Simorejo - Bulan Januari baru saja bergerak dua puluh hari lamanya. Namun, di dunia pendidikan, atmosfer tahun ajaran baru sudah sangat kentara. Masing-masing jenjang pendidikan mulai membuka pendaftaran murid baru. Siswa dan orang tua pun sibuk menentukan pilihan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya. Bahkan, tidak sedikit lembaga pendidikan yang telah melaksanakan seleksi penerimaan murid baru sejak awal tahun.
Para orang tua dan murid berlomba-lomba mendaftar ke sekolah-sekolah favorit dan ternama. Ada anggapan yang masih kuat mengakar: apabila anak belajar di sekolah unggulan, maka masa depan akan otomatis terjamin. Kelak, anak dianggap lebih mudah memperoleh pekerjaan dan meraih profesi yang diimpikan.
Masih segar dalam ingatan saya peristiwa dua puluh dua tahun silam. Saat lulus SD dan hendak melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya, sebagian besar teman seangkatan saya—terutama di kampung tempat saya tinggal—memilih melanjutkan ke SMP. Sementara saya dan seorang teman perempuan justru melanjutkan ke Madrasah Tsanawiyah.
Kala itu, bersekolah di SMP menjadi kebanggaan tersendiri karena dianggap sebagai sekolah favorit. Sebaliknya, madrasah nyaris tak dilirik dan kurang dikenal. Saya masih ingat betul, seseorang pernah berkata secara langsung kepada saya, “Sekolah kok di madrasah, kelak akan susah mendapatkan pekerjaan,” tuturnya setengah mengejek.
Sebagai anak kecil saat itu, nyali saya ciut. Ada rasa minder, bahkan merasa dikucilkan, karena pilihan sekolah saya berbeda dengan kebanyakan teman sebaya.
Namun, orang tua saya membesarkan hati dan memantapkan niat saya dalam belajar.
“Sempeyan belajar jangan pernah punya niatan kelak ingin menjadi apa. Niatkan belajar untuk menghilangkan kebodohan dan karena Allah Swt. semata,” tutur Bapak saya, seorang petani, dengan bahasa yang sederhana namun mengendap dalam.
Setelah saya renungkan, nasihat Bapak saya itu sejalan dengan petuah Kiai Ma’sum Alief dari Kedungpring, Lamongan.
“Sekolah, mondok, jangan pernah sekalipun diniatkan kelak akan menjadi apa. Niatkan saja sebagai bentuk melaksanakan perintah Allah Swt. Kelak, biarkan ilmu yang kamu miliki membawamu ke tempat yang sesuai,” tuturnya lembut.
Bapak saya menasihati saya saat saya masih dalam proses belajar. Sementara Kiai Ma’sum Alief menasihati saya ketika saya telah menjadi orang tua dari dua putri, yang mulai mengenal dunia sekolah dan mondok. Waktu berbeda, kondisi berbeda, tetapi pesan keduanya sama: meluruskan niat sebelum melangkah.
Rupanya, nasihat para orang tua dan guru saya itu berlandaskan pada firman Allah Swt.:
“Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.”
(QS. Al-Mujādilah: 11)
Ayat ini menegaskan bahwa kemuliaan tidak ditentukan oleh di mana seseorang belajar, atau seberapa ternama lembaga pendidikannya. Kemuliaan sejati lahir dari iman yang lurus dan ilmu yang diperoleh dengan niat yang benar.
Maka, sebelum sibuk memilih sekolah terbaik, barangkali yang lebih utama adalah menata niat. Belajar bukan semata-mata demi gelar, profesi, atau gengsi sosial, tetapi sebagai jalan ibadah. Ketika niat diluruskan karena Allah Swt., ilmu akan menemukan jalannya sendiri, dan derajat manusia akan terangkat sebagaimana janji-Nya.
Pada akhirnya, pendidikan bukanlah perlombaan tentang siapa yang lebih dulu masuk sekolah favorit, melainkan perjalanan panjang menata niat dan menjemput keberkahan. Sekolah apa pun bisa menjadi jalan kemuliaan, selama iman dan niat lurus menyertainya.
Allah Swt. tidak menjanjikan derajat tinggi bagi mereka yang belajar di tempat paling bergengsi, tetapi bagi mereka yang beriman dan berilmu. Maka, di tengah hiruk pikuk pendaftaran murid baru dan euforia sekolah unggulan, semoga kita—orang tua dan pendidik—tidak lupa mengajarkan satu hal paling mendasar kepada anak-anak kita: belajarlah karena Allah, sebab dari sanalah ilmu akan menemukan maknanya dan derajat manusia diangkat sebagaimana janji-Nya.
Bulu, Simorejo, 20 Januari 2026
Bakda Subuh











.png)


Komentar
Tuliskan Komentar Anda!