Ilmu yang Ditanam Saat Subuh

Ilmu yang Ditanam Saat Subuh

Catatan Kesebelas Puasa

Langit 
Laraswangi masih gelap ketika ayam jago mulai berkokok bersahutan. Udara dingin menyusup lewat celah jendela. Seusai Subuh, sebagian orang kembali merebahkan badan. Sebagian lagi memilih duduk bersila, membuka mushaf, atau menyalakan ponsel untuk menyimak nasihat para kiai.
 

Pagi tadi, dalam sunyi yang masih basah oleh embun, aku menyimak sebuah video berisi nasihat dari KH. Abdul Hannan Ma’shum, pendiri dan pengasuh Pesantren Fathul 'Ulum Kwagean. 

Beliau menyampaikan sebuah maqolah yang terasa sederhana, tetapi menghunjam: 

“Ilmu itu tinggi derajatnya, tapi berat dan sulit untuk didapatkan. Lambat merasuk ke dalam hati. Tidak bisa dipelajari dengan tidur. Tidak bisa diwariskan. Ilmu adalah hasil dari belajar. Jika tidak mau belajar, maka tunggulah masa kehancurannya. Ilmu itu seperti pepohonan. Ia ditanam di dalam hati. Jika sudah ditanam, harus terus dipelihara dan dipelajari.” 

Kalimat pertama saja sudah membuat dada terasa sesak: ilmu itu tinggi derajatnya.  Betapa banyak ayat dan hadits yang menegaskan kemuliaan orang berilmu. Namun kemuliaan itu bukan hadiah cuma-cuma. Ia bukan warisan otomatis dari nasab. Bukan pula hasil dari gelar yang terpampang di belakang nama. 

Ilmu itu berat. 

Berat karena ia menuntut waktu. Menuntut kesabaran. Menuntut pengorbanan. Ia tidak masuk ke dalam hati yang malas. Ia tidak menetap di kepala yang enggan mengulang. 

“Tidak bisa dipelajari dengan tidur.” 

Kalimat itu seperti tamparan lembut. Di zaman serba cepat ini, kita sering ingin semuanya instan. Ilmu pun kadang ingin kita dapatkan tanpa proses panjang. Padahal para ulama dahulu rela berjalan berhari-hari hanya untuk satu hadits. Rela begadang demi satu penjelasan. 

Ilmu tidak diwariskan. Anak seorang alim belum tentu alim jika ia tidak belajar. Sebaliknya, anak orang biasa bisa menjadi ulama jika ia bersungguh-sungguh. 

Dan perumpamaan yang paling indah adalah ini: ilmu seperti pepohonan yang ditanam di dalam hati. 

Bayangkan sebuah benih kecil. Ia ditanam di tanah. Ia tidak langsung menjadi pohon besar. Ia perlu disiram. Perlu sinar matahari. Perlu dijaga dari hama. 

Begitu pula ilmu. 

Saat pertama kali kita belajar, mungkin hanya setitik yang masuk. Ia belum terasa. Belum tampak buahnya. Tapi jika terus dirawat—dengan muraja’ah, dengan mengamalkan, dengan rendah hati—perlahan ia tumbuh. Akarnya menghunjam. Batangnya kokoh. Rantingnya menaungi. 

Namun jika dibiarkan? Ia bisa layu. Bahkan mati. 

Dan kalimat yang paling membuat hati bergetar adalah: 
“Jika tidak mau belajar, maka tunggulah masa kehancurannya.” 

Kehancuran itu bisa dimulai dari diri sendiri. Hati menjadi sempit. Pikiran menjadi dangkal. Mudah terseret arus. Lalu menjalar menjadi kehancuran keluarga, masyarakat, bahkan umat. 

Subuh semakin terang. Cahaya matahari mulai menyibak langit Laraswangi. Anak-anak kecil bersiap berangkat sekolah. Para petani memanggul cangkul menuju sawah. 

Di tengah rutinitas itu, nasihat pagi tadi masih terngiang. 

Ilmu harus dijemput. 
Ilmu harus dirawat. 
Ilmu harus diamalkan. 

Dan mungkin, Subuh adalah waktu terbaik untuk mulai menanamnya. 

Monggo, diri ini diingatkan lagi: jangan lelah belajar. Jangan cepat merasa cukup. Karena selama hayat masih dikandung badan, perjalanan menuntut ilmu tak pernah benar-benar selesai. 

Wallahu a’lam. 

 

Laraswangi, 01 Maret 2026 

Coretanku

Rezeki Anak Sudah Allah Titipkan

Rezeki Anak Sudah Allah Titipkan

Di setiap kesempatan, di mana pun dan kapan pun kita berada, selalu ada pelajaran yang bisa dipetik. Peristiwa-peristiwa kecil sering kali menyimpan

Advertisement