Pendengaran Kelelawar dan Kebijaksanaan Seorang Pemimpin

Pendengaran Kelelawar dan Kebijaksanaan Seorang Pemimpin

Kadang, pelajaran kepemimpinan tidak datang dari mimbar megah atau ruang pelatihan ber-AC. Ia justru hadir diam-diam, di perjalanan pulang, di sela obrolan santai, bahkan di dalam mobil yang melaju pelan menyusuri jalan sore. 

Sepulang mengikuti Workshop Penulisan Soal ASAS dan UAM di MAN 2 Bojonegoro, saya bersama empat rekan guru perempuan menumpang mobil Pak H. Pujiono, guru SKI MTs Negeri 3 Bojonegoro. Saya duduk di jok depan, berdampingan dengan beliau, sementara rekan-rekan guru lainnya berada di kursi belakang. 

Perjalanan itu kami isi dengan bincang ringan, hingga akhirnya obrolan mengerucut pada satu topik yang terasa dekat dengan keseharian kami: mengelola masjid. Kebetulan, kami sama-sama mendapat amanah sebagai ketua takmir di lingkungan tempat tinggal masing-masing. 

Kami saling berbagi pengalaman tentang pengelolaan keuangan, tata kelola sarana dan prasarana masjid. 

“Transparansi keuangan adalah syarat mutlak dalam mengelola keuangan masjid,” tutur beliau. “Karena itu uang milik jamaah.” 

Saya pun menyampaikan praktik yang berjalan di masjid tempat tinggal saya. Hampir setiap Jumat, sebelum pelaksanaan salat Jumat dimulai, diumumkan kondisi keuangan masjid, termasuk nama jamaah yang menitipkan amal jariah. Namun, kebijakan ini tak lepas dari beragam tanggapan. 

Sebagian jamaah berpandangan bahwa amal jariah tak perlu diumumkan—cukup antara diri dan Allah Swt. Sementara yang lain menilai pengumuman tersebut sebagai bentuk transparansi dan tanggung jawab takmir atas amanah jamaah. 

“Sudah sewajarnya pemimpin menjadi sasaran kritik dari masyarakat,” ujar Pak Pujiono, menenangkan sekaligus memotivasi. 

Lalu beliau menyampaikan sebuah kalimat sederhana, namun sarat makna: 

“Pimpinan itu harus punya pendengaran yang lebih sensitif dari kelelawar.” 

Jika ditafsir pelan-pelan, “pendengaran kelelawar” bukanlah soal mendengar suara keras, melainkan kepekaan terhadap isyarat kecil: 
keluhan yang tak terucap, keresahan yang hanya tampak dari nada bicara, kritik yang dibungkus canda, serta aspirasi yang sering kalah oleh rasa sungkan. 

Seorang pemimpin, dalam makna ini, bukanlah yang paling lantang berbicara atau paling cepat mengambil keputusan, melainkan yang paling mampu mendengar—bahkan ketika suara itu lirih, samar, atau sengaja disembunyikan. 

Islam sendiri menempatkan amanah kepemimpinan sebagai perkara besar.  

Rasulullah ﷺ bersabda: 

“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim) 

Hadis ini mengingatkan bahwa kepemimpinan bukan sekadar soal mengatur, tetapi tentang mendengar, memahami, dan menjaga amanah. Mendengar dengan telinga, meresapi dengan hati, lalu bertindak dengan kebijaksanaan. 

Barangkali, di situlah makna “pendengaran kelelawar” itu bersemayam: kepekaan yang lahir dari kerendahan hati, agar amanah tidak berubah menjadi petaka, dan kepemimpinan benar-benar menjadi jalan ibadah. 

 

Simorejo, 08 Februari 2026 

Bakda Shubuh 

Coretanku

Rezeki Anak Sudah Allah Titipkan

Rezeki Anak Sudah Allah Titipkan

Di setiap kesempatan, di mana pun dan kapan pun kita berada, selalu ada pelajaran yang bisa dipetik. Peristiwa-peristiwa kecil sering kali menyimpan

Advertisement