Uang Bukan Tujuan, Tapi Alat Perjuangan

Uang Bukan Tujuan, Tapi Alat Perjuangan

Laraswangi Pagi ini, selepas menyimak ngaji singkat Kang Hasyim melalui media sosial, hati terasa disentuh oleh satu pesan sederhana namun sangat dalam: pentingnya memiliki uang, bukan untuk bermegah-megahan, tetapi untuk menegakkan agama Allah Swt. dan menjaga kehidupan tetap lurus. 

Kang Hasyim mengutip sebuah hadits Nabi Muhammad saw. 

إذا كان في آخر الزمان لا بدَّ للناس فيها من الدراهم والدنانير، يقيم الرجل بها دينه ودنياه 

“Apabila telah datang akhir zaman, manusia tidak bisa tidak akan membutuhkan dirham dan dinar (uang). Dengan harta itu, seseorang dapat menegakkan urusan agamanya dan urusan dunianya.” 

(HR. At-Thabrani dalam kitab Al-Mu’jam al-Kabīr dan Al-Mu’jam ash-Shaghīr) 

Dalam penjelasannya, Kang Hasyim mengingatkan bahwa di akhir zaman, manusia hampir tidak mungkin terlepas dari kebutuhan terhadap harta. Uang menjadi sarana untuk bertahan hidup, menjaga kehormatan diri, dan sekaligus alat untuk berjuang di jalan kebaikan. 

Uang sebagai Sarana Menegakkan Agama 

Ketika seseorang memiliki kecukupan harta, ia bisa lebih leluasa dalam beribadah dan beramal. Dari harta itulah zakat ditunaikan, sedekah digulirkan, dakwah dikuatkan, dan keluarga dijaga agar tidak terjerumus pada jalan yang salah. Dalam konteks ini, uang tidak lagi berdiri sebagai simbol duniawi semata, melainkan wasilah (perantara) untuk menegakkan nilai-nilai agama. 

Kang Hasyim menekankan bahwa memiliki uang justru dapat menjauhkan seseorang dari sifat tamak. Sebab banyak ketamakan lahir bukan karena terlalu kaya, tetapi karena kekurangan yang tidak tertata dan keinginan yang tidak terdidik. Ketika kebutuhan dasar tercukupi, hati lebih mudah menerima nasihat, dan iman lebih mudah dijaga. 

Jalan Mendapatkan Uang: Bekerja yang Halal 

Namun, pesan penting berikutnya adalah cara mendapatkan uang itu sendiri. Salah satu jalan utama yang ditekankan Kang Hasyim adalah bekerja. Bekerja dengan sungguh-sungguh, penuh tanggung jawab, dan yang paling utama: pekerjaan itu harus halal. 

Halal bukan hanya tentang jenis pekerjaan, tetapi juga tentang cara menjalaninya. Kejujuran, amanah, tidak menipu, tidak merugikan orang lain, dan tidak melanggar batas-batas syariat adalah bagian tak terpisahkan dari kerja yang bernilai ibadah. 

Di sinilah bekerja tidak lagi sekadar rutinitas mencari nafkah, tetapi berubah menjadi ladang pahala. Setiap peluh yang jatuh, setiap tenaga yang dikeluarkan, jika diniatkan untuk menjaga diri dari kefakiran dan untuk menunaikan kewajiban kepada keluarga, maka ia tercatat sebagai amal. 

Antara Dunia dan Akhirat 

Kang Hasyim mengajak kita untuk bersikap adil terhadap dunia. Tidak membencinya secara berlebihan, tetapi juga tidak mencintainya tanpa batas. Dunia—termasuk uang—adalah titipan. Ia akan bernilai jika berada di tangan yang benar dan digunakan untuk tujuan yang benar. 

Bekerja keras bukan tanda lemahnya iman. Justru sebaliknya, iman yang matang mendorong seseorang untuk bertanggung jawab atas hidupnya, tidak menggantungkan nasib pada belas kasihan orang lain, dan tidak menghalalkan segala cara demi harta. 

Pada akhirnya, pesan Kang Hasyim mengajarkan kita satu keseimbangan penting: carilah dunia dengan cara yang halal, dan gunakanlah dunia untuk menguatkan jalan menuju akhirat. Uang bukan musuh agama, selama ia dicari dengan benar dan digunakan dengan benar. 

Semoga kita diberi kekuatan untuk bekerja secara halal, hati yang cukup untuk tidak tamak, dan kelapangan rezeki yang membawa kita semakin dekat kepada Allah Swt. 

Simorejo, 06 Februari 2026
Bakda Subuh

Coretanku

Rezeki Anak Sudah Allah Titipkan

Rezeki Anak Sudah Allah Titipkan

Di setiap kesempatan, di mana pun dan kapan pun kita berada, selalu ada pelajaran yang bisa dipetik. Peristiwa-peristiwa kecil sering kali menyimpan

Advertisement