Simorejo - Pak Dosen Usman Roin—yang akrab disapa Pak Usron—menuliskan sebuah catatan perjalanan bersama PCNU Bojonegoro dalam sebuah agenda di Universitas Islam Malang (Unisma). Catatan itu diposting di laman blog pribadinya: dosenok.my.id. Dosen sekaligus Kepala Perpustakaan Universitas Nahdlatul Ulama Sunan Giri (Unugiri) Bojonegoro ini berkisah tentang pengalamannya berkunjung ke Perpustakaan Unisma.
Di tempat itu, ia bertemu dengan Pak Khoirul Anwar, seorang kawan baru yang ternyata berada dalam lingkaran yang sama: Asosiasi Perpustakaan Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (APPTNU). Pertemuan tersebut, sebagaimana dituturkan Pak Usron, berlangsung secara tak disengaja—ujug-ujug mak jegagik, istilah Jawa yang menggambarkan kejadian spontan namun mengesankan.
Pak Khoirul Anwar rupanya juga seorang aktivis literasi. Dalam perbincangan singkat mereka, ia bercerita bahwa dirinya memiliki taman baca di rumah. Lebih dari itu, ia menyimpan impian besar: suatu hari kelak mampu produktif menulis dan berkarya, sebagaimana para ilmuwan Islam pada masa lalu.
Klop.
Pak Usron seakan dipertemukan dengan seseorang yang memiliki hobi, kegelisahan, dan konsentrasi bidang yang sama. Sebuah perjumpaan yang terasa begitu serasi dan bermakna.
Kisah yang dituliskan Pak Usron tersebut sejatinya bukanlah kebetulan belaka. Ia memiliki keterkaitan erat dengan konsep Law of Attraction (LOA).
Law of attraction adalah hukum yang menyatakan bahwa energi—baik positif maupun negatif—yang ada dalam pikiran kita akan menarik energi serupa dari luar diri untuk masuk dan memengaruhi kehidupan kita. Pikiran yang positif cenderung menghadirkan peristiwa-peristiwa positif, sementara pikiran negatif sering kali berujung pada hasil yang negatif pula.
Konsep ini sejatinya telah dikenal sejak abad ke-19, namun semakin populer setelah dirilisnya buku dan film The Secret pada tahun 2006. Secara sederhana, law of attraction dapat dimaknai: apa yang terus-menerus kita pikirkan, itulah yang perlahan akan kita temui dalam hidup.
Karena itu, law of attraction juga kerap disebut sebagai hukum ketertarikan atau hukum manifestasi. Artinya, apa pun yang sungguh-sungguh kita inginkan—selama kita fokus, menjaga niat, dan konsisten memikirkannya—memiliki peluang besar untuk terwujud.
Ada sebuah ungkapan yang relevan dengan kisah ini:
Jika kamu ingin mengetahui siapa sejatinya dirimu, maka lihatlah dengan siapa kamu berteman.
Barangkali, pertemuan Pak Usron dan Pak Khoirul Anwar adalah salah satu cara semesta—atau lebih tepatnya, kehendak Allah—mempertemukan orang-orang dengan niat baik, kegelisahan yang sama, dan cita-cita yang searah.
Pada akhirnya, setiap pertemuan memiliki makna yang melampaui kebetulan. Dalam pandangan iman, tidak ada langkah kaki yang sia-sia, tidak ada perjumpaan yang tanpa sebab. Semua berjalan dalam skenario Allah Yang Maha Mengetahui isi hati dan niat hamba-Nya.
Ketika seseorang menjaga niat baik, merawat pikiran positif, dan menapaki jalan ilmu dengan kesungguhan, Allah kerap mempertemukannya dengan orang-orang yang sefrekuensi: sama-sama mencintai ilmu, gemar berbagi manfaat, dan saling menguatkan dalam kebaikan.
Barangkali inilah cara Allah meneguhkan langkah: mempertemukan kita dengan sahabat seperjalanan, agar ikhtiar tidak terasa sunyi dan cita-cita tidak dijalani sendiri.
Semoga setiap perjumpaan yang lahir dari niat baik menjadi wasilah kebaikan yang berkelanjutan, mengalir sebagai amal jariyah, dan bermuara pada ridha-Nya. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.
Simorejo, 11 Januari 2026
Ba’da Shubuh








.png)

.png)

_11zon.png)
Komentar
Tuliskan Komentar Anda!