Sahur, Televisi, dan Tanggung Jawab yang Terlupa

Sahur, Televisi, dan Tanggung Jawab yang Terlupa

Oleh: Slamet Widodo, S.Pd.

(Guru MTs Negeri 3 Bojonegoro)

Bulan Ramadhan tinggal menghitung hari. Sejumlah penetapan awal Ramadhan telah beredar di media. Artinya, saat artikel ini ditulis, umat Islam di Indonesia tengah bersiap menyambut bulan suci yang hanya hadir setahun sekali—namun selalu membawa harapan besar akan perubahan diri.

Ramadhan selalu datang dengan suasana khas. Malam-malam dipenuhi salat tarawih berjamaah, tadarus Al-Qur’an, dan doa-doa yang lebih panjang dari biasanya. Menjelang dini hari, suara dari corong-corong masjid kembali memecah sunyi: “sahur… sahur…” Sebuah panggilan sederhana, tetapi sarat makna spiritual.

Di antara sekian banyak momen Ramadhan, waktu sahur memiliki keistimewaan tersendiri. Selain sebagai ikhtiar menjaga kekuatan fisik, sahur juga menjadi ruang kebersamaan keluarga yang jarang terulang di bulan-bulan lain. Dalam suasana setengah mengantuk, televisi kerap menyala—menjadi teman setia di ruang makan.

Di masa lalu, momen ini tidak hanya diisi hiburan. Ingatan saya masih lekat pada siaran radio berisi tanya jawab fikih. Topiknya ringan: niat puasa, wudu, atau hal-hal kecil yang kerap dianggap sepele. Disampaikan santai, tapi justru di situlah ilmunya meresap—tanpa terasa menggurui.

Seiring waktu, radio ditinggalkan. Televisi mengambil alih peran utama. Program sahur pun hadir dalam beragam format: komedi sketsa, talkshow keluarga selebritas, sinetron religi, hingga kompetisi dakwah. Dari sisi kreativitas dan industri hiburan, tentu patut diapresiasi. Ramadhan menjadi “musim emas” bagi televisi nasional.

Namun, justru di titik inilah pertanyaan perlu diajukan dengan jujur: apakah televisi telah menggunakan momen sahur sekadar sebagai ruang hiburan, atau juga sebagai amanah edukasi umat?

Tak bisa dimungkiri, sebagian besar tayangan sahur masih didominasi humor dan sensasi. Tawa memang penting, tetapi Ramadhan bukan sekadar soal mengusir kantuk. Ia adalah bulan pembelajaran. Bulan ketika umat Islam—termasuk mereka yang sepanjang tahun jarang bersentuhan dengan kajian—sedang membuka diri untuk belajar.

Sayangnya, peluang itu kerap terlewat.

Padahal, stasiun televisi memiliki jangkauan yang tak dimiliki mimbar-mimbar kecil di kampung. Televisi masuk ke ruang keluarga, ke meja sahur, bahkan ke rumah mereka yang mungkin tak pernah hadir di majelis taklim. Bukankah ini ruang strategis untuk menyelipkan ilmu yang paling dasar dan paling dibutuhkan?

Bayangkan jika di sela tayangan sahur, pemirsa diajak memahami fikih praktis: apa yang membatalkan puasa, kesalahan umum dalam salat, atau adab-adab ibadah harian. Atau lebih mendasar lagi, program tutorial membaca Al-Qur’an dari nol—pengenalan huruf hijaiyah, makharijul huruf, hingga tajwid praktis yang mudah diikuti siapa saja.

Tak perlu panjang, tak harus berat. Cukup singkat, konsisten, dan disampaikan dengan bahasa yang membumi. Karena tidak semua orang berangkat dari titik yang sama dalam beragama. Dan televisi, mau tidak mau, ikut memikul tanggung jawab sosial itu.

Sahur hanya berlangsung beberapa menit. Tetapi ilmu yang diselipkan di dalamnya bisa bertahan seumur hidup. Akan sangat disayangkan jika waktu sesunyi dan sesakral itu hanya berlalu sebagai rutinitas mengisi perut—tanpa upaya mengisi pemahaman.

Ramadhan selalu datang membawa cahaya. Televisi pun selalu bersolek menyambutnya. Mungkin, sudah saatnya cahaya itu tidak hanya berupa gemerlap hiburan, tetapi juga tuntunan—pelan, sederhana, dan hadir dari meja sahur keluarga Indonesia.

 Simorejo, 09 Feberuari 2026

Coretanku

Rezeki Anak Sudah Allah Titipkan

Rezeki Anak Sudah Allah Titipkan

Di setiap kesempatan, di mana pun dan kapan pun kita berada, selalu ada pelajaran yang bisa dipetik. Peristiwa-peristiwa kecil sering kali menyimpan

Advertisement