Laraswangi — Derasnya arus perkembangan kecerdasan buatan—atau yang biasa dikenal dengan Artificial Intelligence (AI)—tak lagi bisa dibendung. Ia datang bak air bah, semakin hari semakin deras. Kita tak lagi mampu sepenuhnya menghindar darinya, termasuk di dunia pendidikan.
Generasi Z justru tumbuh sangat akrab dengan AI, terlebih dalam proses belajar-mengajar. Bagi mereka, AI bukan sesuatu yang asing, melainkan telah menjadi bagian dari keseharian.
Kita tidak bisa sekadar melarang siswa menggunakan AI. Tugas kita sebagai guru bukan menutup pintu, melainkan mengarahkan.
AI ibarat pedang bermata dua. Jika berada di tangan yang tepat, ia dapat menjadi alat bantu belajar yang luar biasa. Namun, bila digunakan tanpa pendampingan dan kesadaran, alih-alih memberi manfaat, ia justru bisa “melukai”—bahkan mematikan proses berpikir anak-anak.
Dalam mengerjakan tugas, sebagian siswa kerap memilih jalan instan. Mereka enggan bersusah payah melalui proses. Yang dicari bukan lagi pemahaman, melainkan jawaban.
Refleksi ini berangkat dari pengalaman mengajar saya pada Sabtu, 31 Januari 2026.
Hari itu, saya mendapat jadwal mengajar di salah satu kelas VII tempat saya mengabdi, pada jam kelima dan keenam, tepat setelah istirahat pertama. Seperti biasa, saya membuka pelajaran, mengabsen siswa, lalu memeriksa hasil pekerjaan yang saya tugaskan sehari sebelumnya.
Dari 31 siswa di kelas tersebut, terdapat 7 (tujuh) siswa yang mengerjakan tugas operasi aljabar secara mandiri tanpa bantuan AI. Sebanyak 5 (lima) siswa tidak mengerjakan tugas. Sementara sisanya mengerjakan tugas dengan menggunakan alat bantu AI.
Ketika saya tanyai, jenis AI yang mereka gunakan beragam, di antaranya ChatGPT, Dola (Cici), Gemini AI, serta aplikasi matematika lainnya.
Tugas yang saya berikan saya ambil dari soal latihan dalam buku Lembar Kerja Siswa (LKS) yang mereka miliki. Tugas tersebut tergolong sederhana: dua soal operasi penjumlahan aljabar dan dua soal operasi pengurangan aljabar.
Langkah-langkah penyelesaian telah saya jelaskan pada pertemuan sebelumnya, dengan penjelasan yang pelan dan diulang-ulang.
Melihat kondisi tersebut, saya tidak serta-merta membahas soal-soal yang telah ditugaskan. Sebaliknya, saya memilih untuk memberikan penjelasan kepada siswa tentang manfaat dan mudarat penggunaan AI, dampak negatif ketergantungan terhadap AI, serta cara menggunakan AI secara bijak dalam proses belajar.
Pada akhirnya, AI hanyalah alat. Ia tidak pernah salah, juga tidak pernah sepenuhnya benar. Yang menentukan arah manfaatnya adalah manusia di baliknya. Sebagai guru, saya belajar bahwa tugas kami bukan mematikan kecanggihan, melainkan menyalakan kesadaran—agar di tengah kemudahan jawaban, anak-anak tidak kehilangan keberanian untuk berpikir.
Setelah nasihat tersebut saya sampaikan, siswa saya ajak untuk menyelesaikan tugas bersama-sama di papan tulis. Mereka saya minta maju satu per satu ke depan kelas, lalu menuliskan langkah demi langkah penyelesaian operasi aljabar yang dikerjakan.
Ternyata, mereka mampu dan memahami apa yang mereka kerjakan.
Usai kegiatan itu, saya kembali bertanya: mengapa mereka tetap menggunakan AI, padahal sebenarnya bisa mengerjakan sendiri? Jawaban yang muncul beragam. Ada yang takut salah. Ada pula yang mengaku ingin meringankan beban pikiran.
Salah satu siswa bahkan mengatakan bahwa ia mengerjakan tugas tersebut pada larut malam. Ketika saya tanyai apakah ada kesibukan tertentu, ia menjawab tidak—hanya bermain gim.
Kepohbaru, 31 Januari 2026
Bakda Isyak











.png)


Komentar
Tuliskan Komentar Anda!