Membeli, Membaca, dan Menghidupkan Buku

Membeli, Membaca, dan Menghidupkan Buku

Laraswangi - Sebuah buku lahir melalui proses panjang yang sering kali tidak terlihat oleh pembacanya. Penulis mengorbankan waktu, tenaga, bahkan pergulatan batin untuk merangkai gagasan menjadi bacaan yang utuh. Di belakangnya, ada editor yang menyempurnakan naskah, ilustrator yang memperindah tampilan, hingga penerbit dan percetakan yang memastikan buku itu sampai ke tangan pembaca. 

Ada banyak cara untuk mengapresiasi buku karya orang lain. Beberapa di antaranya ialah membeli buku sebagai bentuk dukungan langsung, membacanya hingga tuntas, memberikan ulasan positif di media sosial, serta merekomendasikannya kepada orang lain. Bentuk apresiasi lain yang tak kalah bermakna adalah mengirimkan pesan apresiasi pribadi kepada penulis, menulis resensi, atau mengikuti diskusi dan bedah buku terkait karya tersebut. 

Saya pun merasakan sendiri makna apresiasi itu. Saat buku kumpulan cerpen Laraswangi pertama kali terbit, buku tersebut di-launching pada hari dan tempat yang istimewa. Ya, Laraswangi kami luncurkan di Perpustakaan Unugiri Bojonegoro pada Rabu, 17 Desember 2025. Kegiatan ini terwujud berkat inisiatif Pak Agus Ibrahim, pemilik Percetakan Mitra Karya Tuban, serta Pak Usman Roin, dosen sekaligus Kepala Perpustakaan Unugiri. 

Apresiasi terhadap buku saya tidak berhenti sampai di situ. Keluarga Kita Belajar Menulis (KBM) Cah Ndeso turut menyuntikkan energi positif yang menguatkan langkah saya untuk terus berkarya. 

Selain itu, apresiasi juga mengalir dari rekan-rekan guru di MTs Negeri 3 Bojonegoro. Buku Laraswangi diborong hingga habis. Beberapa di antaranya adalah Bu Amasira, Bu Sutini, dan Bu Halimatus Sa’diyah yang masing-masing membeli satu buku. Ustadzah Siti Khumairoh membeli dua buku untuk koleksi Perpustakaan Pesantren Madrasah (Pesmad) Darul Fikri sebagai bacaan santri, serta Pak Rustamaji yang membeli tiga buku. 

Sebenarnya, Pak Rustamaji memesan delapan buku, namun stok buku terbatas, akhirnya beliau saya sarankan untuk membeli tiga buku saja. 

Di tangan Pak Rustamaji inilah, buku Laraswangi menjadi terasa sangat istimewa. Guru Bahasa Indonesia sekaligus sahabat saya di tempat kami mengajar ini mengulas buku tersebut bersama seluruh siswa kelas VIII yang beliau ampu. 

“Kebetulan materinya memang ulasan karya fiksi,” tuturnya saat kami berbincang santai sambil ngopi di kantin. 

Pak Rus—sapaan akrab guru yang berdomisili di Desa TlogorejoKepohbaru—menambahkan bahwa sebelumnya siswa pernah diminta meresensi cerpen yang dimuat di harian Kompas. Namun, mereka mengalami kesulitan karena alur cerpennya terlalu kompleks dan berada pada level nasional. 

“Kalau cerpen-cerpen di Laraswangi, unsur intrinsiknya jelas—tokoh, alur, dan ceritanya—sehingga lebih mudah dipahami oleh siswa,” jelasnya. 

Ke depan, Pak Rus bahkan berencana membukukan kumpulan resensi karya para siswa tersebut. Sebuah ikhtiar kecil namun bernilai besar dalam menumbuhkan tradisi membaca dan menulis di kalangan pelajar. 

Pada titik inilah saya merasa perlu memberikan apresiasi secara khusus kepada Pak Rustamaji dan rekan-rekan guru yang telah membeli, membaca, dan menghidupkan buku Laraswangi dengan caranya masing-masing. Mereka bukan sekadar pembaca, melainkan penggerak literasi—yang menjadikan buku sebagai alat belajar, bahan dialog, dan jembatan bagi tumbuhnya nalar siswa. Di tangan para guru semacam inilah, sebuah buku menemukan kehidupan keduanya. 

Sebagai penulis, saya merasa bahagia sekaligus tersanjung. Sebab, buku karya saya tidak hanya dibaca, tetapi juga diperlakukan dengan hormat—dihidupkan di ruang kelas, dipikirkan bersama, dan diberi makna baru oleh para siswa. Barangkali, di situlah apresiasi menemukan wujudnya yang paling sunyi sekaligus paling tulus. 

Pada akhirnya, membeli, membaca, dan menghidupkan buku bukan sekadar rangkaian aktivitas literasi, melainkan sikap batin. Sikap untuk menghargai ilmu, memuliakan proses, dan menjaga agar kata-kata tetap bernapas dalam kehidupan sehari-hari. Dan dari sikap itulah, sebuah buku—pelan-pelan—menemukan jalannya sendiri. 

Simorejo, 01 Februari 2026 

Coretanku

Rezeki Anak Sudah Allah Titipkan

Rezeki Anak Sudah Allah Titipkan

Di setiap kesempatan, di mana pun dan kapan pun kita berada, selalu ada pelajaran yang bisa dipetik. Peristiwa-peristiwa kecil sering kali menyimpan

Advertisement