Bayang-bayang di Lorong Pondok

Bayang-bayang di Lorong Pondok

Malam menggantung lembut di langit Pondok Pesantren Putri. Jam dinding baru saja menunjuk angka sepuluh. Sisa-sisa hujan sore tadi masih menyisakan bau tanah basah. Ranting pohon sawo di halaman bergerak pelan, diterpa angin sisa badai.

Biasanya, jam-jam seperti ini masih ramai. Ayat-ayat suci bersahut-sahutan dari kamar ke kamar. Tawa kecil menyelip di antara langkah para santri. Tapi malam ini, pondok diam. Hujan dan angin membuat para santri lebih cepat masuk kamar. Tak ada canda di depan rak sepatu. Tak ada ketukan pintu untuk sekadar berbagi kisah.

Di kamar, sebagian santri menekuri mushaf, sebagian lain telah lelap berselimut. Suara detak jam terdengar jelas. Lampu lorong menyala remang. Pondok terasa damai, tapi juga asing.

"Mbak Alya, mau ke mana?" tanya Rika dari balik selimut, matanya mengintip setengah terbuka.

Alya menuruni ranjang pelan. "Ke toilet, Rik. Kamu belum tidur?"

"Belum bisa tidur, Mbak."

Alya keluar kamar. Langkahnya nyaris tak bersuara di lantai yang lembap. Rika menunggu. Lima menit. Sepuluh menit. Tak ada tanda Alya kembali.

Penasaran, Rika membuka pintu. Dari ujung lorong, tampak Alya berdiri di depan pintu toilet. Tidak masuk. Tidak bergerak. Seperti berbicara pada sesuatu. Tapi... siapa?

Rika menutup pintu perlahan. Selimutnya ditarik hingga kepala. Nafasnya sesak.

Beberapa menit kemudian, suara langkah pelan terdengar. Pintu berderit terbuka.

"Mbak Alya tadi ngobrol sama siapa?" tanya Rika dengan suara bergetar.

"Tidak, bukan siapa-siapa. Tenanglah, Rik. Aku baik-baik saja," jawab Alya.

Alya dan Rika selalu bersama. Satu kamar, satu kelompok murojaah. Bahkan berbagi bantal saat listrik mati. Rika menganggap Alya kakaknya sendiri. Lembut, sabar, dan... misterius.

Malam itu, setelah Isya lewat, Alya keluar lagi. Bukan ke toilet, tapi ke ruang ngaji bersama. Tempat kecil yang biasanya ramai ba’da Maghrib, kini sunyi.

Rika, yang belum tidur, mengikuti diam-diam. Sejak kejadian di lorong itu, rasa penasarannya tumbuh bersama rasa takut.

Dari balik pintu, Rika mengintip. Alya duduk bersila, mushaf terbuka di hadapannya. Kepalanya sedikit menunduk, seperti menyimak.

Lalu terdengar suara. Merdu. Tajwidnya rapi, tartilnya indah. Seperti suara perempuan membaca Al-Qur’an. Tapi bukan suara Alya. Gadis itu hanya diam, mendengarkan, sesekali mengangguk pelan.

Namun ruangan itu kosong. Tak ada siapa pun.

Rika mundur perlahan. Dadanya sesak. Sejak malam itu, ia tahu: Alya tidak pernah benar-benar sendiri. Ada yang selalu bersamanya. Sosok yang tak terlihat.

Kata orang, itu khodam. Tapi bagi Rika, ia bukan sekadar bayangan. Ia hadir. Ia membaca. Ia menemani.

Kabar tentang keanehan Alya menyebar perlahan. Ada yang mengintip dari celah pintu. Ada yang cukup percaya dari bisik-bisik.

Sebagian merasa iba. Alya dikenal rajin, tenang, tak pernah melanggar aturan. Tapi keanehan itu menciptakan jarak. Ada yang mulai berbisik saat ia lewat. Ada yang menghindari duduk di sebelahnya.

Ketakutan tumbuh setelah beberapa santri kesurupan. Menjerit, menangis, berbicara dengan suara asing. Tubuh mereka tak terkendali, seperti ditarik oleh kekuatan tak kasat mata.

Dalam satu kejadian, seorang santri menunjuk ke halaman.

"Di sana! Tempat itu kotor! Pembalut dibuang sembarangan!"

Pondok tegang. Tak ada yang tahu siapa yang membuang benda najis di tempat yang dianggap keramat. Isyarat bahwa ada yang marah.

