Ngaji bareng Kang Hasyim, pemilik akun TikTok @kanghasyimas1
Laraswangi - Bakda subuh ini, saya menyimak kembali ngaji online Kang Hasyim As melalui video TikTok yang diunggah pada 1 Mei 2025. Dalam kajian tersebut, Kang Hasyim menyampaikan sebuah nasihat penting tentang enam perkara yang dapat merusak amal, sebagaimana termaktub dalam Kitab Nashoihul ‘Ibad karya ulama besar Nusantara, Syekh Nawawi al-Bantani.
Nasihat ini bukan sekadar peringatan lahiriah, melainkan tamparan halus bagi hati—bahwa rusaknya amal sering kali bukan karena sedikitnya ibadah, tetapi karena penyakit batin yang dibiarkan tumbuh.
Pertama, terlalu sibuk terhadap aib orang lain hingga lupa terhadap aib dirinya sendiri.
Seseorang menjadi rajin menilai, membicarakan, bahkan menghakimi kesalahan orang lain, sementara kekurangan dirinya sendiri tak pernah disentuh dengan taubat. Kesibukan semacam ini perlahan mematikan kesadaran diri dan mengeringkan ruh amal.
Kedua, hati yang keras.
Yaitu hati yang tidak mau menerima kebenaran, meski nasihat datang dari Al-Qur’an dan Sunnah. Hati yang keras sulit tersentuh, enggan tunduk, dan merasa paling benar. Dari sinilah amal kehilangan cahaya keikhlasan.
Ketiga, terlalu mencintai dunia.
Mencari dunia bukanlah kesalahan, karena dunia memang bekal menuju akhirat. Namun ketika cinta dunia berlebihan, ibadah menjadi ringan untuk ditinggalkan dan akhirat hanya hadir sebagai wacana. Dunia yang seharusnya di tangan, justru menetap di hati.
Keempat, tipis bahkan hilangnya rasa malu.
Rasa malu adalah cabang iman. Ketika rasa malu memudar, dosa dilakukan tanpa beban dan maksiat tak lagi terasa berat. Amal pun kehilangan penjaganya, sebab rasa malu adalah pagar pertama ketaatan.
Kelima, panjang angan-angan.
Banyak rencana dan keinginan, tetapi minim usaha dan amal. Waktu dihabiskan untuk menunda dan berharap umur masih panjang. Panjang angan-angan inilah yang sering membuat seseorang lalai dari kesempatan berbuat baik.
Keenam, menganiaya—baik kepada orang lain maupun kepada dirinya sendiri—secara terus-menerus.
Menganiaya orang lain merusak hubungan sesama, sedangkan menganiaya diri sendiri dengan maksiat dan kelalaian merusak hubungan dengan Allah. Keduanya sama-sama menggerogoti nilai amal.
Syekh Nawawi al-Bantani menegaskan dalam Nashoihul ‘Ibad, bahwa barang siapa terjerumus dalam enam perkara ini, maka amalnya menjadi rusak dan kosong—tampak banyak di hadapan manusia, tetapi ringan di sisi Allah.
Bakda subuh, ketika langit belum sepenuhnya terang dan hati masih mudah diajak jujur, nasihat ini terasa seperti cermin. Ia tidak menunjuk ke luar, melainkan pelan-pelan mengajak menunduk ke dalam diri.
Boleh jadi amal kita ada, ibadah kita berjalan. Namun barangkali, hati kita sedang lelah dan luka—keras tanpa sadar, cinta dunia tanpa merasa, panjang angan-angan tanpa langkah nyata.
Semoga Allah menghidupkan kembali hati kita, sebelum amal-amal itu benar-benar kehilangan ruhnya.
Dan semoga setiap subuh menjadi pintu untuk memperbaiki diri, bukan sekadar pergantian waktu.
Aamiin....
Simorejo, 27 Januari2026
Bakda Shubuh










.png)


Komentar
Tuliskan Komentar Anda!