Di setiap kesempatan, di mana pun dan kapan pun kita berada, selalu ada pelajaran yang bisa dipetik. Peristiwa-peristiwa kecil sering kali menyimpan hikmah besar—asal kita mau berhenti sejenak untuk merenung. Dari sanalah tumbuh rasa syukur atas nikmat Allah yang selama ini kita terima.
Seperti halnya kemarin, Selasa, 24 Februari 2026. Usai jamaah Ashar, sembari menunggu waktu berbuka puasa—ngabuburit sederhana bersama keluarga—saya berkesempatan menemani istri dan tentu saja Azim, menjenguk seorang teman guru yang sedang sakit.
Dengan motor Vario 125 merah, kami menempuh jarak kurang lebih lima kilometer. Sesampainya di rumah beliau, kami disambut hangat dan penuh kekeluargaan. Alhamdulillah, beliau sudah tampak membaik dan bisa duduk bersama kami untuk berbincang ringan.
Sakitnya ternyata disebabkan pola makan yang kurang teratur. Kesibukan kuliah dan pekerjaan membuat waktu makan sering terabaikan. Mendengar itu, saya jadi teringat masa-masa kuliah dulu. Bahkan setelah menikah pun, saya masih beberapa kali terserang tifus—gara-gara terlalu sibuk dengan pekerjaan sekolah hingga sering terlambat makan.
Dalam perjalanan pulang, saya sempat bercanda kepada istri,
“Kebanyakan makan jadi gemuk atau sakit. Kurang makan juga sakit. Hehe…”
Kami tertawa kecil. Tapi di balik canda itu, ada pelajaran tentang menjaga keseimbangan—antara amanah pekerjaan dan menjaga kesehatan sebagai titipan Allah.
Pelajaran lain yang kami petik datang dari kisah keluarga teman kami itu. Ia anak ketiga dari empat bersaudara: tiga perempuan dan satu laki-laki. Anak pertama menamatkan pendidikan sampai SMA, lalu menikah. Anak kedua laki-laki, mondok belasan tahun, lalu setelah selesai dinikahkan oleh kiainya. Anak ketiga menyelesaikan kuliah. Dan si bungsu kini masih duduk di kelas sebelas Aliyah.
Orang tua mereka hidup sederhana. Namun, dengan kesederhanaan itu, mereka mampu menyekolahkan, memondokkan, dan menguliahkan keempat anaknya.
Di situlah hati saya terdiam.
Saya teringat nasihat Kiai Maksum Alief: sebagai orang tua, jangan pernah menjadikan biaya sekolah atau mondok anak sebagai beban yang menakutkan. Sebab sejatinya, setiap anak telah Allah titipi rezekinya masing-masing.
Allah Swt. berfirman:
وَلَا تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُمْ مِنْ إِمْلَاقٍ ۖ نَحْنُ نَرْزُقُكُمْ وَإِيَّاهُمْ
“Dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan. Kami akan memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka.” (QS. Al-An’am: 151)
Dan dalam ayat lain:
وَلَا تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُمْ خَشْيَةَ إِمْلَاقٍ ۖ نَحْنُ نَرْزُقُهُمْ وَإِيَّاكُمْ ۚ إِنَّ قَتْلَهُمْ كَانَ خِطْئًا كَبِيرًا
“Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. Kamilah yang akan memberi rezeki kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar.” (QS. Al-Isra’: 31)
Betapa Allah menenangkan hati para orang tua lewat ayat ini. Rezeki anak bukan semata hasil hitungan logika manusia. Ia sudah tercatat, sudah dijamin, sudah Allah siapkan jalannya.
Tugas kita hanyalah berikhtiar, mendidik, dan tidak berputus asa.
Sore itu, perjalanan lima kilometer terasa seperti perjalanan batin yang lebih jauh. Dari sakit menuju sehat. Dari cemas menuju tawakal. Dari hitung-hitungan dunia menuju keyakinan pada janji Allah.
Di antara cahaya senja menjelang Maghrib, saya belajar lagi satu hal:
Anak bukan beban kehidupan. Mereka adalah amanah—dan bersama amanah itu, Allah titipkan pula rezekinya.
Simorejo, 25 Februari 2026
Bakda Shubuh.





_11zon.png)





.png)


Komentar
Tuliskan Komentar Anda!