Catatan Hari Ketujuh Puasa
Sejak malam pertama tarawih Ramadhan, ada pemandangan yang selalu menghangatkan hati di Masjid Nurul Islam, Bulu Simorejo. Seusai jamaah tarawih dan witir, puluhan anak usia SD/MI duduk berbaris rapi di serambi masjid, tepat di depan pintu utama.
Mereka menunggu imam tarawih keluar. Di tangan mereka tergenggam buku kegiatan Ramadhan. Satu per satu, buku itu disodorkan untuk dimintai tanda tangan. Itu adalah tugas dari sekolah mereka—bukti bahwa mereka benar-benar hadir, ikut salat berjamaah, dan belajar mencintai masjid sejak dini.
Di samping mereka, para ibu duduk menunggu. Mengawasi dengan mata penuh cinta. Tidak banyak bicara. Cukup memandangi anak-anaknya yang belajar bertanggung jawab atas kewajiban kecil yang kelak akan menjadi kewajiban besar.
Melihat pemandangan ini, hati terasa sejuk. Senyum pun tak tertahan. Ada harapan yang tumbuh di serambi masjid itu.
Ada beberapa hikmah yang dapat kita petik.
Pertama, sekolah atau madrasah ternyata tidak hanya mengajarkan ilmu di ruang kelas, tetapi juga memperhatikan ibadah siswa selama bulan Ramadhan. Pembiasaan seperti ini menjadi jembatan antara pendidikan di sekolah dan pendidikan di rumah. Anak-anak tidak hanya belajar teori tentang salat, tetapi juga mempraktikkannya.
Kedua, kegiatan ini menghidupkan kembali peran orang tua dalam mendidik anak-anak untuk melaksanakan salat. Para ibu yang setia menunggu di serambi masjid itu sedang menanam benih disiplin dan cinta ibadah di hati anak-anaknya.
Rasulullah saw. telah bersabda:
مُرُوا أَوْلاَدَكُمْ بِالصَّلاَةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرِ سِنِينَ وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِى الْمَضَاجِعِ
“Perintahkan anak-anak kalian untuk mengerjakan salat ketika mereka berumur tujuh tahun. Pukul mereka jika tidak mengerjakannya ketika mereka berumur sepuluh tahun. Pisahkanlah tempat tidur mereka.” (HR. Abu Dawud no. 495. Dinilai Shahih oleh para ulama)
Hadits ini bukan sekadar perintah, tetapi pedoman pendidikan. Shalat bukan hanya kewajiban pribadi, melainkan tanggung jawab orang tua untuk membiasakan dan menegakkannya dalam keluarga.
Di serambi Masjid Nurul Islam itu, perintah Rasulullah saw. seperti hidup kembali. Tidak dengan suara keras, tidak dengan hukuman, tetapi dengan keteladanan dan kebersamaan.
Semoga dari barisan kecil itu lahir generasi yang tidak hanya pandai meminta tanda tangan, tetapi juga kelak menjadi orang-orang yang menandatangani hidupnya dengan sujud yang panjang dan hati yang tunduk kepada Allah.
Kepohbaru, 25 Februari 2026











.png)


Komentar
Tuliskan Komentar Anda!