Catatan Kesepuluh Puasa
Ramadhan selalu menjadi bulan yang istimewa. Hari-harinya berjalan penuh makna, berbeda dari hari-hari biasa. Malam-malamnya diisi dengan beragam ibadah, baik yang wajib maupun sunah. Ibadah wajib dikerjakan dengan lebih bergairah, sementara ibadah sunah semakin ditambah.
Salah satunya adalah tadarus Al-Qur’an berjamaah, baik di masjid, musala, maupun di rumah—bahkan hingga larut malam.
Siangnya tetap diisi dengan aktivitas sebagaimana biasa. Ada yang bersekolah, bekerja, dan menjalankan berbagai kesibukan lainnya.
Hal itu juga berlaku di pondok-pondok pesantren. Bahkan, pada bulan Ramadhan, aktivitas para santri sering kali jauh lebih padat daripada yang kita bayangkan.
Rabu pagi, 25 Februari 2026, saya mendapat jadwal mengajar di kelas 8F. Kelas ini diisi oleh para santri Pesantren Darul Fikri, MTs Negeri 3 Bojonegoro. Selama bulan Ramadhan, kegiatan belajar mengajar memang memiliki jadwal khusus. Durasi pelajaran diperpendek, dan jam pertama dimulai pukul 07.30.
Saat memasuki kelas, saya mendapati pemandangan yang sedikit berbeda. Di dalam ruangan hanya terlihat para siswi duduk di bangku masing-masing. Sementara siswa laki-laki, hanya ada tiga orang.
Saya membuka pelajaran dengan salam, lalu membaca Surah Al-Fatihah bersama-sama. Setelah itu, saya menanyakan keberadaan siswa laki-laki yang belum tampak hadir.
“Masih belum berangkat, Pak…” jawab anak-anak perempuan hampir serempak.
Saya pun bertanya lebih lanjut, apa kiranya yang menyebabkan mereka datang terlambat. Dari situlah cerita mengalir. Beberapa siswi mulai bercerita dengan gaya khas anak-anak—lugu dan apa adanya.
Salah seorang dari mereka menceritakan kegiatan di pondok selama bulan Ramadhan.
Aktivitas mereka dimulai sejak pukul 03.00 dini hari. Para santri sudah dibangunkan untuk makan sahur, dilanjutkan salat tahajud dan muraja’ah hingga menjelang Subuh. Setelah itu, mereka menunaikan salat Subuh berjamaah, berzikir, lalu mengaji sampai matahari mulai menyingsing.
Barulah kemudian mereka mandi dan bersiap berangkat ke sekolah. Bagi yang tak kuat menahan kantuk, ada yang menyempatkan diri merem sejenak sambil menunggu giliran mandi.
Anak-anak perempuan yang telah selesai bersiap berjalan menuju kelas yang jaraknya hanya beberapa langkah dari asrama. Sesampainya di kelas, sebagian dari mereka tertidur pulas. Kepala disandarkan di atas meja. Seragam masih rapi. Mukena di kamar asrama mungkin belum sepenuhnya terlipat.
Cerita mereka berlanjut. Sepulang sekolah pukul 10.00 pagi, waktu istirahat terasa begitu singkat. Ada yang menyempatkan mencuci pakaian. Ada pula yang langsung merebahkan diri karena tak kuat menahan kantuk dan lelah.
“Hanya ada waktu istirahat dua jam itu, Pak. Itu pun digunakan untuk mencuci baju,” celoteh mereka polos.
Pukul 14.30, mereka kembali bersiap untuk jamaah Ashar. Setelah itu dirangkai dengan muraja’ah dan mengkaji kitab bersama ustaz hingga menjelang Magrib. Dilanjutkan berbuka bersama dan salat Magrib berjamaah.
Makanan belum sepenuhnya turun ke perut, azan Isya sudah terdengar lantang. Mereka harus bergegas mengambil air wudu dan berbaris di musala membentuk saf salat.
Jamaah Isya ditunaikan. Dilanjutkan salat Tarawih dan Witir yang terasa panjang bagi tubuh yang lelah. Setelah itu masih ada tadarus Al-Qur’an dan mengkaji kitab hingga larut malam. Dinginnya malam tak mereka hiraukan. Rasa kantuk harus ditahan dan dilawan.
Saya terdiam sejenak.
Di hadapan saya bukan sekadar siswa kelas delapan. Mereka adalah anak-anak yang sedang belajar menjadi kuat. Belajar mengalahkan kantuk. Belajar menahan lapar. Belajar mengatur waktu antara ibadah, sekolah, dan kebutuhan pribadi.
Setelah merasa cukup mendengarkan cerita mereka, saya mencoba menenangkan dan membesarkan hati mereka.
“Tenang. Berbahagialah, kalian adalah anak-anak istimewa. Tidak semua anak memiliki kesempatan seperti kalian. Dari ratusan siswa, hanya kalian yang menghabiskan waktu dengan Al-Qur’an, ilmu, dan ibadah. Kalian berada di lingkungan yang tepat—lingkungan yang tertata dengan baik, dari bangun tidur hingga tidur kembali.”
“Masa-masa sulit yang kalian rasakan hari ini kelak akan menjadi kenangan yang kalian rindukan. Kalian sedang menanam. Suatu saat, insyaAllah, kalian akan memanen.”
“Allah telah berjanji akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan berilmu. Maka bersabarlah. Tahanlah sedikit lelah itu. Karena lelah yang kalian rasakan hari ini bukanlah lelah yang sia-sia.”
Saya tidak tahu seberapa dalam kata-kata itu masuk ke hati mereka. Tetapi pagi itu saya belajar satu hal: ketangguhan sering kali tumbuh dalam diam.
Ramadhan memang menghadirkan pagi yang sedikit berbeda. Di balik mata yang mengantuk dan tubuh yang letih, ada jiwa-jiwa muda yang sedang ditempa. Mereka mungkin belum sepenuhnya menyadari, tetapi disiplin yang mereka jalani hari ini sedang membentuk karakter yang kelak akan menguatkan mereka di masa depan.
Sebagai guru, saya hanya bisa berdoa dalam hati:
Semoga Allah menjaga langkah-langkah kecil mereka. Semoga lelah mereka menjadi cahaya. Dan semoga Ramadhan ini tidak hanya melatih mereka menahan lapar, tetapi juga menumbuhkan kesabaran, keikhlasan, dan cinta yang semakin dalam kepada Al-Quran.
Dan pagi itu saya sadar, di tengah kantuk yang menggantung dan seragam yang mungkin masih kusut, sedang tumbuh generasi yang tidak hanya belajar matematika dan tata bahasa—tetapi sedang belajar menaklukkan diri sendiri.
Jika kelak mereka berdiri tegak sebagai orang-orang berilmu dan berakhlak, jangan lupa: fondasinya dibangun dari sahur yang terburu-buru, dari mata yang menahan kantuk, dan dari Ramadhan yang menempa mereka diam-diam.
Simorejo, 28 Februari 2026
Bakda Subuh



_(2).png)






.png)


Komentar
Tuliskan Komentar Anda!