Bahu Laweyan

Bahu Laweyan

Oleh: Slamet Widodo*) 

Senja menguning di ufuk barat. Dusun Laraswangi berselimut duka. Sebuah rumah joglo kayu, bangunan kuno yang masih berdiri gagah, kini menyimpan isak dan kehilangan. 

Aroma kapur barus masih menyengat di udara. Dua gentong plastik merah terbalik di atas kursi panjang—bekas tempat memandikan jenazah. Tanah di sekitarnya masih becek, busa sabun putih berceceran, belum sempat tersapu tuntas. 

Di teras rumah itu, beberapa karung berisi beras dan sembako dari para pelayat tergeletak sembarangan, belum sempat ditata. 

Para lelaki tampak satu per satu kembali dari pemakaman, langkah mereka berat, menunduk dalam diam. 

Raras Pambayun duduk bersimpuh di sisi ibunya, menyambut pelayat yang masih berdatangan. Wajahnya pucat, pandangannya sayu, seolah menahan badai di dada. Tubuhnya letih, matanya sembab. 

Ya—Raras baru saja kehilangan suaminya. Untuk yang ketiga kalinya, dalam kurun waktu sepuluh tahun. Dan belum satu pun dari pernikahan itu memberinya momongan. 

***  

Malam itu, keluarga besar Wiryadarma mengadakan tahlilan memperingati setahun kepergian suami ketiga Raras Pambanyun. Rumah joglo mereka tampak ramai oleh para undangan dan tetangga dari seluruh sudut Dusun Laraswangi. 

Wadah-wadah besar berisi nasi, lauk, dan jajanan, terbungkus kain putih bersih, tersusun rapi berjajar di depan para undangan yang duduk bersila di lantai marmer yang dingin. 

Balungan gajah tenan keluarga iki,” gumam seseorang di pojok, pelan tapi cukup untuk menebar getar kecil di antara barisan tamu. 

Usai pembacaan tahlil, Modin dusun memimpin doa penutup. Semua khusyuk menadahkan tangan. Tak lama, doa berganti dengan bunyi sendok dan piring yang saling beradu. Asap rokok mengepul, bercampur dengan aroma nasi putih dan rawon yang masih mengepul hangat. 

Satu per satu jamaah pamit. Mereka menenteng berkat di tangan kiri, sambil berbalas salaman dengan tuan rumah. Dari kejauhan, kumandang azan Isyak menggema lembut dari masjid, menyapu halaman joglo yang mulai sepi, menyisakan cahaya temaram lampu  dan bayangan panjang Raras di ambang pintu. 

***  

Di ujung kulon dusun Laraswangi, warung kopi milik Pak Naryo ramai oleh suara lelaki. Cangkir-cangkir bergemerincing, asap rokok menebal, dan obrolan pelan-pelan beralih ke satu nama yang sama: Raras Pambayun. 

“Kembang Laraswangi itu janda lagi, to?” tanya Kardi sambil terkekeh.   

Iyowis setahun,” jawab yang lain.   

Suaminya ganteng-ganteng, tapi kok mati kabehyo?”   

Lha makane, ati-ati, aja nekad. 

Beberapa pemuda muda ikut tertawa, menggoda Bagas, yang diam sejak tadi. 

“Gas, sampeyan kan sering bantu keluargane Raras. Yo wis, lamar wae. Mumpung belum direbut orang lain!”  

Tawa kembali pecah, namun tiba-tiba Pak Seno, lelaki paruh baya yang dikenal suka menyendiri, meletakkan cangkirnya. 

Ojo sembrono, Le...” katanya pelan. 

Raras iku wong wadon panas... Bahu Laweyan.” 

Suasana warung mendadak senyap. Hanya terdengar suara jangkrik dan desau angin lewat di sela dinding bambu. Bagas menelan ludah, bulu kuduknya berdiri. Kata itu—Bahu Laweyanmenggantung lama di udara, seperti mantra kuno yang baru saja dibangkitkan. 

***  

Sejak malam tahlilan itu, Raras mulai gelisah. Tubuhnya sering panas di malam hari—kadang demam, kadang bergetar tanpa sebab. Ia kerap bermimpi didatangi seorang perempuan berparas cantik, berkulit putih, membawa canting dan kain batik berwarna darah. Setiap kali terbangun, bahunya terasa berat—seolah ada bara kecil yang menyala di bawah kulitnya. 

Ibunya, Sekar Arumjati, mulai cemas. 

Ndhuk Raras, anakku... iki cobaan berat. Tapi, ibu merasa ana sing ora wajar,” katanya lirih. 

Akhirnya, Wiryadarma dan istrinya memutuskan sowan ke Mbah Karyo, sesepuh Dusun Laraswangi—penjaga Sendang Wangi yang dikenal masih memegang ilmu tua peninggalan masa batik Laweyan. 

Di hadapan dupa yang mengepul, Mbah Karyo menatap mereka lama sebelum berkata pelan, 

“Anakmu ora lara biasa. Ing badane ana tanda lawas... tanda Bahu Laweyan.” 

Sekar menahan napas, sementara Wiryadarma bergetar. 
Mbah Karyo kemudian menunjuk ke punggung Raras. Di bawah bahunya tampak dua lekukan kecil—simetris, seperti tapak jari yang menekan. 

“Tanda iku ora bakal muncul kejaba ana roh sing ngetokké,” ujarnya serius. 
“Roh iku roh perempuan Laweyan sing mati ninggalake rasa trisno kang jero. Tirsnane dadi panas... dadi kutukan.” 

