Dari Anas bin Malik r.a., Rasulullah ﷺ bersabda bahwa barang siapa menghadiri majelis ilmu pada bulan Ramadhan, maka Allah SWT mencatat setiap langkah kakinya sebagai ibadah selama satu tahun, dan ia berada dalam naungan kasih sayang-Nya.
Riwayat ini termaktub dalam kitab Durrotun Nasihin karya Syaikh Utsman bin Hasan al-Khaubawi halaman 9.
Betapa agungnya keutamaan menghadiri majelis ilmu di bulan yang penuh berkah ini. Setiap langkah menuju masjid bukan sekadar gerakan kaki, tetapi jejak ibadah yang dicatat dan dilipatgandakan oleh Allah SWT.
Berdasarkan dawuh tersebut, takmir Masjid Nurul Islam Bulu Simorejo menjadwalkan beberapa kegiatan majelis taklim selama bulan Ramadhan sebagai bentuk ikhtiar memakmurkan rumah Allah.
Pertama, Menjelang Berbuka Puasa
Majelis taklim ini dilaksanakan setiap hari pukul 16.30 WIB, mengisi waktu menanti azan Magrib. Kegiatan ini terbuka untuk umum dan dapat diikuti seluruh jamaah.
Majelis diisi oleh:
Ustaz M. Agus Wahyudi, S.Pd.
Ustaz Choyr Sudarmono, S.Pd.
Ustaz Slamet Widodo, S.Pd.
Selain menambah ilmu, majelis ini menjadi ruang menenangkan hati, agar berbuka tidak sekadar membatalkan lapar dan dahaga, tetapi juga menguatkan iman dan takwa.
Kedua, Bakda Tarawih
Majelis taklim bakda Tarawih diasuh oleh Kiai Mahrus, S.Pd.I dari Brangkal, Kepohbaru. Dilaksanakan setiap Kamis malam setelah salat Tarawih di Masjid Nurul Islam Bulu Simorejo.
Kegiatan ini telah berjalan kurang lebih tiga tahun dan istikamah menjadi cahaya ilmu bagi warga sekitar.
Ketiga, Malam Nuzulul Quran
Pada malam 17 Ramadhan 1447 H, akan diadakan peringatan Nuzulul Quran sekaligus Majelis Taklim Padhang Mbulan. Kegiatan ini juga diasuh oleh Kiai Mahrus, S.Pd.I.
Momentum ini menjadi pengingat turunnya Al-Quran sebagai petunjuk hidup, sekaligus ajakan untuk kembali mendekat kepada Kalamullah.
Semua kegiatan tersebut merupakan upaya takmir untuk memakmurkan masjid warisan para sepuh di Dusun Bulu Simorejo tercinta.
Masjid bukan hanya tempat salat, tetapi tempat hati-hati yang rindu pada ilmu berkumpul. Di sanalah anak-anak belajar mengenal Tuhannya, para orang tua meneguhkan imannya, dan para pemuda menata masa depannya.
Ramadhan akan berlalu. Namun jejak langkah menuju majelis ilmu akan tetap tercatat.
Barangkali bukan seberapa lama kita duduk di dalamnya, tetapi seberapa dalam ilmu itu meresap ke dalam dada.
Monggo, kita makmurkan masjid.
Karena siapa tahu, dari satu langkah kecil menuju majelis ilmu, Allah siapkan naungan rahmat-Nya yang luas di hari ketika tiada lagi naungan selain naungan-Nya.
Dan di antara dinding masjid yang mulai menua itu, tersimpan jejak sujud para sepuh. Mereka yang dulu membangun dengan bata seadanya, dengan gotong royong, dengan doa yang tak pernah putus.
Barangkali tangan-tangan mereka sudah kembali ke tanah. Namun azan masih berkumandang. Lampu-lampu masih menyala. Dan Ramadhan tetap datang, mengetuk pintu-pintu rumah di dusun kecil ini.
Majelis taklim bukan sekadar jadwal kegiatan. Ia adalah tanda bahwa masjid itu hidup. Bahwa warisan itu tidak dibiarkan sepi. Bahwa generasi setelah para sepuh tidak sekadar menikmati bangunan, tetapi melanjutkan perjuangan.
Sebab memakmurkan masjid sejatinya bukan tentang ramainya suara, melainkan tentang hidupnya hati-hati di dalamnya.
Semoga setiap langkah menuju Masjid Nurul Islam Bulu Simorejo menjadi saksi. Saksi bahwa kita pernah berusaha menjaga cahaya itu tetap menyala.
Dan kelak, ketika Ramadhan hanya tinggal kenangan, semoga nama-nama kita pernah tercatat sebagai bagian dari orang-orang yang menghidupkan rumah Allah— walau hanya dengan duduk bersila, mendengar satu dua kalimat ilmu, lalu pulang membawa hati yang sedikit lebih terang.
Simorejo, 15 Februari 2026

_11zon.png)

_11zon_(1).png)







.png)


Komentar
Tuliskan Komentar Anda!