Ketika Tekad Mengalahkan Lapar

Ketika Tekad Mengalahkan Lapar

Catatan Kedua Puasa Ramadhan (2)

Hari pertama puasa, Azim sukses melaluinya. Meski dalam perjalanannya penuh drama kecil yang menggemaskan.

Pukul sembilan pagi, ia sudah mulai mengeluh lapar. Beruntung, ibunya dengan penuh kesabaran mendampinginya, menenangkan, sekaligus memberinya penguatan hingga keluhan itu bisa terlewati dengan baik. Menjelang azan Zuhur, ia kembali mengeluh lapar dan merasa tubuhnya agak berat. Namun lagi-lagi, ibunya sukses memberinya motivasi, sehingga ujian kecil itu dapat dilalui.

Dalam percakapannya sore hari, menjelang berbuka, Azim mengajak ibunya untuk ngabuburit. Ia ingin membeli ini-itu. Bahkan dengan polosnya ia berkata, “Makanan se-Pasar Kepoh mau saya beli semua.” Hehehe

Namun pada akhirnya, ia hanya meminta dibelikan kebab, kerupuk jengkol, dan kurma di Toko Buah Bazar Kepohbaru.

Azan Magrib pun tiba. Ia berbuka seolah-olah semua makanan akan dilahapnya. Namun setelah segelas air masuk ke tenggorokan, ia sudah merasa kekenyangan.

Kami pun mengapresiasi prestasi Azim yang berhasil berpuasa sehari penuh. Tahun lalu, saat masih duduk di kelas satu MI, ia sering hanya mampu berpuasa setengah hari. Tahun ini, alhamdulillah, ada peningkatan yang patut disyukuri.

Malam harinya, ia bersama ibunya ikut berjamaah Isya dan Tarawih di masjid. Dilanjutkan mengikuti majelis taklim yang diasuh Kiai Mahrus. Meski menahan kantuk, ia tetap bertahan hingga acara selesai. Usai pengajian, ia bersama teman-teman sebayanya mengerumuni Kiai Mahrus untuk meminta tanda tangan tugas sekolah.

Puasa memang terasa berat karena harus menahan lapar dan haus. Namun, jika ada niat dan tekad yang kuat, semua itu dapat dilalui. Bahkan Azim, bocah kecil polos itu pun berhasil menjalaninya dengan penuh semangat.

Di Laraswangi yang sederhana, di antara suara azan dan langkah kecil menuju masjid, seorang anak sedang tumbuh—pelan-pelan belajar tentang sabar, tentang tekad, dan tentang arti bertahan hingga akhir.

Simorejo, 20 Feruari 2026

Bakda Subuh

Coretanku

Rezeki Anak Sudah Allah Titipkan

Rezeki Anak Sudah Allah Titipkan

Di setiap kesempatan, di mana pun dan kapan pun kita berada, selalu ada pelajaran yang bisa dipetik. Peristiwa-peristiwa kecil sering kali menyimpan

Advertisement