(Guru MTs Negeri 3 Bojonegoro)
Bocah-bocah kecil, santri putra-putri yang polos, berkumpul di samping masjid. Tubuh mungil mereka dibalut sarung dan baju koko panjang, berkopyah. Ada pula yang mengenakan celana panjang. Anak-anak perempuan memakai gamis dan kerudung sederhana. Di tangan kanan mereka tergenggam plastik bening berisi bunga kenanga, sementara tangan kiri memegang gagang payung kecil untuk melindungi diri dari rintik hujan.
Mereka berkumpul, menunggu komando dari ustaz dan ustazah yang mendampingi, untuk berangkat menuju makam leluhur di ujung utara dusun.
Setelah lengkap, sang ustaz mengajak mereka berjalan kaki menyusuri jalan beraspal yang basah diguyur hujan. Wajah-wajah kecil itu tampak ceria. Mereka berjalan sambil bergurau.
“Kembangmu kok cuma sedikit?” tanya Hisyam kepada Zaka.
“Ya, ini diambilkan ibuku,” tukas Zaka singkat, sambil mengangkat plastik di tangan kanannya. Tangan kirinya tetap menopang payung kecil di atas kepala.
“Kamu tahu makam nenekmu?” tanya Arga.
“Tahu, lah. Saya kan pernah diajak Bapak ziarah,” jawab Zaka.
“Saya agak lupa,” tutur Irsyad yang berjalan di belakang mereka.
Mereka menempuh perjalanan sekitar enam ratus meter dengan riang. Melewati jalan beraspal, lalu berbelok ke jalan setapak menuju kompleks makam.
Sesampainya di pintu makam, Ustaz Ahsan meminta para santri berhenti sejenak. Beliau membaca salam kepada ahli kubur dan para santri menirukannya.
“Assalāmu ‘alaikum ahlad-diyāri minal-mu’minīna wal-muslimīn, wa innā in syā’allāhu bikum lāhiqūn. Nas’alullāha lanā wa lakumul ‘āfiyah.”
Setelah itu, satu per satu para santri memasuki area makam. Ustaz Ahsan menunjuk beberapa kubur para penjaga obor agama Islam di Dusun Laraswangi tercinta. Kebetulan makam mereka berada dalam satu lokasi dan berdampingan.
Setelah dirasa cukup, para santri—bersama beberapa orang tua yang sengaja mendampingi anaknya yang masih kecil—duduk menghadap ke barat, memanjang di jalan setapak.
Tahlil pun dimulai, dipimpin oleh Ustaz Ahsan. Jamaah yang hadir mengikutinya dengan lirih. Acara ditutup dengan doa yang dipimpin Pak Salman.
“Selanjutnya, silakan menuju makam keluarganya masing-masing,” tutur Ustaz Ahsan memberi arahan.
“Ayo, temani saya, ya,” pinta Putri kepada temannya, Azkia.
“Iya, ayo…,” jawab Azkia spontan. Mereka pun menuju kuburan kakek-neneknya.
Para santri berpencar menuju makam para leluhurnya. Mereka duduk di sisi barat kubur, lalu menaburkan bunga di atasnya.
Suasana makam yang semula sunyi berubah menjadi riuh rendah suara anak-anak yang saling bertanya dan mencari keberadaan makam keluarganya.
Tiba-tiba tangisan pecah.
“Ustazah, Wildan nangis!” teriak Azmi setelah melihat temannya menangis.
“Lho, kenapa menangis?” tanya Ustazah Fita, segera menghampiri.
“Dia belum menemukan kuburan kakek-neneknya, Ustazah…,” jawab Rika agak berteriak.
“Wil, ini loh kuburan Kakekmu,” tutur Pak Man memberi petunjuk. Kebetulan kuburan Kakek Wildan bersebelahan dengan kuburan ibu mertua Pak Man.
Masih terisak, Wildan mendekat dan menaburkan bunga di atas kuburan Kakeknya.
“Kalau kuburan Nenekmu, saya tidak tahu,” tambah Pak Man. “Sampeyan gak pernah diajak Bapakmu ziarah?”
Wildan menggeleng, mengusap air matanya dengan lengan baju. Tangan kirinya masih memegang erat plastik bening berisi bunga kenanga itu.
