Catatan Kesembilan Puasa
Sore ini hujan lebat mengguyur dusun kami. Butiran air jatuh deras di atas genting, seakan mengulang kembali percakapan hangat yang tadi malam masih terngiang.
Usai majelis taklim bakda tarawih, Kamis malam, 26 Februari 2026, kami—beberapa pengurus takmir masjid—berbincang santai bersama Kiai Mahrus di rumah wakil ketua takmir. Suasananya hangat, sederhana, namun penuh makna.
Kami mendiskusikan materi yang beliau sampaikan dalam kajian: tentang keutamaan puasa. Puasa adalah ibadah yang sangat istimewa dan penuh rahasia. Hanya dirinya dan Allah Swt. yang benar-benar mengetahui hakikatnya. Tidak seperti ibadah lain yang tampak secara lahir, puasa tersembunyi di dalam niat dan keteguhan hati.
Selain itu, puasa adalah ibadah yang berat. Ia membutuhkan latihan, dan latihan itu sebaiknya dimulai sejak kecil.
“Meski bekerja berat, jika sudah terbiasa puasa, akan tetap melaksanakan puasa,” tutur salah satu teman diskusi. Kalimat sederhana, tetapi dalam maknanya.
Lingkungan pun sangat memengaruhi. Seorang anak yang melihat orang tuanya tidak berpuasa, kecil kemungkinan akan tumbuh semangat puasanya. Sebaliknya, jika ia menyaksikan keteladanan setiap hari, maka nilai itu perlahan akan tertanam kuat dalam dirinya.
Di sela perbincangan hangat tersebut, pikiran saya melayang kepada anak kedua kami, Azimatun Faiqotuz Zahro. Kini ia duduk di kelas II MI, usianya 8 tahun 10 bulan. Dua bulan lagi genap 9 tahun. Ramadhan tahun ini, Azim mulai belajar puasa penuh. Siangnya tetap masuk sekolah. Alhamdulillah, ia mampu menjalaninya. Meski kadang penuh dengan drama kecil khas anak-anak—sedikit mengeluh menjelang zuhur, wajah cemberut saat melihat jajanan teman-temannya, namun tetap bertahan hingga azan magrib berkumandang.
Apa yang kami lakukan hanyalah bentuk tanggung jawab sebagai orang tua: mengajarkan salat dan puasa sejak dini. Agar kelak, ketika ia memasuki usia wajib beribadah, ia telah siap melaksanakannya—bukan karena terpaksa, tetapi karena terbiasa dan mencintainya.
Hujan sore ini seperti pengingat. Air yang jatuh setetes demi setetes, lama-lama memenuhi tanah yang kering. Begitulah latihan ibadah. Ia mungkin terasa berat di awal, tetapi jika ditanamkan perlahan, diulang setiap hari, disertai teladan dan doa, maka akan tumbuh menjadi keteguhan.
Mendidik anak dalam ibadah bukanlah pekerjaan instan. Ia seperti menanam pohon. Tidak bisa dipaksa berbuah hari ini juga. Perlu sabar, perlu konsisten, perlu keteladanan. Dan yang paling penting: perlu doa yang tak pernah putus.
Semoga Ramadhan tahun ini bukan hanya melatih perut untuk lapar dan dahaga, tetapi juga melatih hati untuk taat. Bukan hanya bagi anak-anak kita, tetapi juga bagi diri kita sendiri. Sebab sejatinya, yang sedang belajar berpuasa dengan sungguh-sungguh bukan hanya Azim—tetapi juga ayah dan ibunya.
Simorejo, 27 Februari 2026
Hujan lebat menjelang maghrib


_(2).png)







.png)


Komentar
Tuliskan Komentar Anda!