Gabut.
Kata itulah yang sering diucapkan Azimatun Faiqotuz Zahro ketika ia merasa bosan. Awalnya, saya belum begitu paham apa sebenarnya maksud kata gabut, juga dari mana Azim—panggilan kami—mendapatkannya. Namun satu hal bisa saya tangkap dengan jelas: ia sedang ingin melakukan sesuatu.
Rasa penasaran itu akhirnya membawa saya bertanya langsung kepada ChatGPT.
Secara umum, gabut berarti keadaan seseorang yang merasa bosan, tidak ada kegiatan, dan tidak tahu harus melakukan apa.
Sejak itu, saya diam-diam mengamati Azim. Menariknya, dari apa yang ia sebut sebagai kegabutan, justru lahir ekspresi yang kaya: bermain peran mikro dan bermain proyek.
Hari ini, Sabtu, (17/01/2026), di depan televisi, beralas tikar pandan, Azim memanfaatkan apa saja yang ada di sekitarnya. Kotak pensil, kotak tabungan uang, kipas angin portable, alat plong kertas, sekotak tisu, botol air minum, boneka kecil Kuromi, dan beberapa benda lain ia tata sedemikian rupa. Dalam imajinasinya, semua itu menjelma menjadi sebuah rumah.
Kotak pensil disulap menjadi tempat tidur tingkat. Boneka kecil Kuromi digerakkan seolah sedang menjalani aktivitas harian di rumah. Azim berbicara sendiri, menciptakan dialog, membangun cerita, dan menghidupkan dunia kecil yang sepenuhnya lahir dari imajinasinya.
Di titik itu saya tersenyum.
Ternyata gabut tidak selalu berarti kosong. Pada anak-anak, gabut justru sering menjadi pintu masuk kreativitas. Saat orang dewasa melihat kebosanan, anak-anak menemukan ruang untuk berimajinasi.
Barangkali, yang perlu kita lakukan bukan segera mengusir rasa gabut, melainkan hadir, mengamati, dan memberi ruang. Karena dari kebosanan yang dibiarkan tumbuh dengan aman, sering kali lahir dunia-dunia kecil yang penuh makna.
Di situlah saya belajar sebagai seorang ayah. Bahwa tugas saya bukan selalu menyediakan mainan baru atau jadwal yang padat, melainkan menyediakan kehadiran. Duduk di dekatnya, memperhatikan, dan tidak buru-buru mengintervensi imajinasinya. Sebab dalam dunia kecil yang ia bangun dari rasa gabut itu, Azim sedang belajar banyak hal: menyusun logika, mengolah emosi, dan mengenal dirinya sendiri. Dan saya—sebagai ayah—belajar satu hal penting: kadang yang paling dibutuhkan anak bukanlah hiburan, melainkan ruang dan rasa aman untuk tumbuh.
Kedungsari – Kepoh,
17 Januari 2026







.png)




.png)


Komentar
Tuliskan Komentar Anda!