Menjaga Harmoni di Malam Pertama Ramadhan

Menjaga Harmoni di Malam Pertama Ramadhan

Alhamdulillah, biidznillah,

akhirnya kembali dipertemukan dengan malam pertama Ramadhan 1447 H. Berdasarkan keputusan Sidang Isbat pemerintah, 1 Ramadhan tahun ini bertepatan dengan 19 Februari 2026 M.

Tahun ini, dalam mengawali puasa, kita harus berbeda. Namun tak mengapa. Dalam catatan sejarah, perbedaan bukanlah hal baru bagi negeri ini.

Meski berbeda, kita tetap saudara. Sebangsa dan setanah air Indonesia.

Sudah menjadi tradisi, setiap malam di bulan Ramadhan selalu ada kegiatan tadarus bersama. Di masjid, musala, atau tempat-tempat lainnya. Menggunakan pengeras suara. Tujuannya sama: menghidupkan malam Ramadhan dan menjadi sarana syiar Islam.

Biasanya, kegiatan tadarus berlangsung hingga pukul dua belas malam. Suara lantunan ayat suci terdengar lantang melalui corong masjid, menembus sunyi kampung.

Namun tahun ini, khususnya di Masjid Nurul Islam Bulu Simorejo, ada sedikit penyesuaian. Kegiatan tadarus tetap berjalan hingga tengah malam. Hanya saja, pengeras suara luar yang biasanya berbunyi sampai pukul sebelas malam, kini pukul sepuluh malam sudah dialihkan ke pengeras suara dalam.

Tujuannya sederhana namun penuh makna: menghormati dan menghargai jamaah yang sedang beristirahat di rumah. Mayoritas warga adalah petani. Saat ini sedang musim panen padi. Seharian mereka bekerja di sawah, menjemur gabah, mengangkut hasil panen. Tubuh mereka lelah, meski hati tetap ingin dekat dengan Al-Qur’an.

Penyesuaian ini juga sejalan dengan arahan Kementerian Agama Republik Indonesia melalui Surat Edaran Nomor 5 Tahun 2022. Regulasi tersebut bukan melarang penggunaan pengeras suara di masjid atau musala, melainkan mengatur demi menjaga harmoni di tengah masyarakat.

Pedoman itu membedakan penggunaan pengeras suara dalam (untuk salat dan kegiatan internal) dan pengeras suara luar (untuk azan dan syiar tertentu), dengan batasan waktu, volume maksimal 100 dB, serta anjuran agar suara yang dikumandangkan terdengar merdu dan tidak berlebihan.

Ramadhan mengajarkan kita bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga. Ia juga mengajarkan adab. Mengajarkan empati. Mengajarkan bahwa ibadah yang baik bukan hanya yang khusyuk secara pribadi, tetapi juga yang menghadirkan ketenangan bagi sesama.

Di Laraswangi—atau di dusun mana pun—Ramadhan selalu menemukan caranya untuk menjadi indah. Kadang bukan karena lantangnya suara, tetapi karena lembutnya sikap.

Sebab sejatinya, syiar tidak selalu harus keras. Kadang ia cukup terdengar di langit, meski pelan di telinga manusia.


Simorejo, 18 Februari 2026

Awal Ramadhan 1447 H

Coretanku

Rezeki Anak Sudah Allah Titipkan

Rezeki Anak Sudah Allah Titipkan

Di setiap kesempatan, di mana pun dan kapan pun kita berada, selalu ada pelajaran yang bisa dipetik. Peristiwa-peristiwa kecil sering kali menyimpan

Advertisement