Laraswangi - Tulisan ini bukan bermaksud menghakimi siapa pun, melainkan sebagai bahan introspeksi bersama.
Pada hari Kamis, 29 Januari 2026, saya mendapat jadwal mengajar jam kelima dan keenam di salah satu kelas VII tempat saya mengajar. Seperti biasa, saat masuk kelas saya mengawali pembelajaran dengan mengabsen siswa sekaligus memeriksa pekerjaan rumah (PR).
PR yang saya berikan sebenarnya sangat sederhana: satu soal operasi penjumlahan aljabar. Soal tersebut merupakan latihan dari materi yang telah saya ajarkan pada pertemuan sebelumnya.
Dari 25 siswa yang hadir, hanya tiga anak yang mengerjakan tugas secara mandiri. Selebihnya menggunakan alat bantu AI seperti Cici, ChatGPT, Gemini AI, dan sejenisnya. Menariknya, tiga siswa yang mengerjakan secara mandiri semuanya adalah siswa perempuan.
Saya kemudian mencoba berkomunikasi dengan beberapa siswa yang mengerjakan PR menggunakan AI. Saya bertanya tentang proses pengerjaannya dan bagaimana mereka memperoleh jawaban tersebut. Ternyata, mereka tidak memahami sama sekali langkah-langkah penyelesaiannya. Dengan polos, salah satu dari mereka menjawab,
“Ini saya kerjakan pakai Cici, Pak.”
“Sebabnya apa?” tanya saya.
“Takut salah, Pak,” jawabnya jujur.
Selain alasan tersebut, tentu ada kemungkinan lain yang tidak mereka sampaikan. Bisa jadi, mereka memang belum sepenuhnya memahami konsep dasar aljabar.
Padahal, selama saya mengajar, saya tidak pernah memberikan hukuman kepada siswa yang salah dalam mengerjakan soal matematika. Justru, perhatian saya lebih tertuju pada siswa yang tidak mengerjakan tugas sama sekali. Menurut saya, hal itu berkaitan dengan kedisiplinan dan tanggung jawab sebagai pelajar.
Seperti yang pernah saya tulis dalam artikel sebelumnya, dalam menjelaskan konsep aljabar saya menggunakan alat peraga dan contoh yang dekat dengan pengalaman sehari-hari siswa. Mulai dari membeli alat tulis, minuman Yakult di koperasi sekolah, hingga jajanan ringan yang biasa mereka beli di kantin.
Dalam menjelaskan langkah-langkah penyelesaian soal, saya berusaha menyampaikannya secara urut dan runut. Namun, saya juga menyadari bahwa tidak semua siswa dapat langsung memahaminya. Setiap siswa memiliki kemampuan, kecepatan belajar, dan minat yang berbeda-beda.
Sebagai guru, saya menyadari sepenuhnya kenyataan tersebut.
Perihal penggunaan AI dalam dunia pendidikan, kita tidak boleh bersikap naif. Kita pun tidak bisa menutup mata atau menghindari derasnya arus perkembangan teknologi ini.
Karena itu, saya menjelaskan kepada siswa bahwa AI bukanlah senjata utama. Jadikan AI sebagai partner dalam belajar dan bekerja, bukan sebagai pengganti proses berpikir. Ide dan usaha tetap harus lahir dari diri kita sendiri. Sementara AI cukup berperan sebagai pendamping, penunjuk arah, atau alat untuk mengoreksi.
Pada akhirnya, peristiwa di kelas siang itu menjadi pengingat bagi saya pribadi. Bahwa mengajar bukan sekadar menyampaikan materi, melainkan juga membangun keberanian siswa untuk berpikir, mencoba, dan berani salah. Sebab dari kesalahan itulah proses belajar benar-benar dimulai.
Saya pun bercermin pada diri sendiri. Barangkali masih ada penjelasan saya yang belum cukup sederhana, atau pendekatan saya yang belum sepenuhnya menjangkau semua anak. Di titik ini, saya belajar kembali untuk lebih sabar, lebih peka, dan tidak lelah mencari cara agar setiap siswa merasa aman dalam belajar.
Kepada anak-anak, saya berharap mereka kelak tidak tumbuh menjadi generasi yang hanya pandai mencari jawaban, tetapi kehilangan keberanian untuk berpikir. Dan kepada diri saya sendiri, saya berdoa agar tetap dijaga keikhlasan dalam mendampingi mereka—di tengah dunia yang kian cepat, instan, dan serba dimudahkan oleh teknologi.
Sebab pada akhirnya, pendidikan bukan tentang seberapa canggih alat yang kita miliki, melainkan tentang seberapa jujur kita menemani proses tumbuhnya manusia.
Kedungsari, 29 Januari 2026











.png)



Komentar
Tuliskan Komentar Anda!