(Guru MTs Negeri 3 Bojonegoro)
Suasana
malam itu begitu damai. Langit bertabur bintang, sementara di cakrawala
semburat cahaya putih menggantung samar. Jarum jam tepat menunjuk angka satu.
Kiai
Haji Abdul Qodir duduk dalam tasyahud akhir. Tubuhnya tenang, kepalanya sedikit
menunduk. Di tangan kanannya, tasbih berputar pelan, menghitung zikir yang ia
titipkan pada keheningan. Kopiah hitam usang setia menempel di rambutnya yang
mulai memutih.
Musala
kecil itu berdiri sunyi di samping rumahnya—bangunan sederhana yang ia dirikan
dengan tangan dan doa. Di sanalah Yai Qodir, biasa santrinya memanggil, biasa
ber-i‘tikaf, memutus jarak dengan dunia, mendekatkan diri sepenuh-penuhnya
kepada Allah.
Hening.
Tak
ada suara selain detak jam dinding dan gesekan butiran tasbih. Malam seakan
menahan napas, seolah menunggu sesuatu yang agung turun tanpa tanda.
“Subhanallah
walhamdulillah, wala ilaha illallah, wallahu akbar.”
Kalimat
thayyibah itu lirih keluar dari bibirnya—bibir yang menghitam oleh kebiasaan
lama menghisap rokok kelobot. Kebiasaan di masa lalu, sebelum ia sepenuhnya
dititipi amanah umat, yang kerap menemaninya berpikir dan menyepi.
Dua
jam telah berlalu sejak corong-corong masjid dan musala berhenti melantunkan
tadarus. Para santri—kebanyakan santri putra—sebagian terlelap di teras musala.
Sebagian lain mengikuti kiainya, duduk di sudut-sudut musala, menyandarkan
tubuh pada dinding papan yang dingin. Ada pula yang memilih bermurojaah di
kamar masing-masing.
Malam
ini malam dua puluh tujuh Ramadhan. Sepuluh malam terakhir. Malam yang oleh
para ulama diyakini sebagai malam istimewa—malam turunnya Lailatul Qadar. Malam
yang nilainya lebih baik daripada seribu bulan. Para santri sengaja belum
pulang, berharap dapat bermunajat bersama kiai dan sesama santri.
Yai
Qodir berdiri menunaikan salat dua rakaat. Berdiri, rukuk, dan sujudnya
berlangsung lama, seolah ia enggan berpisah dari setiap gerakan. Usai salam,
kedua tangannya terangkat tinggi, melewati kepala—tanda doa yang ia panjatkan
bukan doa biasa.
Selesai
bermunajat, ia melangkah menghampiri para santri. Yang bersandar di dinding
disentuh bahunya perlahan. Yang terlelap di teras dibangunkan dengan suara
pelan. Dari kamar-kamar, para santri diminta segera berwudu dan menunaikan
salat dua rakaat.
Tak
lama kemudian, musala kembali terisi. Mereka berdiri berbaris seperti saf salat
berjamaah, namun masing-masing larut dalam salat sunahnya sendiri.
Yai
Qodir justru berdiri di halaman, tepat di depan musala. Tasbih masih berputar
di tangannya. Bibirnya basah oleh zikir yang tak putus. Pandangannya menengadah
ke langit.
Cahaya
putih berkilauan. Malam tampak terang tanpa lampu. Tak ada angin berembus. Tak
terdengar suara binatang malam yang biasa menemani munajatnya. Segalanya
hening—tenang dengan cara yang tak biasa.
Ia
melirik jam dinding yang tergantung di atas imaman musala. Jarum menunjuk lewat
angka dua. Ia memastikan cahaya itu bukan fajar kazib, bukan pula fajar shadiq.
Keyakinannya
menguat.
Zikirnya
kian rapat. Tasbih tahmid dan takbir berputar lebih cepat, bukan karena
tergesa, melainkan karena takzim pada tanda-tanda kebesaran Allah yang tengah
ia saksikan.
“Malam
ini Lailatul Qadar,” ucapnya lirih, namun mantap.
Keyakinan
itu bersandar pada kitab-kitab yang selama puluhan tahun ia kaji—tentang
