Malam Ketiga Ramadhan: Belajar dari Sahur

Malam Ketiga Ramadhan: Belajar dari Sahur

Catatan Ketiga Puasa Ramadhan

Malam ketiga Ramadhan, kegiatan Azimatun Faiqotuz Zahro masih sama seperti kemarin. Diawali dengan buka puasa bersama Ayah, Ibu, dan Nenek. Dilanjutkan salat Isya dan Tarawih berjamaah di Masjid Nurul Islam Bulu, Simorejo. 

Usai tarawih, ia bersama teman-teman sebayanya mengerumuni imam tarawih, Ustaz Abdus Salam, meminta tanda tangan untuk tugas sekolah. Setelah itu, ia mengikuti tadarus di masjid. 

Ada sedikit drama saat dibangunkan untuk makan sahur. Namun, ia tetap bangun, meski tampak sangat berat dan matanya masih sulit terbuka. Lagi-lagi, dalam hal ini ibunya sangat berperan. Meski Azim tampak mengantuk berat, dengan penuh kesabaran ibunya menyuapi makan. 

Di sela-sela makan sahur itulah, kami memberinya motivasi sambil bercerita. 

Pertama, tentang keberkahan sahur. 

Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah ﷺ: 

“Bersahurlah kalian, karena sesungguhnya dalam sahur itu terdapat keberkahan.” (HR. Bukhari dan Muslim) 

Keberkahan sahur mencakup ketenangan hati, kemudahan dalam menjalankan ibadah, serta kekuatan fisik untuk berpuasa seharian. Bahkan sahur dengan makanan sederhana, atau hanya seteguk air, tetap memiliki nilai ibadah dan pahala. 

Kedua, mendapat selawat dari Allah dan para malaikat. 

Rasulullah ﷺ bersabda: 

“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya berselawat kepada orang-orang yang bersahur.” (HR. Ahmad) 

Selawat dari Allah berarti limpahan rahmat, sedangkan selawat para malaikat bermakna doa dan permohonan ampunan. Ini menunjukkan bahwa sahur memiliki kedudukan istimewa di sisi Allah SWT. 

Ketiga, waktu sahur adalah waktu mustajab untuk berdoa. 

Sahur dilakukan di sepertiga malam terakhir, waktu yang dikenal sebagai saat paling mustajab untuk berdoa. Pada waktu itu, Allah SWT membuka pintu rahmat dan ampunan-Nya bagi hamba yang memohon dengan sungguh-sungguh. 

Dengan sahur, seorang muslim memiliki kesempatan besar untuk memperbanyak zikir, istigfar, dan doa sebelum memasuki waktu puasa. 

Keempat, melatih keikhlasan, kesabaran, dan kedisiplinan. 

Bangun sahur melatih keikhlasan dan kesabaran. Ketika seseorang rela meninggalkan kenyamanan tidur demi menjalankan sunah Rasulullah ﷺ, di situlah nilai ketaatan dan keimanan semakin kuat. 

Keutamaan sahur juga membentuk kedisiplinan waktu, yang sangat bermanfaat dalam menjaga konsistensi ibadah selama bulan Ramadhan. 

Di ujung sahur itu, ketika azan Subuh hampir menyentuh langit Bulu, Simorejo yang masih temaram, kami memandangi wajah kecilnya yang mulai segar setelah beberapa suap nasi. Mata yang tadi berat perlahan berbinar. Dalam hati, kami sadar, mendidik anak bukan sekadar menyuruhnya bangun atau menghabiskan makanan. Ada doa yang diam-diam kami titipkan di setiap suapan, ada harapan yang kami gantungkan di setiap kisah yang kami sampaikan. Semoga kelak, ketika ia dewasa dan kami mungkin tak lagi mampu membangunkannya untuk sahur, kenangan tentang keberkahan sahur di rumah sederhana ini tetap hidup dalam ingatannya—seperti embun pagi Bulu, Simorejo yang jatuh pelan, namun menumbuhkan kehidupan. 

Simorejo, 21 Februari 2026 

Bakda Subuh 

Coretanku

Rezeki Anak Sudah Allah Titipkan

Rezeki Anak Sudah Allah Titipkan

Di setiap kesempatan, di mana pun dan kapan pun kita berada, selalu ada pelajaran yang bisa dipetik. Peristiwa-peristiwa kecil sering kali menyimpan

Advertisement