Laraswangi - Memiliki guru—pendidik sekaligus pembimbing—adalah kebutuhan mendasar dalam menuntut ilmu dan menjalani kehidupan. Tanpa bimbingan yang benar, seseorang rentan tersesat dalam pemahaman, keliru menafsirkan kebenaran, bahkan terjerumus pada jalan yang menyesatkan. Guru hadir sebagai pemandu dan penjaga arah; ibarat pohon yang memerlukan perawat agar tumbuh kokoh dan berbuah lebat, demikian pula manusia memerlukan guru agar ilmunya hidup dan bermakna.
Imam Al-Ghazali رحمه الله mengingatkan:
“Ilmu tanpa amal adalah kegilaan, dan amal tanpa ilmu adalah kesia-siaan.”
Kata-kata ini menegaskan bahwa ilmu memerlukan tuntunan agar berbuah amal yang benar—dan di situlah peran guru menjadi penentu.
Belajar tanpa guru menyimpan risiko besar. Terutama dalam ilmu agama, ketiadaan bimbingan dapat menimbulkan kekeliruan yang fatal. Ulama salaf bahkan memberikan peringatan keras. Abdullah bin al-Mubarak رحمه الله berkata:
“Al-isnâdu minad-dîn, walau lâl-isnâd laqâla man syâ’a mâ syâ’a.”
Sanad adalah bagian dari agama. Tanpa sanad, siapa pun bisa berkata sesukanya.
Ungkapan ini menegaskan pentingnya proses berguru dan kesinambungan keilmuan agar kebenaran tetap terjaga.
Ada beberapa alasan mendasar mengapa setiap penuntut ilmu perlu memiliki guru.
Pertama, menghindari kesesatan. Ilmu yang dipelajari tanpa arahan mudah tercampur antara yang hak dan yang batil. Imam Ibn Sirin رحمه الله menasihatkan:
“Sesungguhnya ilmu ini adalah agama, maka perhatikanlah dari siapa kalian mengambil agama kalian.”
Kedua, kejelasan sanad keilmuan. Dalam tradisi Islam, ilmu diwariskan dari hati ke hati, dari guru ke murid, melalui adab dan keteladanan—bukan sekadar membaca atau menghafal.
Ketiga, pembimbing karakter dan adab. Imam Malik رحمه الله pernah berkata kepada muridnya:
“Pelajarilah adab sebelum mempelajari ilmu.”
Ilmu yang tinggi tanpa adab hanya akan melahirkan kesombongan, bukan kebijaksanaan.
Keempat, mentor yang mengarahkan potensi. Guru membantu murid mengenali bakat terpendam, menumbuhkan semangat belajar, serta mengarahkan agar potensi itu menjadi maslahat, bukan sekadar prestasi.
Kelima, peran murabbi dalam perjalanan spiritual. Al-Junaid al-Baghdadi رحمه الله berkata:
“Barang siapa tidak memiliki guru, maka gurunya adalah setan.”
Ungkapan ini bukan untuk menakut-nakuti, melainkan peringatan bahwa perjalanan menuju Allah memerlukan bimbingan agar tidak tergelincir oleh hawa nafsu.
Pada akhirnya, guru bukan hanya pengajar di ruang kelas, melainkan penjaga warisan keilmuan dan penggerak peradaban. Dari tangan para guru lahir generasi yang lurus akidahnya, halus adabnya, dan kuat amalnya—manusia-manusia yang ilmunya menuntun, bukan menyesatkan.
Kepohbaru, 05 Februari 2026











.png)


Komentar
Tuliskan Komentar Anda!