Larawaswangi - Saya merasakan ketenangan yang berbeda setiap kali mengikuti ngaji online bersama Kang Hasyim. Meski hanya melalui video TikTok (VT) yang beliau unggah, ada banyak hikmah yang pelan-pelan meresap ke dalam hati. Barangkali karena cara beliau menyampaikan, barangkali juga karena hati memang sedang butuh disentuh.
Sebelum rutin menyimak dan mencatat, saya telah meminta izin secara tertulis melalui inbox TikTok beliau. Saya sampaikan niat saya: ikut ngaji dan menuliskan kembali materi-materi yang beliau sampaikan, agar tidak hilang begitu saja dari diri saya—mengingat keterbatasan saya dalam mengingat. Bagi saya, menulis adalah cara paling jujur untuk menjaga ilmu. Alhamdulillah, beliau mengizinkan.
Pada Ahad pagi, 25 Januari 2026, ba’da Subuh, saya kembali menyimak sebuah VT yang diunggah pada 5 Maret 2025. Dalam video tersebut, Kang Hasyim membahas nasihat Luqman Al-Hakim yang diriwayatkan dalam kitab Nashā’ihul ‘Ibād karya Syekh Nawawi al-Bantani, tepatnya pada Makalah ke-36.
Luqman Al-Hakim menasihati anaknya dengan kalimat yang singkat, namun sarat makna:
“Wahai anakku, sesungguhnya manusia itu terbagi menjadi tiga bagian: sepertiga untuk Allah, sepertiga untuk dirinya sendiri, dan sepertiga untuk cacing.
Adapun sepertiga bagian untuk Allah adalah ruh, sepertiga bagian untuk dirinya sendiri adalah amal-amal, dan sepertiga bagian untuk cacing adalah jasad (tubuh).”
Nasihat ini terasa sederhana, tetapi jika direnungi lebih dalam, ia seperti cermin yang memaksa kita menatap diri sendiri dengan jujur.
Sepertiga untuk Allah adalah ruh.
Ruh adalah sesuatu yang suci, halus, dan berasal dari perintah Allah. Ia tidak makan, tidak minum, tidak mencari pujian manusia. Ruh hanya tenang ketika terhubung dengan Penciptanya. Maka ketika ruh diabaikan—ibadah dilalaikan, dzikir ditinggalkan—manusia akan gelisah, meski dunia berada dalam genggaman.
Sepertiga untuk diri sendiri adalah amal-amal.
Inilah wilayah ikhtiar manusia: shalat, sedekah, kerja, tanggung jawab, dan kebaikan-kebaikan yang dilakukan di dunia. Amal adalah bekal, sekaligus cermin siapa diri kita sebenarnya. Amal pula yang kelak akan menemani, bukan nama besar, jabatan, atau pujian manusia.
Sepertiga untuk cacing adalah jasad.
Inilah bagian yang paling sering kita rawat, namun paling cepat ditinggalkan. Tubuh yang kita banggakan—yang kita beri pakaian terbaik, makanan terbaik, dan perhatian paling besar—pada akhirnya akan kembali ke tanah. Jasad tidak dibawa menghadap Allah, ia selesai tugasnya di dunia.
Melalui nasihat ini, Luqman Al-Hakim seolah ingin meluruskan orientasi hidup:
jangan sampai manusia menghabiskan seluruh tenaga untuk jasad dan dunia, tetapi lupa menenangkan ruh dan mempersiapkan amal.
Bagi saya pribadi, nasihat ini seperti pengingat lembut di pagi hari: bahwa hidup bukan sekadar bertahan, bekerja, dan terlihat baik di mata manusia. Hidup adalah tentang menjaga ruh tetap terhubung dengan Allah, mengisi hari dengan amal yang bernilai, dan mengingat bahwa jasad punya batas waktu.
Mungkin inilah salah satu hikmah mengapa ngaji, meski hanya lewat layar kecil, tetap mampu menghadirkan ketenangan—karena yang disentuh bukan sekadar pikiran, tetapi kesadaran terdalam sebagai manusia.
Simorejo, 25 Januari 2026
Bakda Subuh







.png)



.png)



Komentar
Tuliskan Komentar Anda!