Setiap selesai Subuh, ada kebiasaan kecil yang perlahan menjadi wiridan hati: menyimak kajian Kang Hasyim As melalui video yang beliau unggah di TikTok. Di tengah sunyinya pagi, ketika langit belum sepenuhnya terang, nasihat para ulama terasa lebih mudah meresap.
Pada 24 Maret 2025, Kang Hasyim mengutip pendapat Syekh Az-Zarnuji dalam kitab Ta’limul Muta’allim, sebuah kitab klasik yang banyak membahas adab penuntut ilmu. Di antara nasihat penting yang beliau sampaikan adalah tentang sebab-sebab hilangnya hafalan atau mudah lupa.
Syekh Az-Zarnuji menjelaskan bahwa sebab utama pelupa bukan semata-mata faktor usia atau lemahnya daya ingat, tetapi lebih dalam dari itu—yakni kondisi ruhani seseorang.
Pertama, Banyak Berbuat Maksiat
Dosa bukan hanya meninggalkan bekas di catatan amal, tetapi juga di hati. Hati yang kotor karena maksiat akan sulit menerima cahaya ilmu. Dalam tradisi ulama, ilmu sering disebut sebagai nur (cahaya), dan cahaya tidak akan menetap pada hati yang gelap.
Imam Syafi’i pernah mengadu kepada gurunya, Imam Waki’, tentang buruknya hafalan beliau. Maka sang guru menasihatinya agar meninggalkan maksiat. Karena ilmu adalah cahaya Allah, dan cahaya Allah tidak diberikan kepada pelaku maksiat.
Betapa dalam maknanya. Ternyata lupa bukan sekadar soal otak, tetapi juga soal kebersihan jiwa.
Kedua Banyaknya Dosa
Jika maksiat adalah perbuatan, maka dosa adalah akibatnya. Semakin sering seseorang meremehkan dosa—baik kecil maupun besar—semakin berat hatinya. Hati yang berat akan sulit menyimpan ilmu.
Kadang kita heran, mengapa hafalan cepat hilang? Mengapa pelajaran yang baru saja dipelajari terasa lenyap? Bisa jadi, bukan ilmunya yang menjauh, tetapi keberkahannya yang diangkat.
Ketiga, Kekhawatiran Akan Kehidupan yang Akan Datang
Syekh Az-Zarnuji juga menyebutkan bahwa terlalu cemas terhadap masa depan dunia dapat melemahkan hafalan. Kekhawatiran berlebihan tentang rezeki, jabatan, atau nasib dunia membuat pikiran penuh dan hati sempit.
Padahal, Allah telah menjamin rezeki setiap hamba-Nya. Ketika hati dipenuhi rasa tawakal, pikiran menjadi lebih jernih. Sebaliknya, jika hati terus dihantui kecemasan dunia, ruang untuk ilmu menjadi sempit.
Bukan berarti kita tidak boleh memikirkan masa depan. Tetapi jangan sampai dunia menguasai hati, hingga menggeser kepercayaan kepada Allah.
Keempat, Terlalu Sibuk dengan Urusan Duniawi
Kesibukan dunia seringkali menyita perhatian. Gadget, pekerjaan, target materi, pergaulan—semuanya menguras fokus. Akibatnya, waktu untuk murajaah, membaca, dan merenung semakin sedikit.
Ilmu membutuhkan ketenangan. Hafalan memerlukan pengulangan. Jika hati dan waktu habis untuk dunia, maka wajar jika ilmu perlahan memudar.
Syekh Az-Zarnuji seakan mengingatkan bahwa penuntut ilmu bukan hanya dituntut rajin belajar, tetapi juga menjaga keseimbangan hidup. Dunia boleh dikejar, tetapi jangan sampai menjadi tuan atas hati.
Menjaga Hafalan, Menjaga Hati
Nasihat ini terasa sederhana, tetapi mengetuk dalam. Pelupa ternyata bukan hanya persoalan usia atau kemampuan intelektual. Ia berkaitan erat dengan kualitas hubungan kita dengan Allah.
Jika ingin hafalan kuat:
Satu, Bersihkan diri dari maksiat.
Dua, Perbanyak istighfar.
Tiga, Kurangi kecemasan berlebihan tentang dunia.
Empat, Atur kesibukan agar tetap ada ruang untuk ilmu dan zikir.
Ilmu adalah amanah. Ia tidak hanya disimpan dalam kepala, tetapi dijaga dalam hati.
Mungkin inilah sebabnya, waktu Subuh terasa begitu istimewa untuk menimba hikmah. Saat dunia masih hening, hati lebih mudah diajak jujur: sudahkah kita menjaga ilmu dengan menjaga diri?
Wallahu a’lam.
Simorejo, 12 Februari 2026
Bakda Subuh
_11zon_(1).png)










.png)


Komentar
Tuliskan Komentar Anda!