Sementara itu, di sisi lain, seorang anak laki-laki berusia empat tahun berdiri didampingi kakak perempuannya.
“Kak, mana kuburan Bapak?” tanya Zikri polos.
“Iya, Dek. Kuburan Bapak di sana,” jawab kakaknya sambil menunjuk sebuah makam di tengah.
“Ayo ke sana,” ajak Zikri, tak sabar ingin segera bertemu bapaknya.
“Saat ini Bapak lagi apa ya, Kak?” tanyanya lagi.
Kakaknya terdiam sejenak. Ia teringat Bapak meninggalkan mereka saat Zikri masih berusia satu setengah tahun. Wajah Bapak bahkan mungkin sudah samar dalam ingatan adiknya itu.
“Kak… Bapak lagi apa?” ulang Zikri, menatap polos.
Kakaknya berlutut agar sejajar dengan tinggi badan Zikri. Tangannya yang dingin karena hujan menggenggam jemari kecil adiknya.
“Bapak lagi istirahat panjang, Dek,” ucapnya pelan. “Bapak sekarang ada di tempat yang lebih baik. Kita doakan saja, ya.”
“Bapak bisa dengar Zikri?” tanya Zikri lagi.
Kakaknya tersenyum tipis, meski matanya mulai berkaca-kaca.
“InsyaAllah, kalau kita doakan, Allah yang sampaikan.”
Zikri mengangguk kecil. Ia lalu berjalan mendekati makam yang ditunjuk kakaknya. Tanahnya masih basah. Rumput-rumput kecil tumbuh malu-malu di sekeliling nisan sederhana itu.
Zikri berjongkok. Plastik bening berisi bunga kenanga dibukanya dengan susah payah. Beberapa kuntum jatuh lebih dulu ke tanah.
“Kak, bantu…” pintanya.
Kakaknya membantu menaburkan bunga itu di atas pusara.
Zikri menengadahkan tangan kecilnya.
“Ya Allah… jaga Bapak, ya. Biar Bapak nggak kehujanan,” doanya polos.
Kakaknya tak kuasa menahan air mata. Ia segera memalingkan wajah agar adiknya tak melihat.
Di sudut lain makam, Wildan masih duduk diam di samping pusara Kakeknya. Isaknya sudah reda, tapi matanya masih sembab. Ustazah Fita mendekat dan mengusap kepalanya pelan.
“Kalau belum tahu makam Nenek, nanti tanya Bapak di rumah, ya. Lain kali kita datang lagi.”
Wildan mengangguk pelan.
Hujan makin tipis. Gerimis tinggal menyisakan titik-titik kecil yang jatuh di atas daun-daun kamboja. Aroma tanah basah bercampur wangi kenanga memenuhi udara pagi.
Satu per satu anak-anak selesai menabur bunga dan berdoa. Ada yang masih bertanya letak makam, ada yang sudah berlari kecil menyusul temannya. Riuh rendah suara mereka perlahan kembali seperti semula—ceria, polos, tanpa beban panjang orang dewasa.
Namun pagi itu, di antara nisan-nisan yang sunyi, ada pelajaran yang diam-diam tertanam di hati mereka.
Tentang hidup yang sementara.
Tentang rindu yang tak selalu bisa dipeluk.
Tentang doa yang menjadi jembatan antara yang tinggal dan yang telah pulang.
“Sudah semua?” tanya Ustaz Ahsan setelah memastikan para santri berkumpul kembali.
“Sudah…” jawab mereka serempak.
“Kalau begitu, kita pulang. Jangan lupa, nanti malam mulai bersih-bersih masjid. Ramadhan sudah dekat.”
Anak-anak itu kembali berjalan menyusuri jalan setapak. Payung-payung kecil mereka terbuka seperti bunga-bunga warna-warni di tengah langit kelabu Laraswangi.
Di belakang mereka, makam-makam kembali sunyi. Tapi pagi itu tak lagi sama. Ada doa-doa kecil yang telah diantar ke langit.
Dan mungkin, di tempat yang tak terlihat mata, para leluhur tersenyum—melihat generasi kecil itu mulai belajar tentang cinta, kehilangan, dan harapan.
Ramadhan belum benar-benar tiba. Namun hati-hati kecil di Laraswangi telah lebih dulu menyiapkan dirinya.
Laraswangi, 17 Februari 2026




_11zon.png)






.png)


Komentar
Tuliskan Komentar Anda!