Pesan Sementara dan Ingatan yang Ikut Menghilang

Pesan Sementara dan Ingatan yang Ikut Menghilang

Beberapa hari terakhir, saya mulai merasa kurang nyaman saat berkomunikasi melalui WhatsApp. Bukan karena isi percakapannya. Bukan pula karena orang-orang yang menghubungi saya. Namun, karena semakin banyak teman, wali murid, bahkan jamaah masjid yang mengaktifkan fitur “pesan sementara”. 

Ada yang mengatur pesan hilang dalam 24 jam. Ada pula yang 7 hari, 30 hari, bahkan 90 hari. Awalnya saya menganggap hal itu biasa saja. Sampai suatu ketika saya membutuhkan kembali informasi penting dari sebuah percakapan. Saya mencarinya ke sana kemari, membuka ruang chat satu demi satu, lalu tersadar: pesan itu sudah hilang. 

Di situlah saya mulai merenung. 

Teknologi memang terus berkembang. Fitur pesan sementara mungkin dibuat dengan niat baik: menjaga privasi, mengurangi penumpukan chat, atau memberi rasa aman bagi penggunanya. Dalam konteks tertentu, hal itu tentu tidak salah. Untuk obrolan santai, candaan ringan, atau percakapan yang memang tidak perlu disimpan, fitur itu mungkin terasa praktis. 

Namun persoalannya menjadi berbeda ketika digunakan dalam komunikasi yang mengandung amanah. 

Sebagai guru, pengurus madrasah, sekaligus bagian dari lingkungan masyarakat, saya sering menerima pesan yang bukan sekadar obrolan biasa. Ada informasi rapat, koordinasi kegiatan, jadwal ujian, data siswa, hingga keputusan penting yang sewaktu-waktu perlu dibuka kembali. Kadang hal kecil yang dikirim lewat chat justru menjadi penolong di kemudian hari. 

Ironisnya, di era digital seperti sekarang, justru banyak percakapan yang umurnya lebih pendek daripada ingatan manusia. 

Padahal, komunikasi bukan hanya tentang mengirim pesan. Komunikasi juga tentang menjaga jejak informasi. Sebab tidak semua hal cukup diingat oleh kepala. Ada amanah yang memang perlu disimpan oleh sistem. 

Saya kemudian membayangkan, bagaimana jika surat-menyurat zaman dahulu juga memakai konsep “pesan sementara”? Mungkin kita tidak akan pernah menemukan arsip perjuangan para ulama, surat-surat para pejuang, atau catatan penting yang hari ini menjadi pelajaran sejarah. 

Karena itulah, menurut saya, penggunaan fitur pesan sementara perlu ditempatkan secara bijak. 

Jika hanya untuk percakapan santai, silakan saja. Namun untuk urusan pendidikan, organisasi, kepanitiaan, atau kegiatan kemasyarakatan, rasanya lebih baik komunikasi tetap tersimpan. Bukan untuk mencari kesalahan orang lain, melainkan agar informasi tidak mudah hilang dan pekerjaan menjadi lebih tertata. 

Saya justru belajar, orang-orang yang rapi menyimpan informasi biasanya lebih siap mempertanggungjawabkan amanahnya. 

Dan mungkin benar, di zaman sekarang, tantangan kita bukan lagi kekurangan informasi. Tetapi terlalu mudah menghilangkan informasi yang sebenarnya penting. 

Entah kenapa, sejak fitur pesan sementara semakin sering digunakan, saya merasa satu hal: ternyata yang sementara bukan hanya pesannya. Kadang perhatian, tanggung jawab, bahkan kesungguhan dalam berkomunikasi juga perlahan ikut memudar. 

 

Laras Wangi, 17 Mei 2026 

Coretanku

Pesan Sementara dan Ingatan yang Ikut Menghilang

Pesan Sementara dan Ingatan yang Ikut Menghilang

Beberapa hari terakhir, saya mulai merasa kurang nyaman saat berkomunikasi melalui WhatsApp. Bukan karena isi percakapannya. Bukan pula karena

Advertisement