tanda-tanda malam yang lebih baik dari seribu bulan.
Tiba-tiba,
sebuah benda bercahaya putih tampak di atas lor-kulon musala. Meluncur cepat
seperti kilat, lalu jatuh tepat di belakang bangunan itu.
Ia
meyakini benda tersebut bukan sesuatu yang biasa. Itu salah satu setitik tanda
dari malam Lailatul Qadar.
“Subhanallah…
tumibo ing jublang,” tuturnya lirih.
Jublang
bekas galian itu telah lama ada, bersamaan dengan dibangunnya musala. Cekungan
tanah tersebut dahulu digunakan untuk menguruk lantai musala dan kamar para
santri. Kini jublang itu menggenang air lebih dari dua qullah, digunakan para
santri untuk bersuci. Airnya tetap bening, tak pernah keruh.
Didorong
rasa penasaran, Yai Qodir berniat menguras air jublang tersebut.
Ia
menuju rumah. Bu nyai rupanya masih bermunajat di dalam kamar. Sementara tiga
putranya masih terjaga di ruang depan. Tak satu pun menanyakan apa yang hendak
dilakukan Abahnya.
Ia
menuju dapur, mengambil bojok—anyaman bambu yang biasa digunakan untuk mengairi
sawah dari selokan. Ia kembali ke jublang di belakang musala dan mulai menguras
airnya hingga habis. Anehnya, tak satu pun santri di musala mendengar aktivitas
kiainya itu. Sebelum waktu imsak berakhir, jublang telah terkuras seluruhnya.
Di
tengah jublang tampak benda kecil, sebesar jempol kaki orang dewasa,
memancarkan kilau cahaya. Ia mendekat, lalu mengambilnya. Rupanya seekor ikan
lele.
Dengan
penuh keyakinan, ikan itu dimakannya mentah-mentah.
“Alhamdulillah…
Ya Allah, betapa nikmatnya,” ucapnya spontan, nyaris tanpa sadar.
Ia
merasakan kenikmatan yang tak terperi—kenikmatan yang belum pernah sekali pun
ia rasakan sepanjang hidupnya.
Seorang
santri di musala sempat mendengar suara kiainya. Ia menghentikan zikir sejenak,
lalu mengabaikannya dan kembali larut dalam i‘tikaf.
Yai
Qodir naik ke tepi jublang, lalu memerintahkan para santri untuk bersiap makan
sahur.
Anehnya,
jublang yang tadi terkuras habis kini kembali penuh seperti sediakala, seolah
tak pernah terjadi apa-apa.
“Saya
tak boleh menceritakan ini kepada siapa pun, kecuali keluargaku dan guruku
sendiri. Bahkan kepada para santriku,” gumamnya lirih.
Ia
teringat pesan kitab-kitab yang pernah ia kaji: barang siapa mendapati malam
Lailatul Qadar, hendaknya tidak menceritakannya kepada orang lain.
Usai
sahur bersama Bu nyai dan ketiga putranya, Yai Qodir menceritakan apa yang baru
saja ia alami. Kepada ketiga putranya, ia berkata dengan mantap,
“Silakan
sampaikan keinginan kalian. Abah akan mendoakan kalian semua.”
Bu
nyai menunduk, mengamini doa suaminya.
Doa-doa
itu tak pernah diumumkan, tak pula dipamerkan. Waktu yang kelak menjawabnya.
Ketiga putranya tumbuh menapaki jalan masing-masing, membawa keberkahan yang
mengalir pelan, sebagaimana doa yang dipanjatkan pada malam sunyi itu.
Yai
Qodir pun mendoakan para santrinya—tanpa mereka tahu, tanpa ia pernah
menyebutkannya. Banyak di antara mereka yang kemudian hidup dalam kelapangan,
menemukan jalan ilmu dan pengabdian, seolah dituntun oleh sesuatu yang tak
kasatmata.
Yai
Qodir hanya pernah berujar lirih, bahwa lidahnya sempat mati rasa hampir dua
tahun lamanya. Semua makanan terasa hambar.
Ada
satu nikmat yang tak pernah kembali. Nikmat yang turun pada malam yang tak
diceritakan itu.
Laraswangi,
08 Februari 2026
Bakda
Isyak







.png)




.png)



Komentar
Tuliskan Komentar Anda!