Larawaswangi - Beberapa waktu terakhir, entah mengapa, setiap nasehat yang saya dengar—baik dari video singkat di media sosial maupun dari perjumpaan nyata—tidak lagi terasa sebagai hal biasa. Semuanya hadir seperti peringatan halus dari Allah, yang meminta untuk direnungkan, bukan sekadar didengar.
Salah satunya datang dari sebuah video TikTok Kang Hasyim, diunggah pada 10 Maret 2025. Dalam video itu, beliau mengutip perkataan Syaikh Mutawalli Asy-Sya‘rawi:
“Jika kamu menemukan dirimu tidak ada seorang pun yang membenci, ketahuilah bahwa kamu adalah manusia yang gagal.”
Kalimat ini sempat membuat saya terdiam. Bukan karena ingin dibenci, tapi karena terasa begitu jujur menggambarkan kenyataan hidup. Bahwa selama kita hidup, bergerak, dan menerima nikmat dari Allah, hampir pasti akan ada yang tidak suka, yang menyindir, atau yang membicarakan dari kejauhan.
Dan itu wajar.
Setiap nikmat memang selalu beriringan dengan ujian. Kadang ujian itu bukan kekurangan, melainkan pandangan manusia terhadap kita.
Kang Hasyim lalu menambahkan nasehat yang terasa semakin menguatkan:
jangan sibuk menoleh kanan-kiri. Sebab orang yang terlalu sering menoleh, tak akan segera sampai. Jika kita terlalu sibuk mengurusi pembicaraan orang lain, kita justru menjauh dari tujuan hidup kita sendiri.
Saya merasakannya belakangan ini. Ada masa ketika hati terasa lelah, bukan karena amal, tetapi karena cerita. Karena penilaian. Karena persepsi yang dibangun tanpa pernah ditanyakan kebenarannya. Dan di situlah nasehat ini terasa datang tepat waktu.
Kita hidup di zaman yang aneh. Baik dan buruknya seseorang sering kali tidak ditentukan oleh siapa dirinya sebenarnya, melainkan oleh siapa yang sedang bercerita tentangnya. Jika hati kita tidak dijaga, kita bisa ikut larut—ingin menjelaskan, membela, atau meluruskan segalanya.
Padahal tidak semua hal perlu dijawab. Tidak semua cerita perlu diluruskan. Dan tidak semua penilaian manusia layak kita jadikan beban.
Yang perlu kita lakukan hanyalah satu: meluruskan niat dan terus berjalan.
Biarlah manusia berbicara.
Biarlah cerita beredar ke mana saja.
Selama langkah kita masih menuju Allah, dan adab tetap kita jaga, itu sudah cukup.
Sebab pada akhirnya, bukan manusia yang menjadi tujuan kita.
Dan bukan pula manusia tempat kita berharap penilaian.
Allah Maha Melihat.
Dan itu menenangkan.
Simorejo, 24 Januari 2026
Bakda Subuh





_11zon.png)




.png)

Komentar
Tuliskan Komentar Anda!