Alya mendekati santri kerasukan itu. Ia berjongkok, menggenggam telapak tangannya. Bibirnya bergerak lirih.

"Baik! Aku akan pergi! Tapi ingatkan teman-temanmu—jangan ganggu anakku!" suara itu melengking, bukan milik si santri. Matanya melotot, telunjuknya mengarah tajam ke sudut halaman.

Kamar sunyi. Tak ada yang berani bicara. Wajah-wajah para santri memucat, mata mereka saling menatap penuh tanya dan takut. Beberapa menarik selimut hingga ke dagu, seolah mencari perlindungan. Suasana terasa menegang, seakan udara di dalam kamar menjadi lebih berat. Detak jam terdengar seperti palu, dan setiap desis angin seolah membawa bisikan yang tak dimengerti.

Kabar itu sampai ke telinga Abah, pengasuh pondok. Tatapannya mulai berubah. Diam-diam, ia memperhatikan Alya lebih dalam.

Hingga suatu hari, Abah memanggil orang tua Alya.

"Pak Salman, Bu Rina... Alya ini anak yang istimewa. Ia punya sahabat yang tak kasat mata," kata Abah pelan.

Alya duduk di antara mereka. Senyumnya kecil, kepalanya menunduk.

"Di belakang Alya, ada beberapa yang ikut duduk. Sepertinya mereka tak ingin jauh darinya," lanjut Abah sambil menatap ke arah kosong.

Pak Salman dan Bu Rina menoleh perlahan ke belakang. Jantung mereka berdetak lebih cepat, seolah tubuh mereka tahu ada sesuatu yang tak bisa dijelaskan dengan nalar. Mata mereka mencari, tapi tak ada apa-apa—hanya kehampaan yang terasa seperti menatap balik. Diam-diam, kegelisahan menyelinap, menyesakkan dada. Mereka saling pandang, tak berani mengucap sepatah kata pun. Tatapan mereka menyiratkan takut yang ditahan dalam diam.

"Sudah, kalian keluar dulu. Biarkan Alya bersama orang tuanya," ujar Abah lembut namun tegas.

Suasana hening. Hanya detak jantung yang terdengar.

"Tidak usah panik. Alya baik-baik saja," Abah menenangkan.

"Pernahkah Bapak atau Ibu, mengalami kejadian aneh saat Alya kecil?"

Bu Rina menatap suaminya. Pak Salman mengangguk pelan.

"Dulu, waktu Alya balita, saya pernah mimpi berdampingan dengan seekor harimau. Saat itu saya tertidur di samping Alya. Rasanya nyata sekali, Bah," ujar Bu Rina, suaranya gemetar.

Abah tersenyum, senyum yang tenang namun menyimpan makna dalam. Seakan ia baru saja mendapatkan kepastian dari sesuatu yang selama ini hanya ia rasakan dalam diam. Dalam senyum itu, ada rasa syukur, tapi juga kesadaran bahwa amanah besar tengah dititipkan kepada Alya.

"Alhamdulillah... Barokallah... Alya kelak akan menjadi orang besar dan penghafal Al-Qur’an."

Semua yang hadir menunduk. Lalu serempak menjawab,

"Aamiin."

Abah menjelaskan dengan suara yang pelan namun penuh keyakinan, bahwa jika seorang anak diikuti oleh makhluk tak kasat mata—yang biasa disebut khodam—itu bukan semata-mata hal gaib yang menakutkan. Justru, sering kali itu menjadi pertanda bahwa anak tersebut dikaruniai kelebihan istimewa oleh Allah. Kelebihan itu bisa berupa ketajaman hati, kekuatan ruhani, atau kemampuan memahami hal-hal yang tak tertangkap oleh pancaindra biasa.

"Tentu saja, semua itu harus dijaga dan diarahkan dengan ilmu dan akhlak yang lurus," tambah Abah, matanya menyapu wajah orang tua Alya dengan sorot penuh harap dan tanggung jawab.[]  

 Laraswangi, 05-05-2025

Coretanku

Menulis, Waktu, dan Sebuah Doa di Awal Tahun

Menulis, Waktu, dan Sebuah Doa di Awal Tahun

BismillāhirraḥmānirraḥīmMengawali menulis di awal tahun, 1 Januari 2026.Buku pertama yang saya baca di awal tahun ini adalah karya Prof. Dr.

Advertisement