Menjaga Lisan, Menjaga Puasa

Menjaga Lisan, Menjaga Puasa

Catatan Keempat Puasa Ramadhan

Ramadhan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga. Sejak terbit fajar hingga terbenam matahari, kita memang menahan diri dari makan, minum, dan segala yang membatalkan puasa. Namun sejatinya, yang lebih berat dari itu adalah menahan lisan.
 

Betapa sering perut kita mampu bersabar, tetapi lisan kita masih gemar berkelana. 

Padahal Rasulullah saw. telah mengingatkan dengan sangat tegas: 

“Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan dusta, maka Allah tidak butuh terhadap puasanya dari makan dan minumnya.” (HR. al-Bukhari no. 1903) 

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muhammad al-Bukhari dalam kitab monumentalnya, Shahih al-Bukhari. Pesannya jelas: puasa bukan sekadar ritual fisik, tetapi latihan integritas hati dan lisan. 

Puasa dan Pendidikan Lisan 

Allah Swt. berfirman: 

“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183) 

Tujuan puasa adalah takwa. Dan takwa sangat erat kaitannya dengan kendali diri—termasuk kendali terhadap ucapan. 

Dalam ayat lain, Allah mengingatkan: 

“Tidaklah suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap mencatat.”  (QS. Qaf: 18) 

Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya, Tafsir Ibnu Katsir, menjelaskan bahwa setiap ucapan, baik yang ringan maupun berat, semuanya dicatat tanpa terlewat sedikit pun. Betapa banyak pahala puasa yang mungkin terkikis hanya karena satu kalimat yang tidak terjaga. 

Lisan yang Menggugurkan Pahala 

Rasulullah saw. juga bersabda: 

“Puasa itu perisai. Maka apabila salah seorang di antara kalian sedang berpuasa, janganlah ia berkata kotor dan jangan pula berbuat bodoh. Jika ada seseorang yang mencacinya atau mengajaknya bertengkar, hendaklah ia berkata: ‘Sesungguhnya aku sedang berpuasa.’” (HR. al-Bukhari no. 1894 dan Muslim no. 1151) 

Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim ibnu al-Hajjaj dalam Shahih Muslim. 

Puasa adalah perisai—namun perisai itu berlubang jika lisan kita tak terkendali. Ghibahnamimah (adu domba), dusta, sindiran tajam, hingga komentar kasar di media sosial—semuanya bisa menggerogoti pahala yang susah payah kita kumpulkan sejak sahur. 

Betapa meruginya jika kita menahan lapar seharian, tetapi pahala kita habis sebelum magrib tiba. 

Ulama dan Bahaya Lisan 

Imam Abu Hamid al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menyebutkan bahwa dosa lisan termasuk yang paling mudah dilakukan namun paling berat akibatnya. Lisan adalah anggota tubuh kecil, tetapi dampaknya luas dan sering kali tak dapat ditarik kembali. 

Beliau menjelaskan bahwa menjaga lisan adalah bagian dari kesempurnaan puasa, bukan sekadar pelengkapnya. 

Menjaga Lisan di Era Digital 

Di zaman sekarang, lisan tidak hanya berupa ucapan langsung. Ia menjelma menjadi status, komentar, unggahan, dan pesan singkat. Jari-jari kita bisa menjadi perpanjangan dari lisan. 

Satu kalimat yang diketik dalam hitungan detik, bisa menyakiti hati orang lain bertahun-tahun lamanya. 

Ramadhan seharusnya menjadi madrasah pengendalian diri. Jika kita mampu menahan lapar yang menyiksa perut, mestinya kita juga mampu menahan kalimat yang menyakiti hati. 

* 

Menjaga lisan bukan perkara mudah. Kadang kita kalah oleh emosi, tersulut oleh perdebatan, atau tergoda untuk ikut-ikutan membicarakan orang lain. Namun Ramadhan hadir sebagai pengingat: puasa bukan sekadar menahan yang halal, tetapi juga meninggalkan yang haram. 

Di sore hari menjelang berbuka, ketika tenggorokan kering dan tubuh mulai lemah, barangkali itulah saat terbaik untuk bertanya pada diri sendiri: 

Hari ini, apakah lisanku ikut berpuasa? 

Karena bisa jadi, yang paling berat dalam puasa bukanlah menahan lapar—melainkan menahan kata. 

Bakda Subuh di Laraswangi selalu terasa lebih hening di bulan Ramadhan. Kabut tipis menggantung di atas pematang sawah, ayam-ayam kampung mulai berkokok pelan, dan dari serambi mushala terdengar sisa-sisa suara orang melipat sajadah. Angin pagi menyentuh wajah dengan lembut, seakan ikut mengingatkan: hari ini kita kembali berjanji pada Allah. Menahan lapar mungkin akan terasa menjelang siang, tetapi menjaga lisan sudah dimulai sejak mata dibuka. Di desa kecil itu, orang-orang berjalan pulang dengan kepala sedikit tertunduk, membawa doa dan tekad dalam diam—semoga hari ini bukan hanya perut yang berpuasa, tetapi juga kata-kata yang keluar dari mulut mereka. 

Simorejo, 22 Februari 2026 

Bakda Subuh 

Coretanku

Rezeki Anak Sudah Allah Titipkan

Rezeki Anak Sudah Allah Titipkan

Di setiap kesempatan, di mana pun dan kapan pun kita berada, selalu ada pelajaran yang bisa dipetik. Peristiwa-peristiwa kecil sering kali menyimpan

Advertisement