Catatan Perjalanan Ke Ngasem 1, Cah Ndeso, Gedung Megah, dan Kebanggaan Nahdliyin

Catatan Perjalanan Ke Ngasem 1, Cah Ndeso, Gedung Megah, dan Kebanggaan Nahdliyin

Laraswangi — Ada sebuah akronim yang lazim diucapkan orang Jawa tentang guru: “yen dina Minggu turu (jika hari Minggu, tidur). Ungkapan itu terdengar masuk akal. Hari Minggu adalah hari libur bagi siswa—dan tentu juga bagi guru. Hari untuk mengistirahatkan raga setelah enam hari beraktivitas tanpa henti. 

Namun, kelaziman itu sepertinya tidak sepenuhnya berlaku bagi kami—saya dan istri. Justru, hari Minggu kerap kami isi dengan berbagai kegiatan di luar rumah. Bukan karena tak ingin beristirahat, melainkan karena ada banyak ikhtiar kecil yang tetap harus dijalani. 

Buktinya, Minggu, 1 Februari 2026 lalu. Sejak pagi, saya menyempatkan diri ikut kerja bakti memperbaiki jalan menuju makam di dusun tempat kami tinggal. Sementara itu, istri memenuhi permintaan Azim: sekadar naik motor dan membeli es Mixue di Baureno. Tentu saja, semua itu kami lakukan setelah pekerjaan rumah dan rutinitas pagi selesai—memasak, mencuci, dan urusan domestik lainnya. 

Menjelang siang, tepat pukul 11.00 WIB, kami berdua berangkat mengendarai Vario Techno 125 menuju Ngasem. Tujuan kami adalah mengikuti Seminar Motivasi Qur’ani Nasional dalam rangka Wisuda Akbar PGTPQ Angkatan ke-9 Cabang Bojonegoro–Ngasem–Blora. 

Seminar tersebut menghadirkan narasumber Prof. Dr. K.H. Said Aqil Husin Al Munawar, M.A., Al-Hafidz, Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Acara dilaksanakan di Ballroom K.H. Hasyim Asy’ari, lantai 4 Gedung Penggerak Ekonomi Holding Koperasi BMT NU Ngasem. 

Perjalanan yang kami tempuh kurang lebih 50 kilometer, dengan waktu sekitar satu jam lebih sedikit. Rutenya cukup panjang: KepohbaruPohwatesProliman Kapas–Perempatan Ngraseh–Pasar Dander–Khayangan Api, hingga akhirnya memasuki wilayah Ngasem. 

Di tengah perjalanan, kami berhenti sejenak untuk menunaikan salat Zuhur di Masjid Asy Syuhada’, Jalan RajekwesiNgitekTanjungharjo, Kabupaten Bojonegoro. Usai salat, perjalanan kami lanjutkan kembali. Alhamdulillah, meski harus menerobos hujan yang cukup deras, kami tiba di lokasi dengan selamat. 

Sesampainya di sana, pandangan kami langsung tertuju pada sebuah gedung lima lantai yang tampak megah dan modern, dengan dominasi warna hijau, abu-abu, dan kuning. Keberadaan gedung ini terasa sangat istimewa, mengingat lokasinya berada di Jalan Raya KalitiduNgasem, Desa Dukohkidul—wilayah yang relatif jauh dari pusat Kota Bojonegoro. 

Memasuki gedung tersebut, kesan yang saya rasakan bukanlah berada di desa pinggiran, melainkan seolah berada di tengah kota besar. 

Area parkir kendaraan di lantai dasar terlihat sangat luas, berdampingan dengan tempat gym atau pusat kebugaran. Setelah memarkir motor, kami menuju lantai dua. Di lantai ini, tersedia berbagai fasilitas modern: swalayan, food courtbarbershop, pijat refleksi, hingga rumah cantik. Para petugas resepsionis menyambut dengan ramah, membuat suasana terasa hangat dan bersahabat. 

Setelah menunggu sejenak—istri membeli air mineral dan cokelat di swalayan—kami melanjutkan perjalanan menuju ballroom di lantai empat dengan menaiki lift. Rasanya tetap saja mengundang decak kagum: cah ndeso kini memiliki gedung megah lengkap dengan lift dan fasilitas berkelas. 

Sesampainya di depan pintu ballroom, panitia menyambut kami dengan ramah dan mengarahkan untuk mengisi daftar hadir peserta seminar. Saat memasuki ruangan, ballroom telah dipenuhi para ustaz dan ustazah wisudawan PGTPQ Yahqi, para orang tua dan wali, keluarga, serta peserta seminar. Suasana tampak penuh dan khidmat. 

Deretan kursi berbalut putih tersusun rapi, hampir seluruhnya terisi oleh peserta yang duduk tertib menghadap panggung utama. Langit-langit ruangan berornamen geometris berwarna biru memberi kesan luas dan sejuk, berpadu dengan pencahayaan terang yang merata ke seluruh sudut ballroom. Di bagian depan, sebuah layar besar (videotron) menampilkan banner acara dan rangkaian video kegiatan. 

Beruntung, meski kami datang agak terlambat, kami masih mendapatkan tempat duduk peserta seminar di deretan nomor dua dari depan. 

Sebagai warga Nahdliyin, saya pribadi turut berbangga hati. Kecamatan Ngasem, Bojonegoro, kini memiliki Gedung Penggerak Ekonomi Holding Koperasi BMT NU dengan fasilitas berstandar nasional. Kehadiran gedung ini bukan semata simbol kemajuan fisik, tetapi juga penanda ikhtiar ekonomi umat yang dikelola secara profesional, modern, dan tetap berakar pada nilai-nilai ke-NU-an. 

Di sinilah saya merasa: menjadi cah ndeso hari ini tak lagi identik dengan keterbatasan. Dengan kebersamaan, visi, dan kerja kolektif, desa mampu tumbuh, berdaya, dan berdiri sejajar—tanpa kehilangan jati diri. 

Simorejo, 04 Februari 2026 

Coretanku

Rezeki Anak Sudah Allah Titipkan

Rezeki Anak Sudah Allah Titipkan

Di setiap kesempatan, di mana pun dan kapan pun kita berada, selalu ada pelajaran yang bisa dipetik. Peristiwa-peristiwa kecil sering kali menyimpan

Advertisement