Laraswangi — Entah mengapa, kelas 8F MTs Negeri 3 Bojonegoro selalu menjadi salah satu kelas yang menjadi sumber inspirasi saya dalam menulis.
Ada banyak artikel yang saya tulis dengan latar kelas yang dihuni oleh siswa-siswi yang nyantri di Pesantren Madrasah (Pesmad) Darul Fikri itu.
Salah satunya adalah cerpen berjudul “Hafalan untuk Ayah di Langit” yang berhasil dimuat di Majalah Mimbar Pembangunan Agama (MPA) edisi Desember 2025, terbitan Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) Jawa Timur.
Cerpen itu terinspirasi dari salah satu siswi kelas 8F. Saat menuliskannya, saya berada dalam kondisi yang sangat emosional. Air mata benar-benar menetes, dan saya sempat berhenti sejenak, menahan isak agar tulisan itu bisa saya selesaikan.
Kemarin, saya kembali menulis artikel berjudul Tiga Gelas Kopi untuk Kelas 8F yang saya unggah di blog pribadi saya, laraswangi.my.id. Tulisan itu lahir dari pengalaman saya mengajar di kelas tersebut.
Lagi-lagi, artikel itu saya tulis dengan penuh perasaan. Saya larut di dalamnya. Dan saya yakin, masih ada banyak pengalaman lain bersama kelas 8F yang kelak akan saya ceritakan.
Artikel yang satu ini, rupanya cukup banyak mendapatkan apresiasi dan testimoni.
Pagi tadi, di sela waktu istirahat kegiatan belajar mengajar (KBM), saya sengaja mampir sejenak ke gazebo Pesmad. Di sana, ada dua siswi kelas 8F yang sedang duduk.
Tiba-tiba, mereka menyampaikan rasa terima kasih kepada saya.
“Terima kasih banyak atas kopi dan cerpennya—maksud saya artikelnya—ya, Pak,” tutur salah satu dari mereka dengan suara lembut sambil duduk di samping saya.
“Oh ya? Kamu sudah baca?” tanya saya.
“Sudah, Pak. Saya membacanya sambil menangis,” jawabnya. Matanya tampak berkaca-kaca.
“Lho, kenapa?” selidik saya.
“Selama ini kelas 8F sering mendapat penilaian negatif. Namun Bapak berbeda. Baru kali ini kami merasa mendapat apresiasi dan pengakuan,” jelasnya polos.
Saya pun tertegun. Tenggorokan terasa tercekat. Kata-kata seolah menguap. Saya menahan diri sekuat mungkin agar air mata tidak jatuh di hadapan mereka.
Apa yang saya lakukan selama ini bukan tanpa alasan.
Pertama, setiap kali mengajar dan menatap wajah anak-anak kelas 8F, ingatan saya selalu kembali pada Saniyyatuz Zuhro, anak pertama kami, yang sejak kelas VII MTs sudah tinggal di ma’had. Hingga kini, saat duduk di kelas XII MA, ia masih mondok. Dan insyaallah, ketika kelak melanjutkan kuliah pun, ia akan tetap mondok.
Saya tahu betul bagaimana keluh-kesah siswa yang harus menjalani dua peran sekaligus: nyantri dan sekolah. Itu tidak ringan.
Pada masa-masa awal mondok, ia sering menangis dan mengeluhkan banyak hal: tentang teman, barang yang hilang, rasa gatal, hingga makanan yang sangat sederhana.
Ia pernah bercerita, hampir setiap hari lauk makannya hanya telur dadar yang sangat tipis dan tempe bacem. Di rumah, makanan itu justru termasuk yang paling ia hindari. Namun di ma’had, ia dipaksa belajar menerima keadaan.
Sakit, tidak nyaman, lapar, haus, lelah—semua harus dilalui.
Bahkan, pernah suatu hari ia tidak kebagian jatah makan. Seharian ia hanya bertahan dengan jajanan yang dibelinya di kantin sekolah. Nyaris satu hari penuh tanpa makan nasi.
Kedua, anak mondok itu istimewa.
Dalam sebuah video TikTok yang diunggah oleh akun Inisial Santri, ditampilkan foto Mbah KH. Anwar Mansur dari Lirboyo, Kediri, disertai kutipan pesan beliau:
“Zaman wis koyok ngene. Pesenku, nek duwe anak pondokno...”
(Zaman sudah seperti ini. Pesan saya, jika memiliki anak, arahkanlah ia untuk mondok).
Tidak banyak anak yang betah tinggal di pondok. Sebab, kata Kiai Ma’sum Alief dari Kedungpring, Lamongan, anak yang mondok itu seperti tinggal di penjara: hidupnya terikat aturan, dikekang, dan harus patuh pada tata tertib.
Namun justru dari ruang yang sempit itulah, kesabaran ditempa, karakter dibangun, dan jiwa dilatih untuk kuat menghadapi kehidupan.
Anak yang tinggal di pondok tumbuh dalam keterbatasan yang melatih ketahanan. Mereka terbiasa hidup dengan aturan, bangun lebih pagi, menata waktu, dan belajar mandiri sejak dini. Saat rindu rumah, sakit, atau tidak nyaman, mereka belajar menahan diri, mencari jalan keluar, dan bersandar pada doa. Dari situlah disiplin, kesabaran, dan kekuatan batin perlahan terbentuk.
Anak yang tidak mondok pun memiliki kelebihan: kedekatan emosional dengan keluarga dan pendampingan orang tua yang lebih intens. Namun pada anak pondok, kemandirian dan kedewasaan sering kali tumbuh lebih cepat, karena kehidupan sendirilah yang menempa mereka hari demi hari.
Mungkin karena itulah para kiai sepuh selalu berpesan:
“Zaman sudah seperti ini. Pesan saya, jika memiliki anak, arahkanlah ia untuk mondok.”
Bukan karena pondok menjanjikan kemudahan, melainkan karena di sanalah anak-anak belajar bertahan, merendah, dan menguat—bekal penting untuk menghadapi zaman yang kian keras.
Semoga menjadi bocah sing bejo Ndunyo akhirat, Le, Ndhuk... Aamin
Gazebo Pesmad Darul Fikri
24 Januari 2026










.png)

Komentar
Tuliskan Komentar Anda!