Empat Kesedihan yang Menaikkan Derajat

Empat Kesedihan yang Menaikkan Derajat

Pelajaran dari Kitab Ushfuriyyah 

Majelis taklim keluarga MTs Negeri 3 Bojonegoro yang dilaksanakan pada Ahad, 08 Februari 2026, bertempat di kediaman Pak Aunul Qorib, KaranBaureno, Bojonegoro, berlangsung dengan suasana khidmat dan penuh renungan. Dalam kesempatan tersebut, Kiai Mahrus—kiai muda asal Desa Brangkal—membacakan Kitab Al-Mawā‘iẓ al-‘Ushfūriyyah karya Syekh Muhammad bin Abu Bakar Al-Ushfuri, yang lebih dikenal dengan sebutan Kitab Ushfuriyyah. 

Pada pengajian itu, beliau mengisahkan riwayat menyentuh tentang Sayidina Ali bin Abi Thalib dan Salman Al-Farisi radhiyallahu ‘anhuma, khususnya mengenai empat kesusahan (kesedihan) yang dirasakan seorang hamba beriman. 

Dikisahkan, suatu pagi Sayidina Ali bertemu dengan Salman Al-Farisi dan menanyakan kabarnya. Salman menjawab bahwa ia sedang memikul empat kesedihan yang sangat berat dalam hatinya. 

Empat kesedihan yang dimaksud Salman Al-Farisi adalah: 

Pertama kesedihan terhadap keluarga 
Memikirkan kebutuhan anggota keluarga—makanan dan kecukupan hidup—sementara dirinya berada dalam keterbatasan. 

Kedua Kesedihan terhadap perintah Allah 
Beban batin untuk senantiasa taat menjalankan perintah Allah SWT dan menjauhi larangan-Nya di setiap waktu. 

Ketiga, Kesedihan menghadapi godaan setan 
Raswas-was dan perjuangan terus-menerus melawan rayuan setan yang ingin menjerumuskan ke dalam kemaksiatan. 

Keempat, Kesedihan mengingat Malaikat Maut 
Kesadaran bahwa Malaikat Maut setiap saat dapat datang menjemput, sementara bekal amal dirasa belum mencukupi. 

Respon Sayidina Ali bin Abi Thalib 

Mendengar pengakuan itu, Sayidina Ali justru menenangkan Salman dengan berkata, “Berbahagialah wahai Salman.” 
 

Beliau menjelaskan bahwa setiap kesedihan tersebut memiliki kemuliaan di sisi Allah SWT. 

Sayidina Ali lalu menyampaikan bahwa beliau pernah menanyakan hal serupa kepada Rasulullah SAW, dan Nabi memberikan jawaban yang menyejukkan hati: 

Kesedihan memikirkan nafkah keluarga adalah penghalang dari api neraka. 

Kesedihan dalam ketaatan adalah pengangkat derajat. 

Kesedihan melawan godaan setan adalah bentuk jihad. 

Kesedihan mengingat maut adalah penyuci dosa. 

Meluruskan Pemahaman: Bukan “Empat Amalan Terberat” 

Perlu dibedakan, kisah empat kesedihan dalam Kitab Ushfuriyyah ini berbeda dengan nasihat Sayidina Ali tentang empat amalan yang paling berat timbangannya—yang sering dikutip dalam Kitab Nashā’ihul ‘Ibād. Empat amalan tersebut adalah: memaafkan saat marah, bersikap dermawan saat sempit, menjaga kesucian diri ketika sendirian, dan berkata benar di hadapan orang yang ditakuti. 

Kisah dalam Kitab Ushfuriyyah ini mengajarkan bahwa rasa cemas, sedih, dan berat yang muncul karena tanggung jawab terhadap agama dan keluarga bukanlah tanda lemahnya iman. Justru sebaliknya, ia adalah tanda hidupnya hati—dan jalan sunyi yang mengantarkan seorang hamba pada pahala besar dan derajat yang tinggi di sisi Allah SWT. 

Kesedihan yang lahir dari iman, pada akhirnya, bukan untuk menjatuhkan, melainkan untuk meninggikan. 

Kepohbaru, 09 Februari 2026 

Coretanku

Rezeki Anak Sudah Allah Titipkan

Rezeki Anak Sudah Allah Titipkan

Di setiap kesempatan, di mana pun dan kapan pun kita berada, selalu ada pelajaran yang bisa dipetik. Peristiwa-peristiwa kecil sering kali menyimpan

Advertisement