Tiga Hal yang Sedikit Orang Mampu Selamat Darinya

Tiga Hal yang Sedikit Orang Mampu Selamat Darinya

Laraswangi - Dalam sebuangaji online yang disampaikan Kang Hasyim melalui akuTikTok @kanghasyimas1, dibahas tiga pesan penting dari ulama besar mazhab Maliki, Abu Bakar Muhammad bin Al-Walid At-Turthusi (w. 520 H), sebagaimana tertuang dalam kitaSirājul Mulūk. 

At-Turthusi menyebutkan, ada tiga hal yang sangat sedikit orang mampu selamat darinya. Bukan karena hal itu haram secara mutlak, melainkan karena besarnya godaan dan tipisnya kewaspadaan manusia ketika berhadapan dengannya. 

Pertama, bersahabat dengan penguasa 

Pesan ini bukan larangan total untuk berhubungan dengan penguasa. Namun, ia adalah peringatan keras. Sebab, kedekatan dengan kekuasaan sering menuntut kompromi terhadap kebenaran. Perlahan, lidah menjadi tumpul, hati menjadi takut, dan keberanian berkata benar kian menipis. 

Tak sedikit orang akhirnya membenarkan yang salah demi rasa aman, jabatan, atau fasilitas. Dalam tradisi ulama klasik, kekuasaan dipandang sebagai ujian paling berat bagi kejujuran dan integritas. 

Dalam konteks ini, Kang Hasyim mengutip pernyataan Prof. Mahfud MD: 

“Jangankan manusia, malaikat saja, kalau masuk politik, berteman dengan pemerintahan, itu bisa jadi iblis.” 

Tentu, pernyataan ini bukan untuk menggeneralisasi. Tidak semua yang dekat dengan kekuasaan pasti tergelincir. Namun, risikonya sangat besar dan godaannya nyata. 

Kedua, mempercayakan rahasia kepada perempuan 

Pesan ini kerap disalahpahami sebagai bentuk perendahan terhadap perempuan. Padahal, yang dikritik At-Turthusi adalah sifat manusiawi, bukan jenis kelamin. Secara psikologis dan sosial, manusia memiliki kecenderungan emosional dan relasional. Rahasia mudah terbawa ke ranah perasaan, cerita, atau keinginan untuk berbagi. 

Dalam konteks sosial masa lalu, kebocoran rahasia sering berujung pada fitnah, konflik, bahkan runtuhnya kehormatan dan nama baik. 

Inti pesannya jelas: rahasia hanya layak dipercayakan kepada orang yang benar-benar kuat amanahnya, siapa pun dia. 

Ketiga, minum racun hanya untuk eksperimen 

Ini adalah kiasan yang sangat tajam. Ia menggambarkan sikap mencoba keburukan dengan alasan ingin tahu. Menguji maksiat, bahaya, atau dosa dengan dalih: “sekadar coba-coba.” 

Padahal, sekali racun masuk ke tubuh, tidak selalu tersedia penawar. Begitu pula dalam kehidupan moral dan spiritual. Ada kesalahan yang tidak memberi kesempatan kedua. 

Pesan ini menegaskan: jangan bermain-main dengan sesuatu yang sudah jelas membinasakan, baik secara fisik maupun akhlak. 

 

Sebagai informasi, 

Abu Bakar At-Turthusi dikenal sebagai ulama yang tegas dalam memberikan nasihat politik dan moral. Karyanya, Sirājul Mulūk, yang berarti “Pelita bagi Para Penguasa”, berisi panduan etika kekuasaan dalam Islam: tentang keadilan, amanah, rasa takut kepada Allah, bahaya cinta dunia, serta peringatan keras terhadap ulama yang menjilat kekuasaan. 

Tiga pesan ini terasa tetap relevan hingga hari ini. Ia mengingatkan kita bahwa keselamatan hidup bukan ditentukan oleh keberanian mencoba, melainkan oleh kebijaksanaan menjaga jarak dari sumber kebinasaan. 

 

Simorejo, 22 Januari 2026 

Bakda Subuh 

Coretanku

Rezeki Anak Sudah Allah Titipkan

Rezeki Anak Sudah Allah Titipkan

Di setiap kesempatan, di mana pun dan kapan pun kita berada, selalu ada pelajaran yang bisa dipetik. Peristiwa-peristiwa kecil sering kali menyimpan

Advertisement