Catatan Hari Kedelapan Puasa
Pagi itu, selepas tilawah, suasana masih sunyi. Embun belum sepenuhnya menguap. Dalam hening yang lembut, saya menyimak ngaji online Kang Hasyim di TikTok.
Beliau mengutip sebuah kitab yang jarang disebut orang, Farhatun Nusuf, halaman 43. Di sana disebutkan enam perkara yang menjadi sebab rusaknya hati.
Bukan rusak karena tidak tahu. Bukan rusak karena tidak mengaji. Tetapi rusak karena sikap kita sendiri.
Mari kita periksa pelan-pelan.
Pertama, Gemar Berbuat Dosa, Tapi Menunda Tobat
Ada orang yang merasa tenang saat berbuat maksiat. Dalam hatinya terbersit kalimat berbahaya:
“Nanti saja kalau sudah tua, baru tobat.”
Padahal, siapa yang menjamin umur? Berapa banyak orang yang tidak sempat menua?
Menunda tobat adalah bentuk kesombongan halus kepada Allah. Seakan-akan kita yakin masih diberi waktu. Padahal ajal tidak pernah menunggu kesiapan kita.
Hati yang terus menerus berlumur dosa tanpa penyesalan, lama-lama mengeras. Dan hati yang keras, sulit menerima kebenaran.
Kedua, Senang Mengaji, Tapi Tidak Mengamalkan
Ilmu hari ini mudah didapat. Kajian bertebaran. Video dakwah tinggal klik. Namun ilmu tanpa amal hanya menjadi tumpukan beban.
Rasulullah saw. telah mengingatkan bahwa akan ada orang yang membaca Al-Quran, tetapi Al-Quran justru melaknatnya—karena ia tidak mengamalkannya.
Mengaji bukan sekadar menambah wawasan. Mengaji adalah komitmen untuk berubah.
Kalau lisan fasih menyebut ayat, tapi akhlak tak berubah, maka hati sedang dalam bahaya.
Ketiga, Beramal, Tapi Tidak Ikhlas
Ada yang sudah rajin salat. Sudah gemar sedekah. Aktif dalam kegiatan kebaikan.
Namun hatinya masih mencari pujian. Masih berharap pengakuan. Masih ingin disebut baik.
Amal tanpa ikhlas ibarat jasad tanpa ruh. Hati yang tercemar riya’ akan kehilangan rasa manis ibadah. Lama-lama, ibadah terasa berat. Karena yang dicari bukan Allah, tetapi manusia.
Keempat, Makan Rezeki Allah, Tapi Enggan Bersyukur
Setiap hari kita makan. Minum. Bernapas. Sehat. Semua dari Allah.
Namun berapa sering kita benar-benar bersyukur?
Syukur bukan hanya ucapan “Alhamdulillah.” Syukur adalah menggunakan nikmat sesuai dengan kehendak Pemberinya.
Hati yang tidak bersyukur akan selalu merasa kurang. Dan orang yang selalu merasa kurang, tak pernah benar-benar bahagia.
Kelima, Tidak Rida atas Pemberian Allah
Ada orang yang hidupnya penuh keluhan. Selalu membandingkan. Selalu merasa nasib orang lain lebih baik.
Padahal Allah membagi takdir dengan penuh hikmah.
Ridha bukan berarti pasrah tanpa usaha. Ridha adalah menerima hasil dengan lapang dada setelah berikhtiar.
Hati yang tidak rida akan mudah gelisah. Sedikit ujian terasa berat. Sedikit kekurangan terasa menyakitkan.
Keenam, Sering Menguburkan Orang Meninggal, Tapi Tidak Mengambil Pelajaran
Kita sering takziah. Sering mengantar jenazah. Sering melihat liang lahat ditutup tanah. Bahkan sering menggali liang lahat. Namun mengapa hati tetap keras?
Kematian seharusnya menjadi guru paling jujur. Ia mengingatkan bahwa dunia hanya sementara.
Jika setiap kali pulang dari pemakaman kita tetap merasa seolah hidup masih panjang dan aman-aman saja, berarti ada yang tidak beres dengan hati kita.
Mari Memeriksa Hati
Enam perkara ini bukan untuk menunjuk orang lain. Ia seperti cermin. Dan cermin tidak pernah salah—yang terlihat hanyalah pantulan diri kita sendiri.
Barangkali hati tidak rusak sekaligus. Ia retak sedikit demi sedikit. Dari dosa kecil yang dianggap biasa. Dari ilmu yang tak diamalkan. Dari keluhan yang terus diulang.
Semoga Allah menjaga hati kita. Karena bila hati baik, seluruh kehidupan akan ikut baik. Namun bila hati rusak, maka rusaklah semuanya.
Bakda Subuh ini, sebelum matahari benar-benar meninggi,
mari kita bertanya dalam diam:
Masihkah hati kita hidup?
Ataukah ia sedang pelan-pelan mengeras tanpa kita sadari?
Allahu a’lam.
Simorejo, 26 Februari 2026
(Catatan Bakda Subuh dari Ngaji Online Kang Hasyim)
_(2).png)










.png)


Komentar
Tuliskan Komentar Anda!