Ramadhan adalah bulan untuk melatih dan menempa diri. Ia bukan sekadar bulan menahan lapar dan dahaga, tetapi bulan pendidikan rohani. Tujuannya jelas: agar kita menjadi pribadi yang Muttaqin, sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an.
Kebiasaan-kebiasaan baik yang dilakukan selama Ramadhan diharapkan tidak berhenti ketika hilal Syawal terlihat. Ia harus membekas. Menjadi karakter. Menjadi laku hidup setelah Ramadhan berlalu.
Di antara amal yang sangat ditekankan pada bulan suci ini adalah salat berjamaah.
Dalam kitab Durrotun Nasihin karya Syaikh Utsman bin Hasan al-Khaubawi, pada halaman 9, dijelaskan beberapa keistimewaan salat berjamaah di bulan Ramadhan. Disebutkan bahwa:
Barang siapa membiasakan mengerjakan salat berjamaah pada bulan Ramadhan, maka Allah Swt. akan memberikan kepadanya pada setiap rakaat sebuah kota, yang di dalamnya dipenuhi berbagai kenikmatan dari Allah Swt.
Betapa luar biasanya balasan tersebut. Satu rakaat saja dibalas dengan sebuah kota penuh kenikmatan. Maka bagaimana dengan puluhan rakaat yang kita dirikan sepanjang Ramadhan—baik salat wajib maupun tarawih?
Namun keutamaan salat berjamaah tidak hanya terbatas di bulan Ramadhan. Di luar Ramadhan pun, salat berjamaah memiliki derajat yang sangat tinggi.
Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Rasulullah ﷺ bersabda:
“Shalat berjamaah lebih utama dibandingkan salat sendirian dengan dua puluh tujuh derajat.” (HR. Bukhari)
Hadits ini menjadi pengingat bahwa Islam sangat menekankan kebersamaan dalam ibadah. Masjid bukan hanya tempat sujud, tetapi tempat menyatukan hati, meluruskan saf, dan merajut ukhuwah.
Ramadhan seharusnya menjadi titik balik. Jika selama ini kita masih sering lalai berjamaah, maka Ramadhan adalah saat terbaik untuk membiasakan diri. Dan jika kebiasaan itu telah tumbuh selama sebulan penuh, sungguh terasa sayang jika setelah Ramadhan kita kembali longgar.
Jangan sampai masjid ramai hanya saat Ramadhan, lalu kembali lengang setelahnya.
Semoga Ramadhan benar-benar menempa kita menjadi hamba yang istikamah—bukan hanya rajin karena musim, tetapi taat karena kesadaran.
Simorejo, 16 Februari 2026
Bakda Subuh yang redup


_11zon.png)

_11zon_(1).png)






.png)


Komentar
Tuliskan Komentar Anda!