Akhir bulan Sya’ban. Detik-detik menjelang Ramadhan kian terasa. Ada getar bahagia yang tak bisa disembunyikan dari wajah para santri TPQ Nurul Islam Bulu Simorejo. Seolah mereka tak sabar menyongsong bulan mulia, bulan penuh ampunan dan keberkahan.
Bukan hanya para santri. Wajah-wajah orang tua dan masyarakat pun memancarkan kegembiraan yang sama. Ramadhan selalu datang membawa rindu. Dan rindu itu terjawab dengan persiapan terbaik.
Kebahagiaan dalam menyambut Ramadhan bukanlah tanpa makna. Ia adalah manifestasi iman dan rasa syukur seorang hamba kepada Rabb-nya. Allah SWT berfirman:
“Katakanlah (Muhammad), ‘Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.’” (QS. Yunus: 58)
Dalam ayat lain, Allah SWT menegaskan kemuliaan bulan yang dinanti itu:
“…Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang benar dan yang batil)…”
(QS. Al-Baqarah: 185)
Setiap daerah memiliki cara tersendiri dalam menyambut Ramadhan. Beda tempat, beda tradisi, namun satu tujuan: mengagungkan bulan suci.
Di Bulu Simorejo, rangkaian kegiatan megengan dipusatkan pada Senin, 16 Februari 2026. Adapun rangkaian kegiatannya sebagai berikut:
Pertama, Khotmil Quran
Dilaksanakan secara berjamaah di serambi Masjid Nurul Islam. Dimulai malam Senin bakda Isya dan dilanjutkan hingga Senin sore bakda Ashar. Harapannya, keberkahan bacaan Al-Quran meliputi para pembaca dan seluruh masyarakat Bulu Simorejo.
Kedua, Ziarah Makam
Dilaksanakan pada Senin pagi oleh santri TPQ dan Madin Nurul Islam, didampingi para ustaz/ustazah serta beberapa orang tua yang berkesempatan hadir.
Tujuan ziarah kubur adalah mengambil hikmah dan pelajaran bagi peziarah, serta menghadiahkan doa bagi ahli kubur. Sebagaimana dijelaskan oleh Imam al-Ghazali dalam Ihya Ulumiddin, bahwa peziarah hendaknya tidak melalaikan doa untuk diri sendiri dan untuk almarhum yang diziarahi, serta tidak mengabaikan pelajaran yang bisa diambil dari kematian.
Kegiatan ini juga menjadi sarana pendidikan bagi para santri agar sejak dini memahami adab dan makna ziarah kubur.
Ketiga, Infak dan Hadiah Al-Fatihah untuk Ahli Kubur
Para jamaah diberi kesempatan untuk memberikan infak dan sedekah terbaik atas nama ahli kubur masing-masing. Nama-nama almarhum dituliskan di atas amplop sebagai bentuk niat dan doa yang dipanjatkan.
Tradisi ini menjadi pengikat batin antara yang hidup dan yang telah mendahului, serta mengajarkan nilai kepedulian dan keberlanjutan doa.
Keempat, Tahlil Kubro
Rangkaian kegiatan ditutup dengan pembacaan tahlil secara berjamaah bakda Maghrib di serambi Masjid Nurul Islam. Lantunan kalimat thayyibah menggema, menjadi doa bersama agar Ramadhan yang akan datang membawa keberkahan, keselamatan, dan ampunan bagi seluruh warga.
Megengan bukan sekadar tradisi. Ia adalah jembatan rasa—antara rindu dan harapan, antara yang hidup dan yang telah tiada, antara hamba dan Tuhannya.
Di ujung Sya’ban yang kian menipis, megengan bukan hanya soal rangkaian acara. Ia adalah jeda. Jeda untuk menengok diri.
Barangkali selama sebelas bulan kita terlalu sibuk mengejar dunia. Terlalu jarang duduk bersama Al-Quran. Terlalu sedikit menghadiahkan doa bagi orang tua yang telah lebih dahulu pulang. Terlalu sering menunda taubat.
Megengan seakan berbisik pelan, “Ramadhan sudah di depan mata. Sudahkah hatimu siap?”
Di serambi masjid yang sederhana itu, lantunan khataman, doa-doa ziarah, amplop-amplop berisi sedekah, dan gema tahlil kubra—semuanya bukan sekadar ritual. Ia adalah cara masyarakat menjaga ingatan: bahwa hidup ini sementara, dan Ramadhan adalah kesempatan.
Kesempatan untuk kembali.
Kembali merapikan niat.
Kembali membersihkan hati.
Kembali menguatkan tekad menjadi hamba yang lebih taat.
Seperti tanah Laraswangi yang selalu menerima hujan dengan sabar, semoga hati kita pun siap menerima derasnya rahmat Ramadhan. Tidak menolak, tidak mengeluh, tidak lengah.
Sebab Ramadhan bukan hanya tamu agung.
Ia adalah cermin.
Dan semoga ketika Ramadhan benar-benar datang, ia mendapati kita dalam keadaan siap disapa, bukan sekadar ikut meramaikan.
Allâhumma ballighnâ Ramadhân.
Ya Allah, sampaikan kami pada Ramadhan, dengan hati yang bersih dan jiwa yang lapang.
Simorejo, 16 Februari 2026



_11zon.png)

_11zon_(1).png)





.png)


Komentar
Tuliskan Komentar Anda!