yang gemar menampilkan diri adalah mereka yang haus pujian, dangkal, dan kehilangan nilai. Padahal, psikologi mengajarkan kita satu hal penting: perilaku manusia jarang sesederhana penilaian kita.
Di balik satu jepretan kamera, sering kali tersembunyi kebutuhan yang sangat manusiawi: ingin diakui.
Psikologi sosial menyebut pengakuan sebagai kebutuhan dasar. Manusia ingin dilihat, didengar, dan dirasakan keberadaannya. Dalam dunia digital, pengakuan itu hadir dalam bentuk yang paling instan: like, komentar, dan jumlah tayangan. Ketika angka-angka itu muncul, otak melepaskan dopamin—rasa senang yang membuat seseorang merasa, walau sebentar, bahwa dirinya berarti.
Bagi sebagian perempuan, kamera bukan sekadar alat pamer. Ia adalah cermin digital. Di sanalah mereka bertanya diam-diam: “Aku ini siapa?” “Aku cukup baik, cukup cantik, cukup layak untuk disukai?” Media sosial menjadi ruang untuk membentuk dan menguji identitas diri—sesuatu yang dalam psikologi perkembangan disebut sebagai proses pencarian jati diri.
Tak bisa dimungkiri, media sosial juga menawarkan kendali. Di dunia nyata, seseorang bisa dinilai tanpa ampun. Di dunia maya, ia bisa memilih sudut terbaik, mengulang pengambilan gambar, menghapus kegagalan. Ini bukan tipu daya, melainkan bentuk self-presentation—upaya manusia mengatur bagaimana dirinya dipahami orang lain. Bagi yang pernah terluka oleh penilaian sosial, kendali semacam ini terasa menenangkan.
Namun, di titik inilah kita perlu jujur dan waspada.
Ketika nilai diri sepenuhnya bergantung pada respons layar, saat kamera mati dan notifikasi sepi, hati bisa ikut runtuh. Apa yang awalnya menjadi sarana ekspresi perlahan berubah menjadi beban eksistensi.
Yang sering luput kita sadari: budaya digital hari ini memang mendorong semua itu. Algoritma menyukai wajah, rutinitas, dan kehadiran konstan. Perlahan, muncul rasa bersalah ketika tak mengunggah apa-apa. Seolah diam sama dengan hilang.
Karena itu, menyederhanakan kegemaran perempuan pada selfie dan TikTok sebagai masalah moral adalah kekeliruan. Yang lebih mendesak adalah membaca gejalanya dengan empati. Sebab, tidak semua yang sering menampilkan diri kehilangan harga diri; sebagian justru sedang mencarinya.
Maka, alih-alih mencibir, barangkali kita perlu bertanya:
Apakah di dunia nyata mereka sudah cukup didengar?
Apakah mereka memiliki ruang aman untuk menjadi diri sendiri tanpa kamera?
Pada akhirnya, teknologi hanyalah alat.
Yang menentukan sehat atau tidaknya adalah tempat kita menambatkan nilai diri.
Jika kamera menjadi satu-satunya cermin, kita akan rapuh.
Namun jika kamera sekadar medium, sementara harga diri bertumbuh dari iman, ilmu, relasi yang tulus, dan penerimaan diri—maka ia tak akan membahayakan jiwa.
Zaman boleh berubah.
Bahasa boleh berganti.
Namun tugas kita tetap sama:
menjaga agar manusia—terutama perempuan—tidak kehilangan makna dirinya hanya demi terlihat oleh dunia.
Simorejo, 07 Februari 2026
Bakda Ashar, menjelang Maghrib.
.png)

.png)








.png)


Komentar
Tuliskan Komentar Anda!