Dalam sebuah kajian daring yang diunggah di TikTok pada 25 Februari 2025, Kang Hasyim As. menyampaikan sebuah nasihat yang begitu menohok hati. Beliau mengutip perkataan ulama besar Mesir, Syekh Muhammad Mutawalli Asy-Sya'rawi:
“Segala sesuatu akan menjadi layu dan tak bertenaga ketika meninggalkannya. Kecuali Al-Qur’an. Ketika kamu meninggalkan Al-Qur’an, maka kamu yang akan layu.”
Kalimat itu terdengar sederhana. Namun jika direnungkan perlahan, ia seperti cermin yang memantulkan kondisi hati kita sendiri.
Hukum Dunia: Yang Ditinggalkan Akan Melemah dan Layu
Dalam kehidupan, kita memahami satu hukum yang hampir tak pernah berubah.
Tanaman yang tidak disiram akan layu.
Tubuh yang tidak diberi makan akan lemah.
Ilmu yang tidak diulang akan lupa.
Hubungan yang tidak dijaga akan renggang.
Begitulah sunnatullah kehidupan: sesuatu yang ditinggalkan perlahan kehilangan daya.
Namun Al-Quran berbeda.
Ia tidak akan kehilangan kemuliaannya meski jarang kita baca. Ia tidak akan berkurang cahayanya meski lama tersimpan di rak. Allah sendiri yang menjaganya:
“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Adz-Dzikr (Al-Qur’an), dan sesungguhnya Kami benar-benar menjaganya.” (QS. Al-Hijr: 9)
Yang melemah bukan ayat-ayatnya.
Yang redup bukan cahayanya.
Yang layu adalah hati kita.
Ketika Hati Kehilangan Cahaya
Al-Quran adalah cahaya bagi jiwa. Jika kita menjauh darinya, bukan berarti cahaya itu padam. Kita hanya memilih berjalan di tempat yang gelap.
Tak jarang kita merasa:
Hati mudah gelisah.
Ibadah terasa hambar.
Doa seperti tak lagi menggetarkan.
Hidup terasa sempit meski rezeki cukup.
Allah telah mengingatkan:
“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh baginya kehidupan yang sempit…” (QS. Thaha: 124)
Sempit itu bukan selalu berarti kekurangan harta. Kadang ia berupa dada yang terasa sesak, pikiran yang tak tenang, atau hati yang sulit bersyukur.
Bisa jadi bukan karena dunia terlalu berat.
Bisa jadi karena kita terlalu lama menjauh dari firman-Nya.
Al-Quran adalah Ruh
Allah menyebut wahyu sebagai ruh:
“Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu ruh (Al-Quran) dengan perintah Kami.” (QS. Asy-Syura: 52)
Ruh itu yang menghidupkan. Tanpa ruh, jasad hanya tubuh tanpa daya.
Begitu pula hati. Tanpa Al-Quran, ia mudah dipenuhi prasangka, keluh kesah, iri, dan kegelisahan yang tak selesai.
Orang yang dekat dengan Al-Quran bukan berarti hidupnya tanpa masalah. Namun di tengah masalah, ia tetap memiliki pegangan. Di tengah badai, ia tetap memiliki arah.
Bukan Al-Quran yang Membutuhkan Kita
Kadang kita merasa sedang “menghidupkan” Al-Quran dengan membacanya.
Padahal sejatinya, kitalah yang dihidupkan.
Al-Quran tidak membutuhkan suara kita.
Ia tidak bergantung pada tajwid kita.
Ia tidak menunggu waktu luang kita.
Kitalah yang membutuhkan petunjuknya.
Kitalah yang memerlukan ketenangan darinya.
Kitalah yang akan layu jika menjauh.
Meninggalkan Al-Quran bukan sekadar membuat mushaf berdebu. Ia membuat hati perlahan mengeras tanpa kita sadari.
Refleksi dari Sudut Desa
Di desa seperti Laraswangi, dahulu suara anak-anak mengaji selepas magrib menjadi irama yang menenangkan. Suara mereka mungkin belum fasih, kadang terbata, kadang keliru panjang pendeknya. Tapi hidup.
Kini mushaf masih ada. Aplikasi Al-Quran pun tersedia di genggaman. Namun kebersamaan kita dengannya sering tertunda oleh kesibukan, notifikasi, dan urusan yang terasa lebih mendesak.
Tanpa sadar, hati kita pun ikut mengering.
Maka jika hari ini terasa berat.
Jika dada terasa sempit.
Jika ibadah terasa hambar.
Mungkin bukan dunia yang terlalu kejam.
Mungkin kita hanya perlu kembali duduk bersama Al-Quran.
Karena benar nasihat itu:
Al-Quran tidak akan layu ketika kita meninggalkannya.
Kitalah yang akan layu.
Semoga kita termasuk hamba yang selalu kembali. Bukan hanya saat hati retak, tetapi sebelum ia benar-benar kering.
Wallahu a’lam.
Simorejo, 24 Februari 2026
Bakda Shubuh



_11zon.png)







.png)


Komentar
Tuliskan Komentar Anda!