Laraswangi — Mendung putih menyelimuti langit di Pesantren Madrasah (Pesmad) Darul Fikri, MTs Negeri 3 Bojonegoro. Suasana tampak redup. Tanah masih basah, sisa gerimis semalam. Gedung Pesmad berdiri megah, diam membisu. Halamannya sepi, namun terasa damai. Hanya beberapa pekerja tampak membenahi sarana-prasarana yang perlu perbaikan.
Baju, celana, dan sarung para santri berjajar rapi di jemuran. Diam. Dedaunan pun tampak tenang, tak ada angin yang berembus.
Suasana itu kontras dengan ruang-ruang kelas yang berdampingan dengan gedung asrama putra. Gedung tersebut hanya dipisahkan pagar kawat. Dari dalam kelas terdengar riuh rendah siswa yang sedang belajar, juga suara para guru yang menjelaskan materi di depan kelas.
Namun, berbeda dengan kelas 8F.
Hari ini, Kamis, 22 Januari 2026. Saat saya memasuki kelas pada jam pertama, pukul tujuh tepat, seluruh siswa tampak lelah. Tak banyak suara. Mereka memilih diam ketika saya masuk. Hanya menjawab salam dan mengangkat tangan saat saya memanggil nama mereka satu per satu untuk absen.
Saya sangat memahami dan memaklumi kondisi kelas 8F yang hampir setiap hari seperti itu. Menurut saya, keadaan tersebut wajar. Sebab, seluruh siswa kelas 8F juga merupakan santri Pesmad Darul Fikri.
Malam hari mereka mengikuti rangkaian kegiatan mengaji. Siangnya, mereka harus kembali berbagi tenaga dan waktu untuk belajar di kelas.
Di wajah-wajah itu, saya melihat kantuk yang ditahan, mata yang berusaha terbuka, dan tubuh-tubuh remaja yang sedang belajar tentang disiplin dengan cara yang sunyi. Tidak ada keluhan. Tidak ada protes. Mereka duduk rapi, membuka buku, dan berusaha setia pada kewajiban.
Kelas saya buka dengan berbagi pengalaman pribadi. Saya mengajak mereka merenungi betapa cepatnya waktu berlalu. Rasanya baru kemarin kita merasakan atmosfer pergantian tahun. Tak terasa, kini sudah memasuki hari ke-22. Sebentar lagi Februari tiba.
Begitu pula keseharian kita. Baru saja selesai berjamaah Zuhur, berhenti sejenak, waktu Asar pun datang. Bergeser Magrib, Isya. Malam terasa singkat, namun Subuh kembali menyapa. Begitu seterusnya. Cepat.
Saya menyampaikan prinsip hidup yang saya yakini: agar hidup tidak stagnan dan berjalan di tempat, kita harus pandai memanfaatkan waktu.
Hidup hanya sekali. Maka nikmat hidup ini harus dimanfaatkan sebaik mungkin. Kita harus berusaha menjadi manusia yang baik. Agar hidup lebih bermakna, kita perlu berkarya dan berusaha memberi manfaat bagi orang lain.
Nabi Muhammad saw. bersabda, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”
Saya ceritakan kepada mereka, untuk mengisi hari-hari, saya memilih menulis hal-hal yang bermanfaat. Saya tuliskan di blog pribadi, lalu saya bagikan di media sosial.
Kelas hening. Tak ada satu pun yang bicara. Entah mereka menyimak, atau sedang menahan kantuk.
Kalimat motivasi saya tutup. Pembahasan saya lanjutkan ke materi himpunan. Saya mencoba memancing ingatan dan pemahaman mereka dengan beberapa pertanyaan, saya ajukan satu per satu. Hampir semuanya diam. Tak mampu menjawab. Hanya satu-dua siswa yang berani mencoba.
Melihat keadaan itu, saya berhenti menjelaskan. Lalu saya meminta dua siswa laki-laki untuk berdiri dan memesan empat gelas kopi hitam—agak pahit. Di kantin madrasah.
Mereka bingung. Mengira saya bergurau. Keduanya kembali bertanya, memastikan apakah saya benar-benar memesan empat gelas kopi.
“Iya, Satu gelas untuk saya. Tiga gelas untuk kalian dan teman-teman. Nanti saya yang bayar,” kata saya memastikan.
Tak lama, pesanan datang. Dua siswa membawa empat gelas kopi. Satu gelas menggunakan cangkir dan lepek. Tiga gelas lainnya menggunakan gelas plastik lengkap dengan sendok.
Kopi-kopi itu saya letakkan di hadapan siswa yang duduk di bangku paling depan. Mereka tak langsung meminumnya. Menoleh ke kanan-kiri. Seolah memastikan bahwa ini bukan mimpi atau candaan.
“Iya, silakan diminum. Bergantian saja. Upayakan semua kebagian,” kata saya lembut, meyakinkan.
Mereka pun menyeruput kopi panas itu bergantian menggunakan sendok. Semua—siswa laki-laki dan perempuan. Kecuali beberapa siswi yang memang tidak menyukai kopi.
Usai menyeruput kopi, perubahan terlihat jelas di wajah-wajah mereka. Mata mulai terbuka. Tubuh terasa lebih segar. Semangat perlahan kembali. Mereka pun siap mengikuti pelajaran.
Ini bukan sekadar kopi hitam.
Tiga gelas kopi itu adalah jeda.
Pengakuan bahwa lelah mereka nyata.
Bahwa kantuk mereka bukan tanda malas, melainkan sisa perjuangan semalam.
Gelas pertama mengajarkan tentang rasa pahit—bahwa hidup tidak selalu manis, namun tetap harus dijalani.
Gelas kedua tentang kebersamaan—kopi yang diminum bergantian, tanpa memilih siapa lebih dulu.
Dan gelas ketiga tentang kesadaran—bahwa tubuh yang segar dan jiwa yang hadir adalah syarat utama untuk belajar.
Setelah kopi itu habis, saya kembali bertanya.
Tentang himpunan.
Tentang contoh anggota dan bukan anggota.
Tangan-tangan mulai terangkat.
Suara-suara pelan mulai terdengar.
Mata-mata yang tadi redup, kini menatap papan tulis dengan lebih jujur.
Saya tersenyum.
Bukan karena mereka akhirnya bisa menjawab,
melainkan karena mereka kembali hadir—utuh sebagai pelajar.
Di meja guru, gelas kopi saya tinggal ampasnya. Dingin.
Namun hati saya hangat.
Pagi itu, kelas 8F mengajarkan saya satu hal penting:
sebelum menuntut anak-anak memahami pelajaran,
kita perlu lebih dulu memahami keadaan mereka.
Dan tiga gelas kopi hitam itu menjadi saksi kecil,
bahwa pendidikan tidak selalu dimulai dari buku,
melainkan dari empati.
Kedungsari, Kepoh, 22 Januari 2026


_11zon.png)








.png)


Komentar
Tuliskan Komentar Anda!