Modin, Musyawarah, dan Ikhtiar Warga Dusun

Modin, Musyawarah, dan Ikhtiar Warga Dusun

Setelah beberapa kali pertemuan rapat, hasil yang dicapai masih terasa alot. Dari empat calon modin yang diusulkan dalam rapat tiga minggu lalu, tak satu pun yang menyatakan kesanggupan. 

Alhamdulillah, pada Selasa malam, 30 Desember 2025, Pak Sutarman akhirnya terpilih secara aklamasi sebagai Modin (petugas pengurus jenazah) Dusun Bulu, Desa Simorejo, Kecamatan Kepohbaru, Kabupaten Bojonegoro. Ia menggantikan modin sebelumnya, Mbah Monadi, yang kini telah sepuh dan semakin uzur dalam menjalankan tugas tersebut. 

Rapat pemilihan dan penetapan modin dilaksanakan di serambi Masjid Nurul Islam, masjid di dusun tempat tinggal saya. Undangan rapat dibuat oleh takmir masjid sebagai bentuk ikhtiar membantu dan memfasilitasi Kepala Dusun bersama masyarakat dalam menyelesaikan persoalan ini. 

Musyawarah yang dilaksanakan ba’da jamaah Isya’ itu melibatkan berbagai unsur masyarakat. Di antaranya Kepala Urusan (Kaur), Kepala Dusun, anggota LKMD, Ketua RW, Ketua RT, Komandan Linmas beserta anggotanya, pengurus takmir masjid, serta para tokoh masyarakat. Dari 37 undangan yang disebar, sebanyak 24 orang hadir. Sementara 13 undangan lainnya berhalangan karena memiliki kegiatan lain. 

Sejak terpilihnya Kaur Kesra yang baru di Desa Simorejo, terdapat perubahan tugas pokok dan fungsi dibandingkan masa sebelumnya. Kini, Kaur Kesra tidak lagi bertugas sebagai pengurus jenazah. Tugas tersebut diserahkan kepada masing-masing dusun untuk memilih satu orang sebagai modin. Padahal sebelumnya, pengurusan jenazah juga menjadi bagian dari tugas Kaur Kesra. Kita menyadari, bergantinya kepala desa sering kali diikuti dengan perbedaan kebijakan dan penataan tugas. 

Terpilihnya modin bukan semata tentang mengisi sebuah jabatan, melainkan tentang menyiapkan amanah yang kelak akan dijalankan dalam sunyi dan keikhlasan. Mengurus jenazah bukan pekerjaan ringan, tetapi panggilan hati—mengantar sesama menuju peristirahatan terakhir dengan adab, doa, dan tanggung jawab. 

Musyawarah yang berlangsung di serambi masjid malam itu mengajarkan satu hal penting: bahwa persoalan bersama tak selalu selesai dengan cepat, tetapi akan menemukan jalan ketika dibicarakan dengan kepala dingin dan niat yang lurus. Perbedaan pendapat, keterbatasan kesanggupan, hingga keengganan yang muncul, semuanya adalah bagian dari dinamika bermasyarakat. 

Dalam gotong royong dan kebersamaan, amanah akhirnya menemukan pemikulnya. Bukan karena yang terpilih merasa paling mampu, melainkan karena masyarakat percaya dan siap mendampingi. Sebab amanah, sejatinya, tidak dipikul sendirian. Ia dijaga bersama—dengan doa, saling membantu, dan rasa tanggung jawab sebagai satu keluarga dusun. 

Simorejo, 31 Desember 2025
Bakda Jamaah Shubuh

Coretanku

Menulis, Waktu, dan Sebuah Doa di Awal Tahun

Menulis, Waktu, dan Sebuah Doa di Awal Tahun

BismillāhirraḥmānirraḥīmMengawali menulis di awal tahun, 1 Januari 2026.Buku pertama yang saya baca di awal tahun ini adalah karya Prof. Dr.

Advertisement