Ketika Kesedihan Itu Menghilang

Ketika Kesedihan Itu Menghilang

Laraswangi - Pagi ini, bakda Subuh, saya mengikuti ngaji online bersama Kang Hasyim As. Dalam salah satu Video TikTok yang beliau unggah pada 12 Februari 2025, Kang Hasyim mengutip dawuh Imam Ibnu ‘Athaillah as-Sakandari dalam Matan Al-Hikam: 

“Salah satu tanda kematian hati adalah tidak adanya kesedihan atas kesempatan ibadah yang terlewat dan tidak adanya penyesalan atas kekhilafan yang pernah dilakukan.” 

Dawuh ini terasa sederhana, tetapi diam-diam menghunjam ke dalam hati yang paling dalam. Ia tidak sedang membicarakan dosa besar atau maksiat yang mencolok. Ia justru menunjuk pada sesuatu yang lebih halus: rasa dalam hati. 

Hati yang hidup akan merasa sedih ketika kehilangan kesempatan beribadah. Ia akan menyesal ketika terpeleset dalam khilaf, sekecil apa pun. Bukan karena merasa paling buruk, tetapi karena masih ada ikatan batin dengan Allah. 

Sebaliknya, ketika hati mati, kehilangan Subuh berjamaah terasa biasa saja. Lalai dari zikir tak lagi mengusik. Dosa berlalu tanpa penyesalan. Ibadah mungkin masih dikerjakan, tetapi getarnya hilang—sekadar gerak, tanpa nyawa. 

Maka, jangan pernah takut jika hari ini kita masih bisa sedih. Jangan malu jika masih ada penyesalan. Karena sedih atas kelalaian dan menyesal atas khilaf adalah tanda hati belum mati—tanda bahwa Allah masih memberi ruang untuk kembali. 

Semoga hati ini tetap dijaga agar selalu peka. Sebab selama hati masih bisa merasa, jalan pulang kepada-Nya masih terbuka. 

Maka, jika hari ini hati masih mampu merasa sedih karena lalai, dan masih sempat menunduk karena khilaf, jangan buru-buru merasa putus asa. Barangkali itulah cara Allah memberi tanda bahwa hati ini belum sepenuhnya mati. 

Sebab hati yang benar-benar mati tak lagi mengenal air mata, tak lagi akrab dengan penyesalan. Ia tenang, tetapi kosong. Ia berjalan, tetapi tanpa arah. 

Semoga Allah menjaga hati ini tetap lembut—meski sering goyah, meski kerap alpa.  Selama hati masih bisa merasa kehilangan saat jauh dari-Nya, harapan untuk kembali selalu ada. 

Dan semoga, di setiap Subuh yang kita lalui, Allah masih berkenan membangunkan hati ini…  pelan-pelan, dengan rasa. 

Simorejo, Senin 26 Januari 2026 

Coretanku

Rezeki Anak Sudah Allah Titipkan

Rezeki Anak Sudah Allah Titipkan

Di setiap kesempatan, di mana pun dan kapan pun kita berada, selalu ada pelajaran yang bisa dipetik. Peristiwa-peristiwa kecil sering kali menyimpan

Advertisement