Laraswangi — Rubrik Tentang Seseorang akhirnya menemukan sosok pertamanya. Nama yang terpilih bukan tanpa alasan. Menurut penilaian Tim Redaksi, beliau adalah pribadi yang inspiratif, kaya pengalaman, dan sarat prestasi.
Mari kita simak kisahnya.
Namanya Suwanto, S.Pd. Kami biasa memanggilnya Pak Suwanto, kadang juga Ndan—kependekan dari komandan. Ada pula sebutan khas yang melekat padanya: Kang Guru. “Kang” adalah panggilan akrab bagi santri, sementara “Guru” sudah menjadi jalan hidup yang ia pilih dan tekuni sepenuh hati.
Ya, Pak Suwanto adalah guru Bahasa Inggris di MTs Negeri 3 Bojonegoro.
Di antara para guru MTs Negeri 3 Bojonegoro, rumah beliau terbilang paling jauh. Bapak dua putra ini berasal dari Desa Bubulan, Kecamatan Bubulan, Kabupaten Bojonegoro. Setiap hari, dengan mengendarai motor Supra X 125 kesayangannya, ia pulang-pergi ke madrasah menempuh jarak sekitar 45 kilometer, dengan waktu tempuh kurang lebih 1 jam 10 menit.
Rute yang ia lalui pun tidak singkat: Bubulan – Temayang – Sugihwaras – Kedungadem – Kepohbaru, lalu kembali dengan jalur yang sama.
“Jarak yang jauh bukan alasan untuk datang terlambat, karena tanggung jawab seorang guru dimulai dari ketepatan waktu.”
Penyuka sepak bola ini tidak hanya mengabdikan diri di madrasah. Di rumah, ia juga mengelola bimbingan belajar Bahasa Inggris dan Matematika, sebagai ikhtiar kecil untuk memperluas manfaat ilmunya.
Sebelum bertugas di MTs Negeri 3 Bojonegoro, Pak Suwanto pernah mengajar di SMP Negeri 7 Seram Bagian Timur, Provinsi Maluku, sejak tahun 2008 hingga 2021. Bahkan, pada periode 2017–2021, ia dipercaya mengemban amanah sebagai kepala sekolah di SMP tersebut.
Karier itu tentu tidak diraih dengan mudah. Proses panjang telah ia lalui. Usai lulus dari IKIP PGRI Bojonegoro pada tahun 2006, Pak Suwanto memulai langkahnya sebagai guru honorer di SMA Muhammadiyah Sumberrejo (2006–2008).
Setelah itu, ia memberanikan diri mengikuti seleksi Guru Daerah Terpencil, sebuah program yang dicanangkan pemerintah. Dari sanalah takdir membawanya mengabdi ke timur Indonesia—mengajar di Kabupaten Seram Bagian Timur sejak tahun 2008.
Bapak yang genap berusia 46 tahun pada 28 Desember 2025 ini dikenal sebagai sosok disiplin dan bertanggung jawab. Meski jarak rumah ke madrasah cukup jauh, ia selalu berusaha hadir tepat waktu. Bahkan, sering kali ia tak sempat sarapan di rumah, sehingga sarapannya ia nikmati di kantin madrasah.
Ketika ditanya apa yang memotivasinya untuk terus bertahan dan mengabdi, jawabannya selalu sederhana, namun mengakar kuat pada nilai.
“Pengabdian untuk mencerdaskan kehidupan bangsa adalah ibadah. Ini juga bentuk syukur saya setelah akhirnya bisa mutasi ke tanah kelahiran,” katanya mantap.
Semangat itulah yang kemudian menular kepada para siswanya. Kepada anak-anak, ia sering berpesan:
“Kesuksesan tidak diraih dengan rebahan, main game, atau menghayal keajaiban.
Kesuksesan diraih dengan kerja keras, tanpa meremehkan doa.”
Selain mengajar, Pak Suwanto juga mendapat tugas tambahan sebagai wali kelas, anggota Tim IT, serta tim pendamping penyusunan dan pengawalan Sasaran Kinerja Pegawai (SKP). Semua dijalani dengan kesungguhan yang sama—tanpa banyak keluhan.
“Kang Guru bukan hanya soal mengajar di kelas, tetapi tentang kesetiaan menempuh jarak, waktu, dan pengabdian.”
Ada satu hal lagi yang patut mendapat dua jempol. Di sela-sela kesibukannya, sosok yang dikenal ramah ini berkali-kali berhasil mengantarkan siswa meraih prestasi dalam lomba Mobile Legends, hingga keluar sebagai juara.
“Di balik keseriusan seorang guru, ada kepedulian yang membuat siswa berani berprestasi—bahkan di dunia gim.”
Pak Suwanto adalah contoh bahwa pengabdian tidak selalu lahir dari panggung besar. Kadang ia hadir dalam rutinitas yang sunyi: perjalanan jauh setiap pagi, kelas yang sederhana, dan kesetiaan yang terus dijaga.
Dan dari sanalah, inspirasi itu tumbuh.
Kepohbaru, 26 Januari 2026









.png)


Komentar
Tuliskan Komentar Anda!