Antara Lapar dan Sabar

Antara Lapar dan Sabar

Catatan Hari Kelima Puasa. 

Biasanya, di titik ini tubuh mulai benar-benar sadar: ini bukan sekadar menunda makan. Lapar tidak lagi mengejutkan. Ia datang seperti tamu rutin setiap siang. Tenggorokan mengering lebih cepat. Kepala kadang terasa berat. Pekerjaan tetap berjalan. Tanggung jawab tidak ikut berpuasa. 

Dan di situlah saya mulai paham — puasa bukan hanya soal lapar. Puasa adalah latihan sabar. 

Allah SWT berfirman: 

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183) 

Tujuannya bukan sekadar menahan makan dan minum. Tujuannya la‘allakum tattaqun — agar kita bertakwa. Dan jalan menuju takwa itu tidak pernah jauh dari sabar. 

Bahkan ketika Allah memerintahkan kita meminta pertolongan, Dia menyebut sabar lebih dahulu: 

“Dan mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat.”  (QS. Al-Baqarah: 45) 

Sebagian ulama tafsir menjelaskan bahwa yang dimaksud “sabar” dalam ayat ini termasuk puasa. Imam Al-Qurthubi menyebut adanya pendapat sahabat yang menafsirkan sabar dengan ash-shaum (puasa) (Tafsir Al-Qurthubi, Juz 1). 

Artinya, sejak awal Allah sudah memberi isyarat: puasa adalah sekolah sabar. 

Rasulullah saw bersabda: 

“Puasa adalah setengah dari kesabaran.” (HR. At-Tirmidzi no. 3519, hasan) 

Dalam riwayat lain: 

“Puasa itu perisai.” (HR. Al-Bukhari no. 1894; Muslim no. 1151) 

Perisai dari apa? 

Dari ledakan emosi. Dari kata-kata yang tak perlu. Dari keputusan yang diambil karena marah. 

Sebab sering kali yang membatalkan pahala puasa bukan lapar, tapi lisan. 

Rasulullah  bahkan mengajarkan kalimat sederhana ketika emosi datang: 

“Jika salah seorang di antara kalian berpuasa, janganlah ia berkata kotor dan berbuat bodoh. Jika ada yang mencacinya atau memeranginya, hendaklah ia berkata: Sesungguhnya aku sedang berpuasa.” (HR. Al-Bukhari no. 1904; Muslim no. 1151) 

Kalimat itu bukan untuk orang lain. Itu pengingat untuk diri sendiri. 

“Aku sedang berpuasa.” Artinya: aku sedang belajar sabar. 

Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu pernah berkata: 

“Kami mendapati kebaikan hidup dengan sabar.” (HR. Al-Bukhari, Kitab Ar-Riqaq) 

Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu juga berkata: 

“Sabar itu kedudukannya dalam iman seperti kepala pada tubuh.” (Al-Baihaqi, Syu’ab al-Iman) 

Tanpa kepala, tubuh tidak hidup. Tanpa sabar, iman tidak tegak. 

Ibnu Qayyim dalam Madarij As-Salikin menjelaskan bahwa sabar ada tiga: sabar dalam ketaatan, sabar meninggalkan maksiat, dan sabar menghadapi takdir. Jika direnungkan, puasa merangkum semuanya. Kita sabar bangun sahur. Sabar menahan amarah. Sabar menerima lemas dan letih. 

Dan Allah menjanjikan sesuatu yang tidak biasa: 

“Sesungguhnya orang-orang yang bersabar akan diberi pahala tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10) 

Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa pahala sabar tidak dihitung dengan ukuran biasa. Ia diberikan tanpa takaran. 

Hari kelima Ramadhan ini, saya belajar satu hal: lapar hanyalah permukaan. Yang sedang Allah bentuk sebenarnya adalah kedalaman hati. 

Di Laraswangi, siang Ramadhan terasa lebih pelan. Warung-warung menutup separuh pintunya. Anak-anak pulang sekolah dengan langkah lebih hemat tenaga. Angin sore datang tanpa tergesa. Kadang terdengar suara orang menghela napas panjang di serambi rumah. 

Entah karena haus. Entah karena letih. 

Tapi mungkin, di sela helaan napas itu ada doa yang tak terdengar manusia, namun jelas di langit. 

Karena pada akhirnya, antara lapar dan sabar — yang Allah nilai bukan seberapa kuat perut kita bertahan. Yang Allah lihat adalah seberapa lapang dada kita menahan diri. 

Jika hanya lapar, kita mungkin lelah.  Tapi jika sabar, kita sedang bertumbuh. 

Semoga di hari kelima ini, yang semakin kuat bukan rasa laparnya — melainkan kesabarannya. 

Simorejo, 23 Feberuari 2027 

Menjelang Dhuha 

Coretanku

Rezeki Anak Sudah Allah Titipkan

Rezeki Anak Sudah Allah Titipkan

Di setiap kesempatan, di mana pun dan kapan pun kita berada, selalu ada pelajaran yang bisa dipetik. Peristiwa-peristiwa kecil sering kali menyimpan

Advertisement