Mbah Karyo menutup mata sejenak, seperti mendengar bisikan dari masa lalu. 

“Anakmu iki wis ketempelan roh sing ora rampung tresnane. Saben ana wong lanang sing mennyentuh rasa tresnane Raras, roh iku bakal ngrenggut nyawane.” 

Sekar menangis. Wiryadarma terdiam seperti batu. Raras memegangi bahunya, tubuhnya gemetar. 

Ada dua cara untuk menghilangkan kutukan iki,” lanjut Mbah Karyo.  

“Sing sepisan, Raras kudu nikah nganti kaping pitulan saben bojone bakal dadi tumbal.”  

“Sing kapindho…” — suaranya merendah, serak seperti terhempas angin — 
Yèn ana jejaka sing wani rabi karo Raras, lan sak taun ora nyentuh dhewekeora nglakoni senggama, kutukan iku bakal sirna. Roh iku bakal metu, lan Raras bakal waras.” 

Raras menunduk. Air matanya jatuh ke lantai tanah. 

“Kula boten purun, Mbah… kulo boten kepengin ana tiyang jaler mati mergo kula, Mbah Karyo menatapnya penuh iba. 

Menawa tresna sing sejati teka, roh iku bakal kalah. Nanging nganti saikidurung ana sing wani ngadhepi panasé Bahu Laweyan.” 

Malam itu, angin berembus lembab dari arah sendang. Dari balik bajunya, Raras merasakan dua cekungan di punggungnya berdenyut hangat — seperti bara cinta yang tak mau padam. 

***  

Desa Laraswangi mulai kembali tenang setelah kabar tentang bahu laweyan Raras merebak. Namun, di antara bisik-bisik yang menuduh dan rasa takut yang menggantung, muncul satu sosok yang tak gentar: Zayyan Al-Fahmi, santri dari pesantren di Jawa Timur. 

Namanya dikenal di kalangan para kiai. Lulusan tahfiz yang lembut tutur katanya, kuat ibadahnya, dan sederhana hidupnya. Ketika mendengar tentang penderitaan Raras, ia tak menertawakan, tak pula menjauh. Ia justru datang bersilaturahmi ke rumah Wiryadarma. 

Malam itu, di beranda rumah joglo, Zayyan menunduk hormat di hadapan ayah Raras. 

“Pak, mohon jangan salah paham. Saya datang bukan karena iba, tapi karena keyakinan. Saya ingin menikahi Raras, insya Allah bukan untuk menantang takdir, tapi untuk membebaskannya.” 

Raras yang duduk di samping ayahnya, mendengarnya dengan dada berdebar. Suaranya serak ketika akhirnya berkata pelan, 

“Apa njenengan yakin, Gus? Orang-orang bilang... saya ini perempuan pembawa maut.” 

Zayyan tersenyum lembut. 

“Maut urusan Gusti Allah, Mbakyu. Kalau benar di tubuhmu ada yang jahat, biar aku yang mendampingimu melawannya. Dengan dzikir, dengan Qur’an.” 

Seisi rumah terdiam. Hanya terdengar suara jangkrik dari kebun belakang.  Keputusan besar itu akhirnya diambil. 

Raras menerima lamaran Zayyan dengan syarat berat — selama setahun mereka tak boleh bersentuhan, hanya boleh hidup berdampingan dalam satu rumah sambil menjalani ritual penyucian diri dengan zikir dan air tujuh sumber. 

Namun, mereka berdua tidak tahu... bahwa di balik kesunyian malam Laraswangi, sosok hitam yang telah lama bersemayam di tubuh Raras mulai gelisah, seolah tahu waktunya akan segera diusir. 

*** 

Pernikahan Raras Pambayun dan Zayyan Al-Fahmi berlangsung sederhana. Tanpa gamelan, tanpa keramaian—hanya doa dan niat suci. 

Malam pertama mereka bukan malam cinta, melainkan malam ikrar. Dua sajadah terbentang sejajar, dipisah sehelai kain putih. 

“Setahun kita belajar menundukkan hawa, Mbakyu,” bisik Zayyan. “Kita lawan yang gaib dengan ayat dan sabar.” 

Sejak itu, rumah joglo keluarga Wiryadarma berubah sunyi. Setiap malam selepas Isya, keduanya membaca Surah Al-Baqarah dan berzikir hingga dini hari. Air dari tujuh sumber disiramkan ke halaman dan tubuh Raras setiap malam Jumat. 

Kadang angin berdesir tanpa sebab, kadang terdengar suara perempuan menangis di sumur belakang. Raras sering menggigil ketakutan, tapi Zayyan menenangkannya dengan Ayat Kursi. 

Waktu bergulir. Bisikan gaib itu makin lemah. Hingga pada malam hujan, Raras bermimpi melihat asap hitam keluar dari tubuhnya, lenyap disapu cahaya putih. Saat terbangun, ia menatap suaminya yang tengah sujud. 

“Mas… mungkin malam ini aku benar-benar sembuh.” 

 

Laraswangi, Februari 2026 

*) Guru MTs Negeri 3 Bojonegoro 

Cerpen ini telah dimuat di Majalah Pembangunan Agama (MPA)
Terbitan Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag)
Provinsi Jawa Timur 
Edisi Februari 2026 

Coretanku

Rezeki Anak Sudah Allah Titipkan

Rezeki Anak Sudah Allah Titipkan

Di setiap kesempatan, di mana pun dan kapan pun kita berada, selalu ada pelajaran yang bisa dipetik. Peristiwa-peristiwa kecil sering kali menyimpan

Advertisement