Masjid Mungil dan Doa-Doa yang Besar

Masjid Mungil dan Doa-Doa yang Besar

Larawasngi - Suara khas qari’ melantunkan Surat Al-Waqiah mengalun lirih dari corong masjid. Disusul Syi’ir Tanpo Waton yang pelan namun menghunjam, memecah keheningan dan dinginnya sepertiga terakhir malam. Pada jam-jam ketika kebanyakan manusia masih terlelap, ayat-ayat Allah justru bangun lebih dulu, mengetuk hati-hati yang mau terjaga. 

Tak lama berselang, selawat tarhim berkumandang—seperti isyarat lembut dari langit bahwa waktu Subuh kian mendekat. Kurang dari lima menit lagi, manusia dipanggil kembali pada fitrahnya: berdiri menghadap Rabb semesta alam. 

Begitu tarhim berhenti, dalam hitungan detik suara khas Mbah Umbar, muazin tetap Masjid Nurul Islam, melantunkan azan. Suaranya sederhana, tanpa pengeras emosi, namun jujur dan utuh. Ia menghiasi langit Dusun Bulu Simorejo yang masih gelap, seolah menenun cahaya di antara sisa-sisa malam. 

Usai azan berkumandang, pintu-pintu rumah mulai terbuka. Orang-orang keluar perlahan, mengenakan baju, sarung, dan peci. Para ibu pun turut melangkah menuju masjid, menahan dingin pagi dengan langkah-langkah penuh niat. Tak ada yang tergesa, tak ada yang ingin dilihat orang—semuanya datang karena panggilan yang sama. 

Di sela waktu antara azan dan iqamah, sekitar lima menit lamanya, Mbah Umbar kembali melantunkan wirid dengan langgam khas zaman dulu. Nada itu terasa seperti doa yang diwariskan lintas generasi—tenang, sabar, dan bersahaja. Seolah mengajarkan bahwa beribadah tak selalu harus lantang; kadang cukup setia. 

Setiap hari, jamaah salat Subuh di masjid ini tak kurang dari empat puluh orang. Namun pagi itu, Ahad, 25 Januari 2026, tercatat 24 jamaah laki-laki dan 16 jamaah perempuan. Angka yang sederhana, tetapi setiap sujudnya menyimpan cerita hidup, harap, dan penyerahan yang tak pernah sama.


Masjid Nurul Islam berdiri di atas tanah wakaf keluarga almarhum Mbah Suwadi, seluas kurang lebih 350,29 meter persegi, dengan luas bangunan sekitar 129,06 meter persegi. Secara fisik, ia memang tidak besar. Namun pada dinding-dindingnya telah lama bertumpuk doa, air mata, dan harapan warga Dusun Bulu Simorejo. 

Pernah suatu ketika, seorang kiai yang mengisi pengajian di masjid ini menyebut Masjid Nurul Islam sebagai masjid mungil. Ya, memang mungil. Namun justru dari ruang yang terbatas itulah lahir ikhtiar-ikhtiar besar untuk memakmurkannya. Karena ukuran masjid tak pernah benar-benar ditentukan oleh luas bangunan, melainkan oleh kesungguhan hati para jamaahnya. 

Selain jamaah salat lima waktu—yang hukumnya fardu kifayah—masjid ini menghidupkan diri dengan majelis taklim setiap malam Kamisba’da Magrib. Kegiatan ini diasuh secara bergantian oleh Ustaz Muhammad Agus Wahyudi, S.Pd. (kitab Taisirul Kholaq), Ustaz Choyr Sudarmono, S.Pd. (kitab Fathul Qorib), serta Ketua Takmir (kitab Washiatul Mustofa). Kitab-kitab lama itu kembali bernapas, dibaca dan dipahami dalam konteks kehidupan hari ini. 

Setiap bulan, masjid ini juga menggelar Majelis Taklim Padhang Mbulan, diasuh oleh Kiai Mahrus, S.Pd.I. dari Brangkal, Kepohbaru, dan dilaksanakan pada tanggal lima belas Qamariyah. Ada pula khotmil Qur’an, kirim hadiah Fatihah untuk ahli qubur, serta tahlil kubra—pengingat bahwa hidup ini singkat dan kematian selalu dekat. 

Masjid Nurul Islam membawahi TPQ Nurul Islam, jamaah tahlil putra dan putri, serta Unit Pengumpul Zakat (UPZ). Ia mengelola zakat, infak, sedekah, dan tanah wakaf—menjadi simpul kecil yang mengikat urusan langit dan bumi. 

Dengan dua imam tetapsatu marbot, dan satu muazin, masjid ini terus dijaga denyutnya. Dari segi bangunan, ia sudah cukup representatif, bahkan telah memiliki lantai dua. Namun yang paling penting, masjid ini tak pernah sepi dari niat baik. 

Sementara itu, untuk pelaksanaan salat Jumat, terdapat lima khatib dan bilal yang bertugas secara bergantian, menjaga keteraturan dan kekhidmatan ibadah mingguan umat. 

Di tempat inilah, Subuh bukan sekadar pergantian waktu, melainkan latihan setia—tentang bagaimana manusia bangun, melangkah, dan bersujud, meski dunia masih memilih tidur. 

Bulu – Simorejo, 25 Januari 2026 

Bakda Subuh 

Coretanku

Rezeki Anak Sudah Allah Titipkan

Rezeki Anak Sudah Allah Titipkan

Di setiap kesempatan, di mana pun dan kapan pun kita berada, selalu ada pelajaran yang bisa dipetik. Peristiwa-peristiwa kecil sering kali menyimpan

Advertisement