Catatan Ringan tentang Papan Perkalian, Ayah, dan Rapor

Catatan Ringan tentang Papan Perkalian, Ayah, dan Rapor

Senin siang, 29 Desember 2025, seorang mas kurir datang ke rumah. Ia mengantarkan paket yang saya pesan di toko oranye—pesanan yang saya check out pada 25 Desember 2025 lalu, di sela-sela kesibukan akhir tahun. 

Isi paket itu sederhana: sebuah papan tabel perkalian dan pembagian berukuran 30 x 30 cm. Harganya lima puluh ribu rupiah, sudah termasuk ongkos kirim. Benda kecil, harganya pun tak seberapa. Namun saya percaya, sering kali hal-hal besar justru berawal dari sesuatu yang tampak sederhana. 

Ketertarikan saya membeli alat peraga matematika tersebut bermula dari For You Page (FYP) TikTok yang hampir setiap hari menampilkannya secara masif. Promonya terlihat menarik dan meyakinkan. Dalam benak saya, alat peraga ini tampak cocok untuk menemani anak kami, Azimatun Faiqotuz Zahro, siswi kelas 2 MI Islamiyah Kepoh, belajar matematika di rumah—belajar dengan cara yang lebih menyenangkan, tidak melulu lewat buku dan hafalan. 

Paket itu akhirnya datang. Namun, alih-alih langsung membukanya, pikiran saya justru melayang ke sebuah peristiwa beberapa hari sebelumnya. 

Pada 20 Desember 2025, saya menghadiri undangan penerimaan rapor semester ganjil di lembaga tempat Azim menimba ilmu. Dari sekitar dua puluh dua wali murid yang hadir, hanya saya dan ayahnya si kembar yang datang sebagai bapak-bapak. Selebihnya adalah para ibu, yang dengan setia—dan barangkali sudah sangat terbiasa—mengurus urusan sekolah anak-anak mereka. 

Saya sengaja hadir menerima rapor Azim. Niat saya sederhana, tetapi sungguh-sungguh. 
Pertama, sebagai bentuk penghargaan atas undangan resmi dari lembaga pendidikan anak saya. 
Kedua, sebagai ikhtiar pribadi mengikuti program Gerakan Ayah Mengambil Rapor yang digaungkan oleh BKKBN—sebuah pengingat bahwa pendidikan anak bukan semata urusan ibu, melainkan tanggung jawab bersama. 

Wali kelas Azim bernama Pak Ayus Fajar Yoga Adiguna. Anak-anak MI Islamiyah Kepoh memanggilnya Pak Yoga. Ia adalah anak murid saya ketika duduk di bangku MTsN 3 Bojonegoro. Hehehe… Sebagai seorang guru, tentu ada rasa bangga tersendiri melihat murid tumbuh, lalu berdiri di depan kelas sebagai guru. 

Sebelum membagikan rapor, Pak Yoga memberikan pengantar. Ia melaporkan perkembangan belajar siswa kelas 2 A2 yang dibimbingnya, sekaligus berpesan agar para orang tua ikut memperhatikan perkembangan anak-anak dan mendampingi kegiatan belajar mereka di rumah. 

Selanjutnya, Pak Ayus—panggilannya saat masih duduk di bangku MTsN—memberi kesempatan kepada para wali murid untuk menyampaikan tanggapan, saran, dan masukan. 

Saya mengambil kesempatan itu. Saya menyampaikan pesan—untuk diri saya sendiri, para orang tua yang hadir, dan tentu saja untuk Pak Ayus. 

Sebagai guru matematika di MTsN 3 Bojonegoro, saya menyarankan agar siswa dibekali pemahaman matematika dasar sejak duduk di bangku SD/MI. Pada saat yang sama, orang tua juga perlu mendampingi anak-anak saat belajar di rumah. Sebab, pemahaman matematika dasar—operasi penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian—merupakan bekal fondasi yang sangat penting ketika mereka melanjutkan belajar matematika di jenjang yang lebih tinggi. 

Pengalaman saya selama membimbing siswa kelas 7 hingga kelas 9 menunjukkan satu pola yang hampir sama. Sebagian besar siswa mengalami kesulitan saat belajar matematika, bukan karena materinya terlalu rumit, melainkan karena mereka belum benar-benar menguasai operasi hitung dasar. Fondasi yang rapuh itulah yang kerap membuat langkah mereka tersendat di jenjang berikutnya. 

Papan perkalian itu akhirnya saya buka. Saya letakkan di sudut ruang belajar kecil di rumah. Bukan sekadar sebagai alat bantu berhitung, melainkan sebagai pengingat bagi diri saya sendiri. 

Bahwa menjadi ayah bukan hanya soal mencari nafkah dan memastikan anak-anak bersekolah. Ada peran lain yang kerap luput: hadir, menemani, dan membersamai proses belajar mereka—meski hanya sebentar, meski dengan cara yang sangat sederhana. 

Barangkali papan itu tidak serta-merta membuat Azim mahir berhitung. Namun saya berharap, ia menjadi saksi kecil bahwa ayahnya pernah duduk di sampingnya, menunjuk angka demi angka, belajar bersama, tertawa bersama, dan perlahan menumbuhkan rasa percaya diri. 

Sebab, rumah sejatinya adalah sekolah pertama. Dan ayah—sebagaimana ibu—adalah guru yang pertama dan utama. 

Simorejo, 30 Desember 2025
06.15 WIB 

Coretanku

Menulis, Waktu, dan Sebuah Doa di Awal Tahun

Menulis, Waktu, dan Sebuah Doa di Awal Tahun

BismillāhirraḥmānirraḥīmMengawali menulis di awal tahun, 1 Januari 2026.Buku pertama yang saya baca di awal tahun ini adalah karya Prof. Dr.

Advertisement