Catatan Kedua Puasa Ramadhan
Kamis malam, 19 Februari 2026. Ramadhan 1447 H baru saja beranjak dari hari pertamanya. Usai jamaah tarawih, Masjid Nurul Islam Bulu Simorejo masih dipenuhi cahaya—bukan hanya dari lampu-lampu yang menyala, tapi dari wajah-wajah yang enggan segera pulang.
Majelis taklim yang diagendakan takmir masjid ini memasuki pertemuan pertamanya. Jamaah putra dan putri, anak-anak hingga orang tua, memenuhi masjid kebanggaan Dusun Bulu. Ada yang duduk bersila rapi, ada yang menyandarkan punggung ke tembok, ada anak kecil yang sesekali mengantuk di pangkuan ibunya. Ramadhan selalu punya cara menghadirkan kehangatan yang tak dibuat-buat.
Majelis ini kembali diasuh oleh Kiai Mahrus dari Brangkal, Kepohbaru. Sudah tiga tahun beliau istikamah membersamai jamaah. Bukan tanpa alasan beliau dipilih. Selain kedalaman ilmunya—terutama dalam bidang fikih—beliau telah memahami denyut hati jamaahnya. Bahasa yang sederhana, contoh yang membumi, dan nasihat yang tidak menggurui membuat setiap kalimat terasa dekat.
Direncanakan, majelis ini akan berlangsung empat kali setiap Kamis malam, ditambah satu pertemuan pada malam Nuzulul Quran.
Menghidupkan Ramadhan dengan Ilmu dan Amal
Pada pertemuan pertama ini, kiai muda yang juga menjabat sebagai Kepala Tata Usaha di MTs Negeri 3 Bojonegoro tersebut memberikan motivasi tentang bagaimana seharusnya menyambut Ramadhan: bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi menghidupkan malam dan siang dengan amal terbaik.
Beliau mengutip kitab Durrotun Nasihin karya Syaikh Utsman bin Hasan al-Khaubawi.
Dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi Muhammad saw., disampaikan keutamaan menghadiri majelis ilmu di bulan Ramadhan: setiap langkah dicatat sebagai ibadah setahun, dan berada di bawah naungan ‘Arsy-Nya.
Beliau juga menyampaikan keutamaan lain:
Shalat berjamaah di bulan Ramadhan yang diganjar kota-kota penuh kenikmatan di surga.
Berbakti kepada orang tua yang mendatangkan pandangan rahmat Allah.
Istri yang mencari ridha suami, mendapatkan pahala seperti Maryam dan Asiyah.
Membantu sesama muslim yang akan dibalas dengan dipenuhinya kebutuhan di hari kiamat.
Bahkan menyalakan lampu masjid pun, sebagaimana diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, mendatangkan cahaya di alam kubur dan doa para malaikat selama lampu itu menyala.
Laras Hening di Ujung Malam
Ketika majelis usai, jamaah perlahan berdiri. Ada yang masih bersalaman, ada yang berbisik pelan, ada yang bergegas pulang karena anaknya mulai mengantuk.
Di luar, rintik hujan turun pelan. Bukan hujan deras yang mengusir, melainkan gerimis lembut yang seakan ikut menyimak nasihat malam itu. Atap masjid berdenting lirih, menyatu dengan sisa bacaan doa yang masih menggantung di udara.
Lampu-lampu masjid memantulkan cahaya ke halaman yang basah. Sendal-sendal berjajar rapi, sebagian sudah terciprat air. Langkah jamaah terdengar pelan, hati-hati agar tidak tergelincir—seperti hati yang juga sedang belajar berjalan pelan menuju Allah.
Ramadhan selalu mengajarkan bahwa kebaikan tidak harus besar untuk bernilai. Melangkah ke masjid saja sudah dihitung ibadah setahun. Menyalakan lampu saja menjadi cahaya di kubur. Membantu satu saudara saja bisa berbuah seribu kemudahan.
Betapa Allah begitu pemurah di bulan ini.
Di sudut-sudut desa seperti Bulu dan Laraswangi, Ramadhan tidak datang dengan gemerlap lampu kota. Ia hadir lewat suara sandal yang berderap menuju masjid, lewat sajadah yang digelar diam-diam, lewat doa seorang ibu yang tak terdengar siapa pun kecuali langit—dan malam itu, lewat rintik hujan yang seperti tasbih alam.
Barangkali kita bukan ahli ibadah.
Barangkali langkah kita masih tertatih.
Namun jika setiap Kamis malam kita mau melangkah menuju majelis ilmu, duduk bersila dengan hati yang ingin diperbaiki, maka boleh jadi Ramadhan tahun ini bukan sekadar lewat—tetapi benar-benar menetap dalam jiwa.
Semoga cahaya yang dinyalakan di Masjid Nurul Islam malam itu, bersama rintik hujan yang membasahi halaman, menjadi saksi bahwa ada hamba-hamba yang sedang berusaha pulang.
Aamiin ya Rabbal ‘alamin
Simorejo, 20 Februari 2026
Dini hari, 00.05 WIB.











.png)


Komentar
Tuliskan Komentar Anda!